Jumat, 17 April 2026

Kisah Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta Hingga Pertemuan Terakhir sang Proklamator

Persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang dikenal sebagai Dwitunggal, ternyata harus mengalami liku-liku dan perpisahan yang menyedihkan.

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: Teddy Malaka
Dok/Istimewa
Soekarno Hatta 

Mereka yang duduk di kursi kekuasaan mengambil sikap mementingkan politik dan aspirasi partai ketimbang memikirkan nasib bangsa dan negara.

Posisinya sebagai wakil presiden hampir hanya menjadi simbol belaka karena kekuasaan presiden sangat besar.

Perbedaan pandangan mencapai puncaknya pada tanggal 1 Desember 1956, di mana Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden, dan Dwitunggal berubah menjadi dwitanggal.

Setelah mundur dari pemerintahan, Bung Hatta menghadapi kesulitan.

Buku berjudul "Demokrasi Kita" yang diterbitkan pada tahun 1960, dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung karena dianggap banyak mengkritik Bung Karno.

Bung Hatta melalui buku tersebut memberi ketegasan secara terang mengapa ia memilih mundur dari pemerintahan.

Dia ingin memberikan kesempatan kepada karibnya, Bung Karno untuk membuktikan sendiri benar-salahnya konsepsi yang dirumuskannya.

"...bagi saya yang lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance dalam waktu yang layak kepada Presiden Sukarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan...," tulis Bung Hatta.

Meskipun begitu, Bung Hatta tetap teguh pada prinsipnya dan memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk membuktikan benar-salahnya konsepsi yang dirumuskannya.

Pada tahun yang sama, status Bung Hatta sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dicabut, dan ia dihadapkan pada berbagai hambatan.

Beberapa tindakan pembatasan, seperti larangan mengajar dan pembatasan ruang gerak, menimpa Bung Hatta.

Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, tahun 1966.
Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, tahun 1966. (Kompas.com)

Meskipun tidak jelas apakah perintah ini berasal langsung dari presiden atau hanya tindakan para pembantunya yang berlebihan, Bung Hatta tetap gigih.

Sebagai contoh, pada suatu ketika Bung Hatta melalui sekretaris pribadinya, Wangsa Widjaya, menyampaikan kepada Supeni (orang dekat Bung Karno dan staf di Deplu) bahwa beliau diundang menghadiri suatu konferensi internasional di Wina.

Tetapi Menteri Luar Negeri Subandrio memberitahu bahwa Presiden Soekarno tidak setuju kalau Bung Hatta menghadiri acara tersebut.

Supeni akhirnya menanyakan hal tersebut kepada Soekarno.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved