Jamaah Islamiyah Bubar
Ponpes Darusy Syahadah Berubah Setelah Kooperatif dengan Pemerintah
Pesantren Darusy Syahadah mencuat ketika alumni Pesantren Al Mukmin Ngruki yang mengajar di pesantren ini tewas bersama Noordin M Top.
BANGKAPOS.COM, SOLO – Sejumlah atribut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghiasi Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Jawa Tengah.
Bendera Merah Putih ukuran besar terlihat di pucuk tiang depan kantor pesantren afiliasi Jamaah Islamiyah (JI) itu.
Remang senja dan angin yang tenang serta hawa dingin membuat bendera negara itu tak bergerak,
seperti membeku di kampung bernama Kedung Lengkong itu.
Baca juga: Sejarah Panjang Jamaah Islamiyah, dari Abdullah Sungkar Hingga Organisasinya Bubar
Di seberang kantor, papan nama besar pesantren terlihat berwarna keemasan, tegak di depan
deretan gedung tempat para santri biasa belajar.
Di belakang bangunan itu berdiri kokoh masjid Darusy Syahadah. Berkubah besar, masjid itu belum
seratus persen kelar pembangunannya.
Beranjak ke ruang tamu kantor pesantren, empat bendera terpasang di sebelah pintu masuk. Ada Bendera Merah Putih, bendera lambang Kemenag, bendera yayasan, bendera pesantren.
Foto Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin mengapit lambang garuda di dinding ruangan
sebelah kanan pintu masuk.
Ustad Qasdi Ridwanulloh dan sejumlah guru menerima kedatangan Tribun, yang secara khusus ingin melihat dari dekat pesantren Pesantren Darusy Syahadah.
Jamaah Islamiyah belum lama ini resmi membubarkan diri. Para tokoh, pengurus dan pengikutnya sepakat menyatakan kembali ke NKRI. Mereka pun islah kepada pemerintah dan aparat keamanan RI.
Baca juga: Jamaah Islamiyah Bubar dan Islah dengan Pemerintah NKRI, Abu Fatih: Kami Minta Maaf
Pesantren Darusy Syahadah mencuat namanya di tahun 2009, ketika alumni Pondok Pesantren Al
Mukmin Ngruki yang mengajar di pesantren ini tewas bersama Noordin Mohd Top.
Namanya Gempur Budi Angkoro alias Urwah. Noordin dan Urwah tewas saat rumah singgahnya di
Mojosongo digempur apparat Densus 88 Antiteror.
Baca juga: 15 Tahun Silam, Rumah Persembunyian Gembong Teroris Noordin M Top Ini Dikepung Densus 88
Keduanya melawan menggunakan senjata api dan peledak. Baku tembak berlangsung berjam-jam,
sebelum rumah yang ditempati terbakar dan ambruk.
Noordin Mohd Top saat itu buronan paling dicari karena diduga merekrut dan menjadi guru spiritual para pengebom bunuh diri di berbagai lokasi di Indonesia.
Noordin Mohd Top tercatat warga Malaysia, murid Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir semasa
di sekolah agama Luqmanul Hakim Johor Bahru, Malaysia.
Pesantren Darusy Syahadah didirikan Ustad Mustaqim Safar, alumni dan mantan guru Ponpes Al
Mukmin Ngruki, kini jadi Ketua Yayasan Yasmin Surakarta yang menaungi pesantren itu.
Awalnya hanya pesantren kecil dengan murid terbatas, di lokasi berbukit dan tanah merah yang
tandus.
Aktivitas pendidikan tingkat diniyah di pesantren ini dimulai Januari 1994.
Ini setahun setelah Abdullah Sungkar mendirikan Al Jamaah Al Islamiyah di Malaysia, dan organisasi ini mengembangkan jaringan lamanya di Indonesia.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya Juli 1994, unit Takhassus atau pendidikan level Kulliyyatul
Mu’allimin pun dibuka.
Sabarno alias Amali, alumni angkatan kedua Ponpes Darusy Syahadah menceritakan kondisi awal pesantren yang gersang, bertanah merah, dan hanya memiliki dua bangunan kecil untuk santri.
Sumber air di kawasan berbukit-bukit itu juga terbatas, dan bahkan kemudian mengering. Ia tak
menampik pengaruh gerakan JI kuat ditanamkan di pesantren ini.
Secara pribadi pun Sabarno mengakui dekat dengan almarhum Gempur Budi Angkoro alias Urwah.
Bahkan mereka masih berkerabat dari jalur ayah mereka.
Sekarang, setelah 30 tahun didirikan dan sudah meluluskan ribuan alumni, Sabarno melihat ada
banyak perubahan di dalam pesantren.
Sepuluh tahun terakhir, Sabarno bahkan mengaku tidak pernah datang ke almamaternya ini, karena
berstatus DPO alias buron Densus 88 Antiteror.
Standar operasi Jamaah Islamiyah, dalam posisi seperti itu setiap anggota tidak boleh lagi bergiat atau berinteraksi dengan organisasi sayap dan almamaternya.
Perubahan signifikan Ponpes Darusy Syahadah adalah pada akhirnya bersedia kooperatif dengan aparat keamanan dan pemerintah.
Hampir setahun lalu, tepatnya 27 September 2023, Ustad Mustaqim Safar memfasilitasi kehadiran
tim Cegah Densus 88 Antiteror dan Kemenag Boyolali.
Kegiatan ini juga dihadiri tokoh penting organisasi JI, Ustad Siswanto, yang pernah ditangkap aparat hukum terkait aktifitas organisasi ini.
Mereka menggelar dauroh atau pertemuan akbar ‘Sosialisasi Kebangsaan’. Sekira 250 guru,
pengurus pondok, dan santri mengikuti acara ini.
Tiga isu disampaikan oleh tim Densus 88 Antiteror yang diwakili AKBP Goentoro Wisnu, mengenai
efek intoleransi, terorisme, dan radikalisme.
Pertemuan terbuka ini menandai babak penting perubahan-perubahan di pesantren afiliasi JI, yang hampir setahun kemudian JI mencapai titik akhir : membubarkan diri.
Ustad Qasdi Ridwanulloh, Direktur Pontren Darusy Syahadah secara khusus melalui Tribun
menyatakan pesantrennya terbuka untuk perbaikan dan siap berdialogd engan siapa saja.
Ustad Qasdi mengakui Ponpes Darusy Syahadah sejak lama berafiliasi dengan kelompok Jamaah
Islamiyah.
Tapi secara prinsip, pesantren ini bertujuan mendidik anak-anak santrinya fokus pada ulumul syarii, perbaikan iman, dan perbaikan ibadah.
Setelah ada keputusan JI bubar 30 Juni 2024, Ustad Qasdi meyakinkan lembaganya terbuka untuk
perbaikan supaya pendidikannya bermanfaat untuk kebaikan santri, umat, bangsa dan negara.
“Apabila ada stigma negatif, kami berharap agar mengutamakan klarifikasi, tabayun. Kita siap
dialog,” tegas Ustad Qasdi yang alumni LIPIA Jakarta ini.
Pelaksana Tugas Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Prof Dr Waryono Abdul Ghofur pun menyambangi Pondok Pesantren Darusy Syahadah.
Kunjungan dilakukan setelah Waryono bertemu para tokoh-tokoh eks Jamaah Islamiyah di sebuah
lokasi di pinggiran Kota Solo, Kamis (18/7/2024) siang.
Ini merupakan kunjungan pertama seorang pejabat tinggi Kementerian Agama RI ke pesantren yang
dulu berafilisi dengan Jamaah Islamiyah.
Sebelum berangkat ke Simo, Prof Dr Waryono mengatakan, senang bisa bertemu para tokoh eks JI.
Ia mendengar secara langsung pemikiran-pemikiran para tokoh, dan memahami titik akhirnya.
“Diskusi tadi memastikan betul-betul ini (JI) membubarkan diri, bukan gimmick,” kata guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini sraya menyebutkan pertemuan berikutnya akan segera dilakukan.
Kemenag Bantu Evaluasi Kurikulum
Mengenai langkah strategis ke depan, Waryono membenarkan Kemenag RI akan membantu proses
evaluasi dan pembenahan kurikulum di pondok pesantren yang dulu berafiliasi dengan JI.
“Jika Madrasah itu kurikulumnya memang sentralistik, pesantren ada kurikulum standar, tapi sesuai cirinya mandiri, ada juga kurikulum lokal,” jelas Waryono.
“Kurikulum lokal silakan dibahas, tapi yang penting bagi kami isinya mengenai Islam sebagai
rahmatul lil alamin, yang relevan dan komtekstual dengan kebutuhan negara,” katanya.
Mengenai perizinan pondok pesantren yang dulu dianggap afiliasi JI, Kemenag RI akan segera
mengkajinya.
“Ini bagian dari komitmen kita, semua akan mengikuti regulasi negara,” tegas Waryono.
Tentang keraguan sejumlah pihak tentang ikrar bubarnya JI, Waryono memahami dan menganggap
wajar ada yang ragu.
“Sejarah panjang JI, relasi JI dengan negara, kan tak semudah seperti membalikkan tangan dari
realitas ejarah,” ujarnya.
Waryono menggarisbawahi dan meminta publik turut mendengar, sekarang ini sudah tidak ada JI
sebagai organisasi.
Adanya adalah para mantan JI yang berkomitmen, tak hanya kepada negara, tapi ke Allah SWT.
Menurut Waryono, semua tanpa paksaan, dan diputuskan berdasar kajian dan
ilmu. (Tribunnews.com/Setya Krisna Sumarga)
| Eks Anggota Jamaah Islamiyah Serahkan Senjata dan Bahan Peledak ke Densus 88 |
|
|---|
| Wawancara Eksklusif Bangka Pos dengan Ketua FKPP Terkait Bubarnya Jamaah Islamiyah Babel |
|
|---|
| Ini Alasan Jamaah Islamiyah Bangka Belitung Resmi Bubar |
|
|---|
| Jamaah Islamiyah Babel Deklarasikan Pembubaran, 30 Orang Baca Poin dan Ikrar Deklarasi |
|
|---|
| Sejarah Panjang Jamaah Islamiyah, dari Abdullah Sungkar Hingga Organisasinya Bubar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240719-Ponpes-Darusy-Syahadah-di-Simo-Boyolali-Jateng.jpg)