Tribunners

Mendidik Hati - Bagian 2

Hati adalah mikrokosmosnya alam semesta yang makrokosmos; miniaturnya alam semesta yang ada pada diri manusia.

Editor: fitriadi
Dokumentasi Pribadi Rahman Azim
Rahman Azim 

Maka, agar tetap terjaga dari godaan Iblis dan nafsu
yang cenderung mengarahkan kepada hal maksiat
atau bertentangan dengan kehendak Allah Ta'ala
sehingga hati pun menjadi tak sakit atau mati, maka
orang harus sering-sering kembali kepada hati untuk
menengok dan merawatnya. Bagaimana caranya?

Karena hati adalah makhluk yang diciptakan, maka
dekatkan ia dengan Sang Penciptanya, yakni dengan
Dzikrullāh. Tujuannya, agar dia tetap terawat sehingga
terus dapat berfungsi seperti sediakala laksana di awal
perjumpaannya dengan Sang Penciptanya saat awal
mula ditiupnya ruh terdahulu:

Wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim
żurriyyatahum wa asy-hadahum 'alā anfusihim, a
lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ
yaumal-qiyāmati innā kunnā 'an hāżā gāfilīn
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari
sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini
Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan
kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap
ini” (Qs. al-A'raf/7: 172).

Penggunaan hati untuk melihat Kebenaran adalah
keniscayaan, karena (secara internal) dari sanalah
cahaya penerang kehidupan dunia ini (Islam, Iman,
Cinta, dan Tauhid) juga berasal--meskipun secara
eksternal (wahyu Allah berupa al-Qur'an dan RasulNya)
menguatkannya. Karena sama halnya dengan wahyu
Allah SWT, hati pun sama-sama berasal dari "langit".

Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (dalam Tudjimah, 1961:
226), menjelaskan:

Ibn Umar berkata, bahwa Nabi pernah ditanya oleh
seorang sahabat: "Allah itu dimana? Di bumi atau di
langit?" Maka jawab Nabi s.a.w: "Dalam hati hambaNya
yang mu'min".

Mengapa Harus Gunakan Mata Hati?

Hidup adalah takdir, sedangkan menjalani hidup
adalah pilihan. Maka semua pilihan pasti ada
konsekuensinya.

Pepatah Arab mengatakan, "Sebagaimana yang Anda
perbuat, seperti itu pula lah Anda akan mendapatkan
balasannya".

Sesungguhnya masih ada kehidupan yang justru abadi
usai Yaumul Ula (Hari Dunia) ini. Dialah Yaumul Akhir
(Hari Akhirat, Hari Pembalasan). Yakni hari dimana
manusia kekal di dalamnya.

Nabi s.a.w. juga pernah ditanya oleh seorang sahabat
lagi: "Siapakah yang terbaik dari semua manusia
ini?" Maka jawabnya: "Tiap-tiap orang mu'min yang
terpelihara hatinya." Sahabat bertanya lagi: "Siapakah
yang terpelihara hatinya itu?" Jawabnya: "Yaitu yang
takut, lagi suci tidak khianat, dan tidak durhaka, tiada
dendam, bukan penipu dan tidak dengki."

Imam Al-Ghazali pernah berkata, "Sesungguhnya
semua orang akan merugi, kecuali mereka yang
ber-Islam (berserah diri hanya kepada Allah). Orang
yang ber-Islam pun akan merugi, kecuali mereka yang
beriman. Mereka yang beriman juga akan merugi,
kecuali yang berilmu dan meramal shalih. Begitu pun
yang beramal shalih juga akan merugi, kecuali yang
ikhlas. Bahkan mereka yang ikhlas sekalipun juga akan
merugi, kecuali hanya mereka yang mantap hatinya
(istiqomah dalam Tauhid).

Kembali kepada hati nurani itu taubahnya adalah
bagian dari ikhtiar untuk melihat Tuhan dari jarak
dekat. Semakin seseorang kembali kepada hati
nuraninya, semakin dekat pula Allah Ta'ala kepadanya.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa dahulu kala
pernah ada seorang arif yang mendatangi seorang
oknum tukang cukur di suatu kota. Saat proses
bercukur itu tengah berlangsung terjadilah dialog
antara keduanya. Orang arif itu bertanya kepada
si tukang cukur: "Hai si fulan, apakah menurutmu
Tuhan itu ada?" Lalu si tukang cukur pun menjawab:
"Tuhan itu tak ada. Kalau Tuhan itu ada mengapa
Dia membiarkanku hidup seperti ini?". Mendengar
jawaban si tukang cukur, orang arif itu pun kemudian
diam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun keluar dari
mulutnya.

Usai bercukur dan tanya-jawab itu, lalu orang arif itu
pun keluar dari tempat tersebut. Di jalan, tak jauh dari
depan salon si tukang cukur, kemudian ia pun bertemu
dengan seorang laki-laki berambut gondrong seperti
tak terurus.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved