Bangka Belitung Memilih

Dua Ketua Legislatif di Babel Kalah Suara, Pengamat Singgung Soal Janji Politik ke Masyarakat

Fenomena politik kemungkinan gagalnya dua ketua legislatif di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meraih suara terbanyak

|
Penulis: Sepri Sumartono | Editor: nurhayati
istimewa
Akademisi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung, Ariandi Zulkarnain. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Fenomena politik kemungkinan gagalnya dua ketua legislatif di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meraih suara terbanyak di partai dan dapil masing-masing bisa dinilai disebabkan berbagai hal.

Pengamat Politik di Bangka Belitung, Ariandi Zulkarnain menilai ada beberapa persoalan mendasar yang mengakibatkan hal tersebut. 

Menurutnya, ketika ketua legislatif sudah menjabat seharusnya sangat mudah terhubung kepada publik, baik dalam kegiatan atau program-program yang dijalankan sebagai bagian dari kerja-kerja politik di lembaga saat ini. 

"Tapi kemudian mengapa terjadi penurunan, tentu kita bisa melihat bahwa merawat konstituen politik jadi satu hal yang penting dalam jenjang waktu tertentu," kata Ariandi, Jumat (23/2/2024). 

Ariandi menegaskan, inkumben tidak bisa hanya menjumpai konstituen dalam kurun waktu lima tahunan saja. 

Namun etika sudah menjabat maka publik layak melihat dan mengevaluasi hasil kinerja yang dilakukan sehingga dalam pemilu mendatang masyarakat bisa menentukan pilihan dengan cara menilai lima tahun belakangan sebagai aspek personal. 

Lalu, ada beberapa aspek lain yang perlu disoroti seperti modal yang perlu diperkuat dalam ruang kepemiluan. 

Dalam konteks ini, modal politik di dalam kepartaian sehingga tetap mampu memposisikan diri baik sebagai bagian dari kerja-kerja ideologis partai atau kerja-kerja yang dibutuhkan publik. 

Publik butuh melihat apakah modal personal yang inkumben ketua legislatif utuh sebagai modal politik yang cukup baik dalam pemilu yang akan datang .

"Dan itu sangat diuntungkan kepada mereka yang menjadi inkumben," katanya. 

Kedua, ada modal sosial, kepercayaan dan jaringan-jaringan sosial yang butuh dibangun.  

Kebanyakan dari inkumben setelah menjabat tidak merawat konstituen, tidak menjalankan program dengan baik, tidak kemudian menjumpai masyarakat dan tidak menyelesaikan janji-janji politiknya sehingga publik melihat adanya kesamaan antara satu caleg dengan caleg yang lain. 

"Ini persoalan, seharusnya dia punya modal lima tahun itu untuk diakumulasikan ke ruang politik yang akan datang baik modal sosial, kapital atau finansial," ungkap Ariandi.

(Bangkapos.com/Sepri Sumartono)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved