Tribunners
Mendidik Hati - Bagian 2
Hati adalah mikrokosmosnya alam semesta yang makrokosmos; miniaturnya alam semesta yang ada pada diri manusia.
Oleh: Rahman Azim
Pengawas Sekolah (Pengawas Pendidikan Agama
Islam) Kantor Kementerian Agama Kab. Bangka
Hati manusia memang terletak dalam rongga dada
yang sempit. Namun demikian ia merupakan tempat
bernaung segala macam asa dan rasa daripada rohani,
bahkan seisi dunia ini. Hati adalah mikrokosmosnya
alam semesta yang makrokosmos; miniaturnya alam
semesta yang ada pada diri manusia.
Hati: Rumahnya Al-Tauhid
Fitrah manusia diciptakan oleh Allah Ta'ala
adalah dalam keadaan iman-tauhid, dimana Lubb
(inti-hati-terdalam) merupakan rumahnya, meski
manusia juga dibekali akal dan nafsu sebagai
pelengkap kesempurnaannya yang berfungsi sebagai
penyeimbang potensi yang terkandung pada dirinya
(al-nafs, jiwa).
Jika hati cenderung kepada kebaikan dan kebenaran
(Islam-Iman-Cinta-Ma'rifat-Tauhid), akal justru
berfungsi netral. Namun nafsu, karena diciptakan dari
alam hewaniyah, cenderung berfungsi mengajak hati
kepada keburukan dan kesesatan, menjauh dari Allah
Ta'ala.
Maka untuk tetap berada pada jalur sebenarnya
(Al-Haqq), jiwa (al-nafs) maupun akal haruslah kembali
pulang ke rumahnya, yakni hati, agar tak tersesat
karena terkadang mengikuti jalannya nafsu yang
cenderung mengajaknya ke dunia hewaniyah.
Agar tetap berfungsi dan dapat digunakan
sebagaimana mestinya, sepeda motor butut yang
biasa saya gunakan untuk kerja ke kantor atau guna
jumpa dengan para Guru Agama pun tentu butuh
perawatan (maintenance). Demikian pula dengan hati.
Kira-kira begitulah logikanya.
Ibarat rumah tempat tinggal, hati pun butuh perawatan
tersendiri. Bukan hanya supaya tetap layak ditempati,
namun juga agar hati tetap dapat memantulkan
cahayanya.
Guna kembali serta menjaga hati itu juga, maka jangan
heran dalam banyak kesempatan jika orang tua kerap
nasihati anaknya ketika menghadapi berbagai situasi
dengan kata-kata: "HATI-HATI lah anakku".
Tentu tak sedikit makna yang boleh direnung
dari nasihat tersebut. Boleh jadi ia dimaknai agar
anaknya hati-hati di jalan, hati-hati dalam mengambil
keputusan, dan lain sebagainya. Namun boleh jadi ia
juga dapat dimaknai secara kiasan, metaforis, bahkan
filosofis.
Tuan Guru Baturusa pernah berkata: "HATI-HATI lah
hidup di dunia ini". Ketika ditanya apa maksudnya?
Tuan Guru pun menjawab: "Maksudnya adalah HATI
yang pertama, yakni H, adalah Hati; A, Adalah; T,
Tempat; I, Iman. Sedangkan HATI yang berikutnya: H,
adalah Hati; A, Adalah; T, Tempat; I, Iblis."
Singkatnya, HATI-HATI = Hati Adalah Tempat Iman -
Hati Adalah Tempat Iblis.
Ini artinya, dalam hati manusia sesungguhnya ada dua
kekuatan yang selalu berebut mengambil tempat di
dalamnya, yakni kekuatan Islam-Iman-Cinta-Ma'rifatTauhid (dekat dengan Tuhan, yang juga dekat dengan kebenaran) di satu sisi, dan kekuatan Iblis (ankara
murka) yang cenderung bernaung dalam nafsu Bani
Adam di sisi yang lainnya--jika ia tak merawat hatinya
itu.
Karenanya Imam Al-Ghazali menggolongkan hati
manusia kepada tiga kelompok: qalbun salîm (hati
yang selamat; sehat); qalbun marîdh (hati yang sakit);
dan qalbun mayyit (hati yang mati).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231102-Rahman-Azim-pengawas-sekolah-Depag-Bangka.jpg)