Tribunners

Menyikapi Karunia Ilmu dan Hidayah

Kenikmatan yang hakiki tidaklah mungkin kita raih kecuali dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Mu’min Roup, M.A. - Peneliti dan Pengajar Hukum dan Kewarganegaraan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta 

Oleh: Dr. Mu’min Roup, M.A. - Peneliti dan Pengajar Hukum dan Kewarganegaraan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta

SEORANG pemikir dan ulama besar, Ibnu Qayyim, membagi kenikmatan hidup dalam dua kategori. Pertama nikmat mutlak (mutlaqoh) yang mengantarkan manusia kepada kenikmatan yang permanen dan abadi. Kedua, nikmat semu dan nisbi (muqayyadah), suatu kebanggaan, prestise, atau kesenangan hidup yang bersifat sekejap dan sementara.

Kenikmatan yang sejati tak lain adalah nikmat ilmu (hidayah), hingga kita dapat mengenal Islam dan sunah Rasul, kemudian berusaha untuk mengamalkannya. Dengan ilmu yang baik, kita dapat membedakan antara tauhid dan syirik, antara sunah dan bidah, bahkan antara ketaatan kepada perintah Allah ataukah kesesatan dan kemaksiatan yang dimurkai oleh-Nya.

Nikmat hidayah hanya diberikan khusus kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya, yaitu hamba-hamba yang dapat mensyukuri indahnya kehidupan ini, bukan hamba yang menganggap kehidupan ini sebagai peralihan satu episode ke episode lain yang membawa kecelakaan dan absurditas belaka. Allah telah memerintahkan kita untuk bergembira dan berbahagia dengan karunia dan rahmat yang telah Dia berikan kepada manusia (Yunus: 58). Allah juga menandaskan bahwa karunia ilmu dan agama (hidayah) jauh lebih baik lebih baik ketimbang sebanyak apa pun perhiasan dan harta kekayaan yang diperoleh dan diperjuangkan manusia.

Selain nikmat hidayah, Allah juga telah mengaruniakan kita semua nikmat akal, nikmat penglihatan, nikmat pendengaran, nikmat percakapan, serta anggota dan organ tubuh lainnya. Allah juga telah memberikan nikmat, bahwa kita diciptakan dengan sebaik-baik makhluk dari semua makhluk ciptaan-Nya (At-Tin: 4). Dengan akal pikiran, kita berkewajiban mengikuti jalan kebenaran, bermuamalat atau bertindak atas petunjuk ilmu dan hidayah Allah. Dengan demikian, Allah akan membukakan seluas-luasnya pintu barakah kepada kita dari langit dan bumi (Al-A’raf: 96).

Nikmat ilmu yang dikaruniakan Allah tercermin juga pada turunnya wahyu pertama yang memerintahkan Nabi agar membaca (iqra). Pengertian “membaca” ini mengandung arti mencermati dan menganalisis sehingga Islam memiliki nilai universal yang tidak semata-mata tentang cara beribadah dengan Tuhan, namun juga beribadah dan bermuamalat dengan makhluk-makhluk Tuhan.

Mengenal Tuhan

Semua yang berada di dunia ini hakikatnya berasal dari Allah, mulai dari makhluk hidup, benda-benda, alam semesta, dan seisinya. Dengan meningkatkan pengetahuan, kita mengenai Allah berikut sifat-sifat-Nya sehingga dengan keluasan ilmu, kita bisa mempunyai hubungan yang lebih erat dengan Allah.

Dengan keluasan ilmu, kita akan mudah menerima situasi apa pun, selalu merasa bersyukur dan dapat lebih menikmati hidup. Dengan cara mengingat Allah melalui zikir, kesusahan dan masalah yang kita hadapi dapat dipermudah, dan kita mampu melihat apa pun dari sudut pandang yang berbeda.

Dengan ilmu pula, kita akan mudah membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang semuanya akan mengandung efek dan dampak atas apa yang kita perbuat kemarin maupun hari ini. Tindakan yang disukai Allah tentu akan berefek baik di masa depan, sedangkan tindakan yang dimurkai oleh-Nya tentu akan berdampak buruk.

Keburukan atau kesedihan yang kita rasakan sering kali disebabkan tindakan buruk di masa lalu yang menghantui diri kita saat ini. Islam menawarkan konsep tobat agar kita jangan terlampau merasa terbebani oleh masa lalu, hingga merasa berat untuk melangkah ke masa depan. Dengan luasnya ampunan dan magfirah Allah, senantiasa kita berdoa dan bertobat atas kekhilafan yang pernah kita lakukan, lalu berupaya untuk memperbaiki diri mulai saat ini, demi kebaikan hidup kita di masa yang akan datang.

Nikmat Ilmu

Kebahagiaan manusia yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, kebahagiaan roh dan hati. Kebahagiaan itu tercermin ke dalam kebahagiaan ilmu yang bermanfaat. Itulah kebahagiaan abadi yang akan menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri, yaitu negeri dunia, negeri kubur (barzakh), hingga negeri akhirat.

Kenikmatan yang hakiki tidaklah mungkin kita raih kecuali dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Hanya dengan ilmu yang baik kita bisa mengenal Islam yang benar, kemudian bergembira dalam mengamalkan ajarannya. Ketika Allah memberikan hidayah kepada kita untuk bersemangat dan konsisten dalam menuntut ilmu, menghadiri majelis taklim, membaca buku atau situs-situs yang menebarkan kebaikan, hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah benar-benar menghendaki kebaikan untuk kita. Terkait dengan ini, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”

Lalu, bagaimana dengan nikmat harta atau kekuasaan? Ternyata hal tersebut bukanlah tanda bahwa Allah mencintai hamba-Nya. Karena, nikmat harta maupun kekuasaan, Allah juga berikan kepada mereka yang ingkar dan durhaka kepada-Nya. Demikian pula dengan nikmat sehat, ketenaran, anak-anak maupun istri yang cantik, semuanya itu hanyalah kenikmatan semu dan nisbi, jika manusia tidak sanggup mensyukurinya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved