Kamis, 9 April 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Ponpes Darusy Syahadah Berubah Setelah Kooperatif dengan Pemerintah

Pesantren Darusy Syahadah mencuat ketika alumni Pesantren Al Mukmin Ngruki yang mengajar di pesantren ini tewas bersama Noordin M Top.

Editor: fitriadi
Tribunnews.com
Ponpes Darusy Syahadah di Simo, Boyolali, Jateng, yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiyah. 

BANGKAPOS.COM, SOLO – Sejumlah atribut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghiasi Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Jawa Tengah.

Bendera Merah Putih ukuran besar terlihat di pucuk tiang depan kantor pesantren afiliasi Jamaah Islamiyah (JI) itu.

Remang senja dan angin yang tenang serta hawa dingin membuat bendera negara itu tak bergerak,
seperti membeku di kampung bernama Kedung Lengkong itu.

Baca juga: Sejarah Panjang Jamaah Islamiyah, dari Abdullah Sungkar Hingga Organisasinya Bubar

Di seberang kantor, papan nama besar pesantren terlihat berwarna keemasan, tegak di depan
deretan gedung tempat para santri biasa belajar.

Di belakang bangunan itu berdiri kokoh masjid Darusy Syahadah. Berkubah besar, masjid itu belum
seratus persen kelar pembangunannya.

Beranjak ke ruang tamu kantor pesantren, empat bendera terpasang di sebelah pintu masuk. Ada Bendera Merah Putih, bendera lambang Kemenag, bendera yayasan, bendera pesantren.

Foto Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin mengapit lambang garuda di dinding ruangan
sebelah kanan pintu masuk.

Ustad Qasdi Ridwanulloh dan sejumlah guru menerima kedatangan Tribun, yang secara khusus ingin melihat dari dekat pesantren Pesantren Darusy Syahadah.

Jamaah Islamiyah belum lama ini resmi membubarkan diri. Para tokoh, pengurus dan pengikutnya sepakat menyatakan kembali ke NKRI. Mereka pun islah kepada pemerintah dan aparat keamanan RI.

Baca juga: Jamaah Islamiyah Bubar dan Islah dengan Pemerintah NKRI, Abu Fatih: Kami Minta Maaf

Pesantren Darusy Syahadah mencuat namanya di tahun 2009, ketika alumni Pondok Pesantren Al
Mukmin Ngruki yang mengajar di pesantren ini tewas bersama Noordin Mohd Top.

Namanya Gempur Budi Angkoro alias Urwah. Noordin dan Urwah tewas saat rumah singgahnya di
Mojosongo digempur apparat Densus 88 Antiteror.

Baca juga: 15 Tahun Silam, Rumah Persembunyian Gembong Teroris Noordin M Top Ini Dikepung Densus 88

Keduanya melawan menggunakan senjata api dan peledak. Baku tembak berlangsung berjam-jam,
sebelum rumah yang ditempati terbakar dan ambruk.

Noordin Mohd Top saat itu buronan paling dicari karena diduga merekrut dan menjadi guru spiritual para pengebom bunuh diri di berbagai lokasi di Indonesia.

Noordin Mohd Top tercatat warga Malaysia, murid Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir semasa
di sekolah agama Luqmanul Hakim Johor Bahru, Malaysia.

Pesantren Darusy Syahadah didirikan Ustad Mustaqim Safar, alumni dan mantan guru Ponpes Al
Mukmin Ngruki, kini jadi Ketua Yayasan Yasmin Surakarta yang menaungi pesantren itu.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved