Selasa, 14 April 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Eks Anggota Jamaah Islamiyah Serahkan Senjata dan Bahan Peledak ke Densus 88

Eks pimpinan Jamaah Islamiyah tengah berupaya agar para mantan anggota JI menyerahkan seluruh senjata, termasuk bahan peledak kepada polisi.

Editor: fitriadi
TRIBUNNEWS.COM/HO
Ratusan peserta sosialisasi bubarnya Jamaah Islamiyah mengikuti acara di Hotel Aston Madiun, Minggu (4/8/2024). Sejumlah tokoh utama eks gerakan itu hadir secara langsung maupun virtual. Seperti diketahui Jamaah Islamiyah sudah resmi membubarkan diri, dan sekarang kembali ke NKRI. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Setelah Jamaah Islamiyah (JI) resmi membubarkan diri dan islah dengan Pemerintah RI, para mantan anggota JI di sejumlah daerah menyerahkan berbagai peralatan dan bahan senjata kepada Densus 88 Antiteror Polri.

Berdasarkan data yang dihimpun dari sumber Tribun Network, sejumlah mantan anggota JI telah menyerahkan sejumlah jenis senjata senapan laras panjang M-16, amunisi dan bahan peledak trinitrotoluene (TNT).

Mereka menyerahkan bahan peledak tersebut di antaranya di Lombok Utara, Jawa Tengah, dan Sulwesi Tengah pada tahun 2024.

Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008-2019, Para Wijayanto mengetahui adanya penyerahan senjata dan bahan peledak tersebut setelah foto-fotonya ditunjukkan tim Densus 88 kepada dirinya.

"Kemarin saya ditunjukkan foto-fotonya itu ada bahan peledaknya TNT diserahkan. Punya TNT kan nggak sembarangan. Efeknya kan luar biasa. Kemudian juga senjata, M-16 saja dikasihkan. Laras panjang dikasihkan, laras pendek dikasihkan," kata Para Wijayanto dalam wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).

"Nanti bisa dikonfirmasi, artinya dari situ Densus terbuka dengan kita bahwa di bawah, di luar karena kita nggak bisa keluar kan, apa yang sudah diputuskan (pembubaran JI) itu mendapatkan dukungan," sambung dia.

Para Wijayanto, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008 - 2019, saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).
Para Wijayanto, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008 - 2019, saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024). (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Para menjelaskan setelah pembubaran JI pada 30 Juni 2024 lalu, pihaknya tengah berupaya agar para mantan anggota JI menyerahkan seluruh senjata, termasuk bahan peledak yang dimilikinya kepada polisi.

Ia mengatakan hal tersebut menegaskan komitmen para mantan anggota JI untuk kembali ke pangkuan NKRI.

Selain itu, kata dia, barang-barang tersebut juga diserahkan para mantan anggota JI karena dikhawatirkan "gatal" atau memiliki hasrat untuk menggunakan senjata atau bahan peledak yang mereka miliki.

Hal tersebut, kata dia, mengingat sebagian dari mantan anggota JI memiliki keahlian untuk menggunakannya.

Ia mencontohkan para mantan anggota JI yang saat ini masih berada di Suriah juga memiliki kemampuan lain, di antaranya pilot drone dan juga penembak jitu.

"Nah, kalau memang dulu ada niat berontak, ya kita punya senjata. Tapi, kalau sekarang kita kembali pada manhaj ahlusunnah wal jamaah. Artinya, tidak akan berontak. Kami pikir kontraproduktif memiliki senjata. Takutnya gatal," kata dia.

"Kita ini kan punya skill. JI ini seperti tadi diceritakan ada alumni Afghanistan, ada alumni Moro, sekarang ditambah alumni Suriah."

Selain itu, mantan pendiri JI Abu Rusydan, mengatakan telah melaporkan daftar anggota JI yang masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian kelada Densus 88.

Abu Rusydan, mantan pendiri organisasi yang idientik dengan aksi teror Jamaah Islamiyah (JI) saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).
Abu Rusydan, mantan pendiri organisasi yang idientik dengan aksi teror Jamaah Islamiyah (JI) saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024). (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Bahkan, kata dia, ada juga DPO yang ikut sosialisasi pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved