Jumat, 24 April 2026

Ramadhan 2024

Download Jadwal Puasa Ramadhan 2024 Wilayah Manado, Ternate, Ambon

Jadwal imsakiyah puasa Ramadhan 1445 H/2024 M berdasarkan jadwal yang dirilis Muhammadiyah untuk wilayah Manado, Ternate, Ambon dan sekitarnya.

|
Penulis: Fitriadi | Editor: fitriadi
https://bimasislam.kemenag.go.id/jadwalimsakiyah
Ilustrasi puasa Ramadhan 1445 H / 2024 M. Artikel ini menyajikan jadwal imsakiyah puasa Ramadhan 1445 H/2024 M berdasarkan jadwal yang dirilis Muhammadiyah untuk wilayah Manado, Ternate, Ambon dan sekitarnya. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Berikut jadwal imsakiyah puasa Ramadhan 1445 H/2024 M berdasarkan jadwal yang dirilis Muhammadiyah untuk wilayah Manado, Ternate, Ambon dan sekitarnya.

Jadwal imsakiyah yang dirilis Muhammadiyah bisa didownload di bagian akhir artikel ini.

Seperti diketahui, Muhammadiyah sudah menetapkan awal puasa Ramadhan 1445 H jatuh pada Senin (11/3/2024).

Muhammadiyah juga telah merilis jadwal imsakiyah puasa Ramadhan 1445 H lengkap sebulan penuh untuk setiap daerah ibu kota provinsi dan sekitarnya di Indonesia.

Penetapan awal Ramadhan oleh Muhammadiyah berdasarkan hasil perhitungan secara astronomis atau hisab hakiki wujudul hilal Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 2024 Muhammadiyah, NU dan Pemerintah Jatuh Pada Tanggal Berapa

Menurut PP Muhammadiyah, pada Minggu (10/3/2024) atau bertepatan dengan 29 Syakban 1445 H, ijtimak menjelang Ramadhan 1445 H telah terjadi pada pukul 16.07.42 WIB.

Ijtimak adalah saat berakhirnya Bulan sebelumnya dan munculnya Bulan baru dalam penanggalan Hijriah.

Muhammadiyah menyebut, Bulan saat Matahari terbenam di Yogyakarta pada hari itu sudah berada di atas ufuk, sehingga dapat menjadi penanda awal bulan.

Pada waktu yang sama, Minggu, Bulan di banyak wilayah Indonesia juga berada di atas ufuk atau hilal sudah wujud.

Namun, kondisi Bulan ini dikecualikan untuk beberapa wilayah Indonesia Timur, seperti Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Sementara itu, ormas Islam lainnya yakni Nahdlatul Ulama (NU) termasuk pemerintah RI belum menentukan kapan 1 Ramadhan 1445 H dimulai.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) secara nasional baru akan menentukan Ramadhan dengan melakukan pemantauan hilal dan sidang isbat pada hari Minggu 10 Maret 2024.

1 Ramadhan 2024 Diprediksi Berbeda

Awal Ramadhan 1445 H diprediksi berbeda antara pemerintah dan ormas Islam seperti Muhammadiyah.

Prediksi ini mengacu hasil perhitungan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) dan pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), hilal penentu 1 Ramadhan 2024 tidak mungkin terlihat pada 29 Syakban 1445 Hijriah atau Minggu (10/3/2024).

Awal puasa Ramadhan 1445 H diperkirakan akan jatuh pada Selasa (12/3/2024), sesuai posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya.

"Untuk awal Ramadhan tahun ini, dengan memperhatikan posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya, secara pengalaman atau tajribah, hilal tak mungkin dapat dirukyat pada Ahad sore 10 Maret," ujar Kepala LF PBNU Sirril Wafa, dikutip dari NU Online, Jumat (23/2/2024).

Wakil Sekretaris LF PBNU Marufin Sudibyo menjelaskan, awal Ramadhan akan terjadi jika pemantauan hilal (rukyah hilal) melaporkan keterlihatan Bulan sabit yang sahih.

"Sebaliknya, apabila tidak ada laporan yang sahih, dengan merujuk pada Keputusan Muktamar Ke-34 NU di Lampung maka bulan Syakban 1445 H akan digenapkan 30 hari (ikmal)," papar Marufin, saat dihubungi Kompas.com, Senin (26/2/2024).

Ketinggian hilal Ramadhan 2024 belum memenuhi kriteria Menurut Marufin, LF PBNU secara resmi menggunakan kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama atau kriteria IRNU sebagai ambang batas keterlihatan hilal.

Kriteria IRNU adalah ambang batas posisi Bulan, di mana hilal berpotensi dapat dilihat, terutama melalui moda kasat teleskop dan kasat kamera.

"Ambang batas tersebut terjadi manakala tinggi hilal mar’ie minimal 3 derajat dan elongasi hilal haqiqy minimal 6,4 derajat," kata dia.

Pada batas tersebut, cahaya hilal sebagai pantulan cahaya Matahari oleh bagian cakram Bulan yang menghadap ke Bumi, terbukti lebih kuat dan lebih kontras dibanding cahaya senja yang mewarnai langit latar belakangnya.

Cahaya yang lebih kuat dan lebih kontras, kata Marufin, merupakan kunci keterlihatan hilal dan benda-benda langit lain pada saat senja setelah Matahari terbenam.

"Jadi, angka-angka tersebut bukan angka-angka asal comot. Namun, memiliki landasan pengetahuan fisis optika di baliknya," ucapnya.

Selain telah memenuhi kriteria IRNU, kredibilitas laporan pemantauan hilal juga harus ditunjang oleh faktor meteorologis. Di antaranya, titik pemantauan tidak hujan, langit barat tidak tertutupi mendung, dan ufuk barat masih bisa mendeteksi Matahari menjelang terbenam.

"Untuk rukyah dengan moda kasat kamera, kredibilitas laporan juga harus melalui analisis geometri citra," papar Marufin.

Marufin menambahkan, posisi hilal pada Minggu (10/3/2024) petang di seluruh Indonesia memiliki tinggi kurang dari 3 derajat dan elongasi kurang dari 6,4 derajat.

"Secara keilmuan, kami di Lembaga Falakiyah PBNU sudah bisa memprakirakan hasilnya. Akan tetapi, sesuai dengan etika maka keputusan formal terkait hal tersebut menanti hasil rukyah hilal pada Ahad 10 Maret mendatang," tuturnya.

Penampakan Hilal Masih Sangat Kecil

Koordinator Bidang Tanda Waktu BMKG Himawan Widiyanto menjelaskan, keterlihatan hilal pada Minggu (10/3/2024), masih sangat kecil, sekitar kurang dari nol derajat.

Ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Maret 2024 berkisar antara minus 0,33 derajat di Jayapura, Papua sampai 0,87 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Sementara elongasi hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Maret 2024 berkisar antara 1,64 derajat di Denpasar, Bali sampai 2,08 derajat di Jayapura.

Tinggi dan elongasi tersebut, menurut Himawan, belum memenuhi kriteria baru sebagaimana ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria baru MABIMS mengharuskan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

"Jika dilihat dari peta ketinggian hilal dan kriteria MABIMS yang baru, maka pemerintah akan menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1445 H pada tanggal 12 Maret 2024," jelas Himawan, Jumat (23/2/2024).

"Kita tunggu keputusan dari lembaga yang berhak memutuskan kapan tanggal 1 Ramadhan, yaitu dari Kementerian Agama Republik Indonesia," imbuhnya.

Tiga Tahapan Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadhan

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Adib, mengatakan, Sidang Isbat akan dibagi menjadi tiga tahap.

Pertama, pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1445 H berdasarkan hasil hisab (perhitungan astronomi).

Pemaparan akan dilakukan Tim Hisab dan Rukyat Kemenag mulai pukul 17.00 WIB.

"Sesi ini terbuka untuk umum dan akan disiarkan secara live di Channel Youtube Bimas Islam," ujar Adib.

Kedua, Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1445 Hijriah yang digelar secara tertutup setelah Salat Magrib.

Selain data hisab (informasi), sidang isbat juga akan merujuk pada hasil rukyatulhilal (konfirmasi) yang dilakukan Tim Kemenag pada 134 lokasi di seluruh Indonesia.

Kemudian, ketiga konferensi pers hasil sidang isbat yang disiarkan melalui media sosial Kemenag.

"Tahap ketiga, konferensi pers hasil sidang isbat yang juga disiarkan melalui media sosial Kemenag," katanya.

Berikut jadwal lengkap puasa Ramadhan 1445 selama satu bulan penuh untuk daerah Makassar, Mamuju, Kendari, Palu dan Gorontalo dilansir dari suaramuhammadiyah.id:

Jadwal imsakiyah Manado, Download di sini

Jadwal imsakiyah Ternate, Download di sini

Jadwal imsakiyah Ambon, Download di sini

(Bangkapos.com/Kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved