Tribunners
Sekolah Sampai ke Perguruan Tinggi
Bila strata pertama sudah diraih, bukan sebuah kemustahilan strata berikutnya akan diraih pula.
Menurut saya, pada level itulah persoalan tersebut bersemayam sesungguhnya. Harus ada upaya gerakan sampai pada level keluarga, bahwa kuliah di perguruan tinggi itu penting bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya, tentu dengan disertai data dan contoh yang konkret, misalnya menjadikan figur-figur tertentu sebagai sosok inspiratif. Dengan contoh nyata, masyarakat akan jauh lebih tergugah. Di beberapa wilayah, saya melihat ada banyak contoh itu, sesuai bidangnya masing-masing.
Masyarakat kini sebetulnya sudah lebih realistis, tidak lagi menargetkan anak-anaknya untuk bisa sekolah di jurusan-jurusan bergengsi, tetapi sudah menyesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia. Lihat saja misalnya, banyak lulusan SMA yang lebih memilih kuliah pendidikan guru atau kesehatan, sebab dari beberapa kali rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) beberapa tahun terakhir, jurusan ini merupakan dua di antara jurusan yang memiliki formasi terbanyak. Bahkan, jamak ditemukan seorang sarjana di bidang tertentu, karena kesulitannya mencari pekerjaan, lalu kuliah lagi jurusan pendidikan hingga akhirnya sekarang menjadi guru.
Menjadi guru atau tenaga kesehatan bukanlah ultimum remidium (upaya terakhir - meminjam istilah dalam ilmu hukum), tetapi merupakan profesi yang mulia. Tingginya kebutuhan akan guru dan tenaga kesehatanlah yang menjadikan jurusan ini masih menjadi favorit sehingga perlu dipertimbangkan agar jurusan yang lulusannya dibutuhkan, dijadikan perhatian oleh perguruan tinggi, tentu tanpa mengesampingkan jurusan lain. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.