Kamis, 11 Juni 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Eks Anggota Jamaah Islamiyah Serahkan Senjata dan Bahan Peledak ke Densus 88

Eks pimpinan Jamaah Islamiyah tengah berupaya agar para mantan anggota JI menyerahkan seluruh senjata, termasuk bahan peledak kepada polisi.

Tayang:
Editor: fitriadi
TRIBUNNEWS.COM/HO
Ratusan peserta sosialisasi bubarnya Jamaah Islamiyah mengikuti acara di Hotel Aston Madiun, Minggu (4/8/2024). Sejumlah tokoh utama eks gerakan itu hadir secara langsung maupun virtual. Seperti diketahui Jamaah Islamiyah sudah resmi membubarkan diri, dan sekarang kembali ke NKRI. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Setelah Jamaah Islamiyah (JI) resmi membubarkan diri dan islah dengan Pemerintah RI, para mantan anggota JI di sejumlah daerah menyerahkan berbagai peralatan dan bahan senjata kepada Densus 88 Antiteror Polri.

Berdasarkan data yang dihimpun dari sumber Tribun Network, sejumlah mantan anggota JI telah menyerahkan sejumlah jenis senjata senapan laras panjang M-16, amunisi dan bahan peledak trinitrotoluene (TNT).

Mereka menyerahkan bahan peledak tersebut di antaranya di Lombok Utara, Jawa Tengah, dan Sulwesi Tengah pada tahun 2024.

Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008-2019, Para Wijayanto mengetahui adanya penyerahan senjata dan bahan peledak tersebut setelah foto-fotonya ditunjukkan tim Densus 88 kepada dirinya.

"Kemarin saya ditunjukkan foto-fotonya itu ada bahan peledaknya TNT diserahkan. Punya TNT kan nggak sembarangan. Efeknya kan luar biasa. Kemudian juga senjata, M-16 saja dikasihkan. Laras panjang dikasihkan, laras pendek dikasihkan," kata Para Wijayanto dalam wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).

"Nanti bisa dikonfirmasi, artinya dari situ Densus terbuka dengan kita bahwa di bawah, di luar karena kita nggak bisa keluar kan, apa yang sudah diputuskan (pembubaran JI) itu mendapatkan dukungan," sambung dia.

Para Wijayanto, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008 - 2019, saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).
Para Wijayanto, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) periode 2008 - 2019, saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024). (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Para menjelaskan setelah pembubaran JI pada 30 Juni 2024 lalu, pihaknya tengah berupaya agar para mantan anggota JI menyerahkan seluruh senjata, termasuk bahan peledak yang dimilikinya kepada polisi.

Ia mengatakan hal tersebut menegaskan komitmen para mantan anggota JI untuk kembali ke pangkuan NKRI.

Selain itu, kata dia, barang-barang tersebut juga diserahkan para mantan anggota JI karena dikhawatirkan "gatal" atau memiliki hasrat untuk menggunakan senjata atau bahan peledak yang mereka miliki.

Hal tersebut, kata dia, mengingat sebagian dari mantan anggota JI memiliki keahlian untuk menggunakannya.

Ia mencontohkan para mantan anggota JI yang saat ini masih berada di Suriah juga memiliki kemampuan lain, di antaranya pilot drone dan juga penembak jitu.

"Nah, kalau memang dulu ada niat berontak, ya kita punya senjata. Tapi, kalau sekarang kita kembali pada manhaj ahlusunnah wal jamaah. Artinya, tidak akan berontak. Kami pikir kontraproduktif memiliki senjata. Takutnya gatal," kata dia.

"Kita ini kan punya skill. JI ini seperti tadi diceritakan ada alumni Afghanistan, ada alumni Moro, sekarang ditambah alumni Suriah."

Selain itu, mantan pendiri JI Abu Rusydan, mengatakan telah melaporkan daftar anggota JI yang masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian kelada Densus 88.

Abu Rusydan, mantan pendiri organisasi yang idientik dengan aksi teror Jamaah Islamiyah (JI) saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).
Abu Rusydan, mantan pendiri organisasi yang idientik dengan aksi teror Jamaah Islamiyah (JI) saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024). (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Bahkan, kata dia, ada juga DPO yang ikut sosialisasi pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI.

"Kita sudah laporkan daftar DPO. Bahkan DPO-nya ikut sosialisasi pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI selama 30 sekian kali sosialisasi. Dan kita serahkan alat, barang, dan senjata," kata Abu Rusydan.

Ia juga mengatakan telah melaporkan nama-nama mantan anggota JI yang saat ini masih berada di luar Suriah dan Filipina.

Abu Rusydan mengatakan bahkam Densus 88 telah menjalin komunikasi dengan mereka.

"Ini kita sudah laporkan ke Densus tentang nama-nama (anggota) kita yang ada di Syiria siapa saja, yang ada di Filipina siapa saja, kemudian rincian mereka, dan Densus 88 sudah berkomunikasi dengan mereka," kata dia.

"Ada yang sudah menikah dengan Suriah, menikah dengan wanita Filipina, punya anak beranak. Ada yang masih di dalam penjara. Tapi mereka sudah tidak punya dokumen resmi Indonesia. Itu persoalannya, sebagian paling tidak," sambung dia.

Ia menegaskan hal tersebut adalah bagian dari komitmen para mantan anggota JI untuk membubarkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI.

Sehingga, kata dia, tidak ada alasan untuk meragukan kesungguhan mereka untuk kembali ke NKRI.

"Tidak ada alasan bagi siapapun baik eksternal maupun internal untuk bersikap skeptis meragukan kesungguhan kita," kata dia.

4 Organisasi Besar JI Terhubung ke Densus 88

Mantan pendiri organisasi yang identik dengan aksi teror Jamaah Islamiyah (JI), Abu Rusydan, menjawab pihak-pihak yang meragukan pembubaran JI di Sentul pada 30 Juni 2024 lalu.

Pasalnya, setelah pembubaran JI dan kembalinya ke pangkuan NKRI dideklarasikan di Sentul Bogor, masih ada pihak-pihak yang meragukan langkah tersebut.

JI sendiri identik dengan berbagai peristiwa aksi teror para anggotanya di Indonesia yang menelan banyak korban jiwa.

Sebut saja Bom Malam Natal (2000), Bom Bali I (2002), Bom Bali II (2005), Bom Hotel JW Marriot (2003), Bom Kedutaan Australia (2004), Bom Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton (2009), mutilasi 3 siswi SMA di Poso, dan berbagai aksi teror lain yang diidentikkan dengan kelompok tersebut.

Menjawab hal itu, ia menegaskan empat organisasi besar di bawah koordinasi organisasi pusat JI saat ini telah terhubung ke Densus 88 Antiteror Polri.

Organisasi tersebut, kata dia, di antaranya Tahziz, Alwi, Forum Komunikasi Pondok Pesantren, dan 3T.

Ia menjelaskan Tahziz membawahi dua organisasi, yakni Tanzim Sirri (organisasi bawah tanah) dan Tanzim Askari (organisasi kemiliteran).

Hal itu disampaikannya saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).

"Tanzim Sirri membawahi DPO. Tanzim Askari membawahi albas, alat, barang, dan senjata. Dan ini sudah kita serahkan kepada Densus," kata dia.

"Kita sudah laporkan daftar DPO. Bahkan DPO-nya ikut sosialisasi pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI dalam 30 sekian kali sosialisasi. Dan kita serahkan alat, barang, dan senjata," sambung dia.

Kedua, kata dia, Alwi yang berkaitan dengan keamanan dan intelijen.

Fungsi dari organisasi tersebut adalah mengamankan tokoh-tokoh kunci di dalam JI.

"Sebagaimana Anda pahami, intelijen itu juga, kita juga bekerja pada penggalangan, penggulungan, dan evasi. Sesuai dengan ilmu intelijen yang dipahami orang banyak. Ditambah ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari kitab-kitab para ulama terdahulu," kata dia.

"Ini kita sudah laporkan ke Densus tentang nama-nama (anggota) kita yang ada di Syria, siapa saja, yang ada di Filipina, siapa saja, kemudian rincian mereka, dan Densus 88 sudah berkomunikasi dengan mereka," sambung dia.

Ketiga, kata dia, adalah Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) yang terdiri dari puluhan pondok pesantren yang terafiliasi dengan JI dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Ia mengatakan pihaknya telah membuka diri dengan Kementerian Agama untuk memeriksa kurikulum di pondok-pondok pesantren tersebut.

"Kita sudah membuka diri pada Kementerian Agama untuk memeriksa kurikulum kita. Kita sodorkan. Bukan kita membuka diri saja. Kita sodorkan. Kalau yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang ada di Indonesia, silakan dikoreksi. Kurang apalagi?" kata dia.

Keempat, kata dia, 3T, yakni taklim, tabligh, dan tarbiyah.

Organisasi tersebut, kata dia, berkaitan dengan kegiatan dakwah yang terafiliasi dengan JI.

"Kita tidak meninggalkan masyarakat, kita bersama masyarakat. Dakwah kita berdasarkan kepada pemahaman ulama-ulama salaf. Ulama-ulama terdahulu. Berdasarkan pemahaman ahlu sunnah wal jamaah," kata dia.

"Empat organisasi ini semuanya sudah terhubung dengan Densus 88. Sudah terjalin saling kepercayaan antara eks Al Jamaah Islamiyah dengan Densus 88. Tidak ada alasan bagi siapapun, baik eksternal maupun internal, untuk bersikap skeptis meragukan kesungguhan kita," sambung dia.

Terkait proses integrasi atau kembalinya para mantan anggota JI, ia mengatakan memiliki tiga modal, yakni kepercayaan (trust), transparansi, dan ketulusan hati.

Ia juga menegaskan di sisa hidupnya dan para mantan anggota JI lainnya akan diisi dengan komitmen dan konsistensi untuk kembali ke pangkuan NKRI.

"Dan itu tidak omong kosong. Kita isi dengan itu tadi. Melaporkan banyak hal yang ada di 4 organisasi utama itu tadi. Jadi tidak ada alasan sama sekali untuk bersikap skeptis terhadap kerja sama antara kami dengan Densus 88. Kami itu eks Al Jamaah Islamiyah," kata dia.

"Beda persoalannya kalau memang itu persoalannya iri hati ya. Kenapa yang dekat dengan Eks Al Jamaah Islamiyah kok Densus 88, kok bukan kami, misalkan ada lembaga pemerintahan yang mengatakan seperti itu, supaya dihilangkan pikiran itu. Kami siap bekerja sama dengan siapapun untuk menyebarkan kebaikan. Termasuk bekerja sama dengan insan pers," sambung dia.

Ia pun berharap agar keraguan sejumlah pihak tersebut tidak kemudian mengganggu kepercayaan yang telah dibangun dengan Densus 88.

"Kita serius, Mas. Modal kita tiga: trust, transparansi, dan tulus hati. Jangan sampai sikap skeptis siapapun, baik eksternal maupun internal, yang mengganggu saling kepercayaan yang sudah kita bangun dengan pihak Densus 88. Jangan sampai merusak itu," kata dia.

"Dan kita akan mengisi hari-hari kita, waktu-waktu kita selama hari-hari ini, selama mulai 30 Juni 2024 sampai Allah mentakdirkan kapan, itu dengan dua K setelah 3T: trust, transparansi, dan tulus hati. Kita akan isi dengan komitmen dan konsistensi. Dan itu tidak omong kosong, waktu yang akan membuktikan. Dan waktu itu kita isi tidak dengan kekosongan," sambung dia.

Untuk diketahui, Para Wijayanto dibekuk di sebuah hotel di Bekasi pada Sabtu (29/6/2019) pagi.

Sedangkan Abu Rusydan ditangkap tim Densus 88 Antiteror Polri bersama tiga terduga teroris jaringan JI lainnya pada Jumat (10/9/2021) di beberapa tempat berbeda di daerah Bekasi.

JI sendiri merupakan organisasi terlarang yang identik dengan berbagai peristiwa aksi teror para anggotanya di Indonesia yang menelan banyak korban jiwa.

Sebut saja Bom Malam Natal (2000) Bom Bali I (2002), Bom Bali II (2005), Bom Hotel JW Marriot (2003), Bom Kedutaan Australia (2004), Bom Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton (2009), mutilasi 3 siswi SMA di Poso dan berbagai aksi teror lain yang diidentikan dengan kelompok tersebut.

Berikut daftar senjata api dan bahan peledak yang diserahkan eks anggota Jamaah Islamiyah di beberapa daerah:

Lombok Utara Nusa Tenggara Barat

1. 2 pucuk Senjata Api Revolver kaliber .38

2. 39 butir Amunisi Peluru Tajam berwarna kuning kaliber .38

3. 1 plastik serbuk berwana hitam kecokelatan

4. 1 karung ukuran 25 kg serbuk berwarna kuning

5. 1 plastik merah bubuk berwarna hitam.

Jawa Tengah

1. 1 pucuk airsoft gun jenis pistol

2. 45 butir amunisi kaliber .223

3. 521 butir amunisi kaliber .45 mm

4. 66 butir amunisi kaliber .9 mm

5. 9 butir amunisi kaliber .22 mm

6. 1 buah granat

7. 7 buah crossbow

8. 1 ember anak panah

9. 1 buah tabung gas selam dan selang

10. 1 pucuk senjata api laras panjang M16

11. 1 botol cairan hitam

Sulawesi Tengah

1. 1 pucuk senjata api pabrikan jenis revolver

2. 1 pucuk senjata api pabrikan jenis FN

3. 240 butir amunisi kaliber .223

4. 13 butir amunisi kaliber .9 mm

5. 2 butir amunisi kaliber .38

(Tribunnews.com/Gita Irawan)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved