Kamis, 16 April 2026

Ramadhan 2024

Mutiara Ramadhan: Memelihara Kontinuitas Kesucian Iman dan Amal Ibadah Pasca Ramadhan

Menjelang akhir Ramadhan seharusnya kita mempergiatkan pendekatan diri kepada Allah dengan lebih rajin tilawah Al-Qur’an, bershodaqoh dan ibadah...

Istimewa
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Babel, Prof. Dr. Zayadi Hamzah, M.Ag. 

Oleh. Prof. Dr. Zayadi Hamzah, M.Ag -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Babel

BAMGKAPOS.COM, BANGKA -- Secara fenomenal ada dua gejolak yang menyelimuti hati orang-orang mukmin ketika akan berakhirnya bulan ramadhan yaitu gejolak hati diselimuti kesedihan karena Ramadhan denga segenap identitas kemuliaannya sebagai bulan rahmat, bulan maghfiroh dan bulan dilipatgandakannya pahala ibadah, akan pergi meninggalkan kita semua. Kesedihan ini diringi pula khehawatiran belum tentu Allah SWT mempertemukan dengan ramadhan yang akan datang. Suatu riwayat menyebut bahwa Rasulullah dan para sahabat justru menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam ketika akan berpisah dengan bulan penuh ampunan.

Kondisi tersebut terekam dalam sebuah riwayat. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW." Kemudian seorang sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah SAW lalu menjawab, "Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa dihentikan." (Diriwayatkan dari Jabir). Begitu dahsyat dan bernilainya Ramadhan sehingga Nabi mengambarkan kepergiannya dengan sebutan musibah.

Satu hadits dari Ibnu Abbas yang mampu menggugah kesadaran umat Islam melalui sabda yang artinya " (HR Ibnu Abbas). Kondisi seperti lah yang dialami nabi para sahabat ketika akan berpisah dengan ramadhan. Nabi dan para sahabat nampaknya tidak mementingkan kesenangan lahiriah semata dalam menjalankan hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Bagi orang yang beriman dan bertaqwa tidak ada perpisahan yang lebih mengharukan daripada perpisahan dengan Ramadhan. Di dalamnya kita semua dihantarkan secara perlahan menuju titik fitrah. Yaitu, titik penciptaan kita yang bersih dan suci.

Kemudian pada sisi lain ada gejolak kegembiraan karena umat Islam akan merayakan Idul Fitri yaitu hari kemenangan bagi umat Islam dengan kembalinya manusia kepada fitrah kesucian tanpa lebelisasi dosa. Dengan rasa haru dan penuh keikhlasan, kita semua telah melewati dan memisahkan kita dengan bulan Ramadhan yang dipenuhi rahmat dan ampunan. seraya memanjatkan doa keharibaan Allah agar dapat dapat dipertemukan kembali dengan mendatang.

Menjelang akhir Ramadhan seharusnya kita mempergiatkan pendekatan diri kepada Allah dengan lebih rajin tilawah Al-Qur’an, bershodaqoh dan ibadah-ibadah lainnya. Akan tetapi dalam manifestasi kegembiraan sisi ini, kita menyaksikan realitas sosial yang terjadi di masyarakat bahwa masyarakat disibukkan dengan aktivitas-aktivitas dunia, seakan memindah aktivitas masjid menuju mal-mal, pasar tradisional serta toko pakaian. 

Islam mengajarkan kita dalam surat Alfurqan 68 yang artinya "Dan termasuk hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih, orang-orang yang apabila menginfaqkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, diantara keduanya secara wajar "Ayat ini membimbing kita supaya bijak dalam berbelanja dengan tidak kikir dan tidak berlebihan (boros), karena tidak jarang terjadi barang di beli tidak dimakan dan mubazzir, belanja sesuai basis kebutuhan, bukan berbasis keinginan.

Sejak terbenam matahari pada sore hari ini tanggal 30 Ramadhan menurut sebagian dari saudara kita (khususnya saudara-saudara kita dari Muhamadiyah) dan tanggal 29 Ramadhan (masih menunggu keputusan pemerintah Rebublik Indonesia) menandakan bahwa kita umat Islam telah memasuki 1 syawal 1445 H yaitu hari raya Idul Fitri. Artinya telah terjadi siklus pergantian bulan dalam proses peredaran tahun. Proses ini merupakan suatu hal yang biasa dalam sunnatullah. Akan tetapi ada makna mendalam dan pembelajaran penting dengn siklus pergantian ramadhan dengan bulan syawal, karena selama bulan ramadhan umat Islam berkompetisi meraih prestasi ketaatan ibadah dan mengerjakan kebaikan menuju tumpukan pahala untuk mencapai derajat taqwa.

Sedangkan bulan Syawal merupakan bulan untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai ramadhan yang telah dijalani. Umat Islam dituntut untuk terus meningkatkan iman dan amal ibadahnya, kendatipun Rama dhan telah meninggalkan kita.

Spritulitas ramadhan dalam ketaatan beribadah terus menerus mengalir pada bulan-bulan pasca Ramadhan. Perjalanan ibadah dan peningkatan ketaatan beribadah yang istiqomah dikerjakan pada bulan Ramadhan sejatinya terwujud pada 11 bulan pasca ramadhan.

Ada pertanyaan yang merisihkan kita, apakah puasa dan amal ibadah yang kita jalankan diterima Allah SWT ketika keikhlasan kita terganggu dengan ambisi-ambisi keduniaan.

Terkadang kita bertanya dalam relungan hati yang paling dalam, apakah ada peningkatan ibadah, perbaikan akhlak dan penambahan wawasan keagamaan kita antara satu ramadhan dengan Ramadhan berikut ? Bila hati sanubari kita ragu menjawabnya, maka butuh muhasabah diri terhadap diri kita.

Banyak ditemukan orang lancang berkata bulan Ramadhan bulan suci, tetapi kita tidak menemukan kelakuannya dan perilakunya menunjukkan bahwa dia mensucikan ramadhan, ada juga yang dengan berani menyebut bulan ramadhan adalah bulan mulia, tetapi akhlaknya selama ramadhan tidak menampilkan akhlakul karimah antar sesame apalagi pasca ramadhan.

Bila sesorang muslim sebelum dan sesudah ramadhan (11 bulan pasca Ramadhan) kualitas ketaqwaannya tidak menunjukkan pebedaan yang signifikan dalam ketaatan dan beribadah yang terwujud dalam kesolehan individu maupuan kesolehan sosial (hablum minallah dan hablum minannas), menjadi indikasi amal ramadhannya sia-sia. Pada hal Allah SWT telah membuka jalan agar umat Islam lebih mudah meningkatkan ketaqwaannya melalui ramadhan. Sejatinya berakhirnya Ramadhan kita mampu mempertahankan ibadah dan amal saleh kita baik secara kualitas maupun kuantitas.

Para salafush shalih senantiasa fokus dalam menyempurnakan dan menekuni amalan ibadah dan memfokuskan perhatian agar amalan mereka diterima karena khawatir amalannya ditolak. Dalam kaitan ini Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebut  "tanda diterima amal di sisi Allah adalah ketika satu ketaatan menuntunnya pada ketaatannya yang lebih baik baik lagi. Adapun tanda amal di tolak amal seseorang adalah ketika ketaatan disusul dengan maksiat".

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved