Selasa, 21 April 2026

Ramadhan 1446 H

Jelang Ramadhan 1446 H Ada yang Namanya Ruwahan, Apa Makna dan Sejarahnya?

Tradisi ruwahan biasanya dilakukan di bulan Ruwah atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah, oleh karena itu disebut ruwahan.

Penulis: Widodo | Editor: M Zulkodri
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
TRADISI RUWAHAN - Suasana Nganggung dalam perayaan Ruwah Kubur di Desa Keretak dan Keretak Atas, Kecamatan Sungaiselan, Bangka Tengah, Minggu (5/3/2023). Tradisi ruwahan biasanya dilakukan di bulan Ruwah atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Ruwahan ini merupakan tradisi kebudayaan orang Jawa untuk mengirim doa kepada orang yang sudah meninggal baik itu orangtua, kakek, nenek, dan lain sebagainya. 

BANGKAPOS.COM -- Menjelang Ramadhan 1446 H ada yang namanya ruwahan.

Apa makna dan sejarahnya sehingga tradisi tersebut terus bertahan hingga saat ini.

Umumnya dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, termasuk di Provinsi Bangka Belitung.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat sekitar juga melakukan tradisi perang ketupat khususnya di Kecamatan Tempilang, Bangka Barat.

Tradisi tersebut masih ada sampai sekarang.

Dalam tradisinya, keluarga, kerabat atau teman akan bertamu ke rumah yang melakukan ruwahan di kampung-kampung.

Tradisi ruwahan biasanya dilakukan di bulan Ruwah (bulan kedelapan dalam kalender Jawa) atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah, oleh karena itu disebut ruwahan.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau disapa Gus Baha menjelaskan perihal sejarah dan kenapa bulan Syaban disebut bulan Ruwahan.

Hal itu dia beberkan dalam kanal YouTube Kalam - Kajian Islam yang diunggah pada 28 Maret 2021 lalu.

Gus Baha menerangkan tentang awal mula nama ruwah untuk bulan Syaban.

"Dalam istilah Jawa, bulan Syaban sering disebut juga dengan bulan Ruwah," kata Gus Baha.

Kata ruwah sendiri merupakan serapan dari kalimat Bahasa Arab yaitu arwah.

"Tradisi di Indonesia umumnya mengikuti tradisi di Yaman," bebernya.

Gus Baha menjelaskan bahwa di negara Yaman itu ada haulnya Nabi Hud yang diselenggarakan pada bulan Syaban sehingga kyai-kyai Jawa mengirimkan doa ketika bulan Syaban atau bulan Ruwah.

"Maka muncullah istilah tradisi ruwah atau ruwahan, yang tidak asing di telinga masyarakat," sebut Gus Baha.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved