Kamis, 9 April 2026

Kisah Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta Hingga Pertemuan Terakhir sang Proklamator

Persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang dikenal sebagai Dwitunggal, ternyata harus mengalami liku-liku dan perpisahan yang menyedihkan.

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: Teddy Malaka
Dok/Istimewa
Soekarno Hatta 

BANGKAPOS.COM--Ingat Bung Karno dan Bung Hatta dua tokoh proklamator Indonesia.

Keduanya menjalin persahabtan bahu membahu menjadikan Indonesia merdeka.

Namun dibalik persahabatan keduanya, ada kisah pilu hingga akhir hayatnya bung Karno.

Persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang dikenal sebagai Dwitunggal, ternyata harus mengalami liku-liku dan perpisahan yang menyedihkan.

Meskipun awalnya dikenal sebagai satu kesatuan, perbedaan pandangan mendasar terkait negara membuat mereka terpaksa menjadi Dwitanggal.

Bung Karno dan Bung Hatta, yang sebelumnya diibaratkan sebagai Dwitunggal, akhirnya harus berpisah karena perbedaan mendasar dalam pandangan mereka terkait negara.

dikutip dari Intisarigird.id, Wawan Tunggul Alam menyebutnya sebagai peralihan dari Dwitunggal menjadi Dwitanggal, di mana perbedaan tidak hanya terbatas pada bentuk negara, tetapi juga mencakup prinsip revolusi, prinsip ekonomi, dan aspek lainnya.

Pada tahun 1955, Indonesia menggelar pemilihan umum pertamanya sejak merdeka.

Bung Hatta melihat pemilihan umum sebagai instrumen demokratis untuk merefresh pemerintahan, dengan harapan bahwa hasilnya akan membawa pergantian pejabat-pejabat negara.

Namun, perkembangan demokrasi tidak sesuai harapan, dan perbedaan pandangan antara Bung Karno dan Bung Hatta semakin nyata.

Bung Hatta, yang melihat sikap Bung Karno yang melanggar Undang-Undang Dasar 1945, memberikan masukan yang tidak dihiraukan.

Berbagai masukan Bung Hatta, dari yang lunak sampai yang amat keras diabaikan begitu saja.

Pada sisi lain, sikap-sikap partai politik juga mengecewakan.

Mereka saling menyerang dan bertengkar secara tidak sehat.

Wakil partai yang duduk di pemerintahan tidak menunjukkan sebagai staatsman (negarawan) tetapi lebih memperlihatkan sebagai partijman (orang partai).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved