Tribunners

Mendidik Hati - Bagian 2

Hati adalah mikrokosmosnya alam semesta yang makrokosmos; miniaturnya alam semesta yang ada pada diri manusia.

Editor: fitriadi
Dokumentasi Pribadi Rahman Azim
Rahman Azim 

Tanpa basa basi, orang arif itu pun memegang tangan
si gondrong itu lalu menuntunnya kehadapan si
tukang cukur dan berkata dengan lantang: "Tukang
cukur tidak ada... tukang cukur tidak ada... tukang
cukur tidak ada". Sontak saja teriakan dari pelanggan
si tukang cukur itu pun membuat banyak orang
berkerumun.

Lalu si tukang cukur itu pun kemudian buru-buru
membantah: "Ada... ada... ada. Jangan dengarkan
orang ini". Orang arif itu pun kemudian berkata:
"Kalaulah tukang cukur itu ada di kota ini, mengapa
justru masih ada laki-laki yang rambutnya segondrong
ini?" Lalu jawab si tukang cukur: "Salah dia sendiri
kenapa tak datang kepadaku sebagai tukang
cukur? Kalaulah dia datang, pastilah akan kucukur
rambutnya". Kemudian orang arif itu pun berkata:
"Begitu pula dengan Tuhan (Allah Ta'ala). Bukan berarti
Dia tak ada. Hanya saja kau sendiri yang tak pernah
datang padaNya sehingga apa yang kau leluhkan
tentang hidupmu tadi tentu tak akan ada" (dikutip dan
diolah dari berbagai sumber).

Dari kisah tersebut dapatlah dikatakan bahwa manusia
pada fitrahnya adalah mengakui akan eksistensi Tuhan
(Allah Ta'ala) yang terpatri dalam hatinya. Namun
permasalahannya adalah karena hati nurani (hati yang
bercahaya) yang dimilikinya itu tidak dirawat, maka
kemilau cahayanya itu menjadi redup karena tertutup
debu hingga menutupi kebenaran yang datang dari
Tuhannya.

Ibarat melihat pesawat yang sedang terbang dari
kejauhan, tentu akan tampak kecil pesawat terlihat.
Namun jika melihatnya dari dekat, yakni datang
langsung ke bandara (tempat parkirnya pesawat),
maka akan tampak dekat dan besar pula lah ukuran
pesawat itu.

Istafti qalbak, mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan
adalah sesuatu yang menenangkan hati dan
keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hati
Demikianlah hati. Sebagaimana unsur lainnya yang
ada pada diri manusia, hati yang juga sebagai inti dari
manusia pun perlu mendapatkan pendidikan yang
sesungguhnya bahkan melebihi pendidikan yang
diberikan bagi jasmani dan akal. Karena dari hati
yang bercahaya akan memantulkan akhlak mulia.
Sedangkan akhlak mulia sendiri adalah mahkotanya
orang beriman.

Alā wa innā fī al-jasadi mudhgotan idzā solahat solaha
al-jasadu kulluhu, wa idzā fasadat fasada al-jasadu
kuluhu, alā wa hiya al-qolbu.

“Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam jasad manusia
ada segumpal daging. Jikalau ia baik, maka baik pula
seluruh jasad. Jikalau ia rusak, niscaya rusak pulalah
seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qolbu” (HR.
Bukhari No. 52; Muslim No. 1599).
Wallāhu a'lam.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved