Selasa, 21 April 2026

Kisah Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta Hingga Pertemuan Terakhir sang Proklamator

Persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang dikenal sebagai Dwitunggal, ternyata harus mengalami liku-liku dan perpisahan yang menyedihkan.

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: Teddy Malaka
Dok/Istimewa
Soekarno Hatta 

Saat itu, Bung Karno yang sudah lemah koma tiba-tiba tersadar ketika Bung Hatta datang.

Dalam bahasa Belanda, mereka saling bertanya kabar satu sama lain, mengingatkan pada masa-masa perjuangan kemerdekaan.

Air mata pun tak terbendung saat keduanya saling berpegangan erat.

Dengan hati-hati, Hatta menghampiri sahabat yang telah terbaring lemah itu.

Soekarno yang semalam koma pun tiba-tiba tersadar begitu Hatta datang.

"Hatta... kau di sini?" ujar Soekarno dengan lirih.

"Ya, bagaimana keadaanmu, No?" jawab Hatta.

Bung Hatta
Bung Hatta (Intisari-online.com)

Hati Hatta teriris melihat sahabatnya itu terbaring tak berdaya.

Dengan berusaha menyembunyikan kepedihannya, ia kemudian mengelus pelan tangan Soekarno.

"Hou gaat met jou?" lanjut Soekarno, masih dengan nada lirih.

Dalam bahasa Indonesia ucapan itu berarti bagaimana kabarmu.

Hatta yang mendengar ucapan itu pun tak kuasa menahan air matanya lagi.

Ucapan dalam bahasa Belanda itu telah mengingatkannya pada memori masa lalu.

Di mana keduanya masih bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Apalagi, ditambah dengan isakan Soekarno setelah ia mengucapkan pertanyaan itu.

Hatta yang dikenal kaku dan tak pandai memperlihatkan perasaannya itu akhirnya tak kuat lagi membendung air matanya.

Kedua sahabat itu saling berpegangan erat sambil bertukar air mata.

"No," hanya itu kata yang sanggup diucapkan oleh Hatta.

Kemudian, ia pasangkan kacamata pada sahabatnya itu.

Soekarno yang memintanya.

Agar ia dapat melihat sahabatnya dengan lebih jelas.

Keduanya pun saling menatap tanpa ada sepetah kata pun terluntar dari mulut mereka.

Saat itu, tidak ada lagi perbedaan politik di antara keduanya.

Hatta pun menyadari bahwa, waktu yang tersedia bagi sahabatnya itu sudah tidak lama lagi.

Keesokan harinya, Soekarno pun pergi untuk selama-lamanya.

Bahkan, hingga akhir hayatnya pun, Soekarno harus bertemu dengan sahabatnya, Hatta, terlebih dahulu.

Persahabatan yang patut dijadikan teladan bagi putra putri bangsa.

Dwitunggal telah selesai melaksanakan tugas sejarahnya.

Kedua sahabat itu akan senantiasa dikenang oleh bangsa ini.

Begitulah kisah pilu persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta, dari Dwitunggal menjadi Dwitanggal.

Artikel ini telh diolah dari IntisariGrid.id

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved