Kamis, 30 April 2026

Ramadhan 2025

Bunyi Siung Timah, Jejak Peradaban Bangka yang Menjadi Penanda Sahut dan Berbuka Puasa Ramadan

Bunyi Siung bukan sekadar suara, tetapi juga jejak peradaban yang mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Bangka. 

Tayang:
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
Kolase Bangkapos.com/Tribunnews.com
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Saat bulan Ramadan tiba, masyarakat Bangka kembali akrab dengan suara khas yang menggema menjelang sahur dan berbuka puasa.

Bunyi "Siung" dengungan nyaring yang dulunya digunakan sebagai penanda waktu kerja bagi para penambang timah, kini menjadi bagian dari tradisi yang dinanti setiap tahunnya.

Bunyi Siung bukan sekadar suara, tetapi juga jejak peradaban yang mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Bangka. 

Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, mengungkapkan bahwa Siung pertama kali dikenal pada akhir abad ke-19, ketika perusahaan tambang timah Belanda, Banka Tin Winning (BTW), memperkenalkan mekanisasi dalam pertambangan.

"Awalnya, sistem penanda waktu bagi pekerja tambang menggunakan lonceng. Namun, seiring perkembangan teknologi, digunakanlah Siung, sebuah alat yang menghasilkan suara dengungan nyaring untuk memberi tanda waktu kerja, istirahat, dan akhir aktivitas pertambangan," ujar Dato’ Akhmad Elvian kepada Bangkapos.com, Kamis (6/3/2025).

Di masa lalu, sistem kerja tambang menggunakan metode Kung atau Kong, yakni sistem berbasis durasi dan volume kerja. 

Satu hari kerja berdurasi sekitar 8-9 jam disebut satu Kung, sementara setengah hari disebut setengah Kung, dan seperempat hari disebut seperempat Kung. Volume kerja pun dihitung berdasarkan berapa pikul tanah atau pasir yang diolah menjadi timah.

Seiring waktu, fungsi bunyi Siung tidak lagi terbatas pada dunia pertambangan. Saat jam dan arloji masih menjadi barang langka, Siung berperan penting dalam kehidupan masyarakat, terutama selama Ramadhan.

"Siung menjadi penanda sahur dan berbuka yang sangat dinanti. Bagi ibu-ibu, bunyi Siung adalah alarm alami untuk menyiapkan makanan sahur. Bagi anak-anak, belum sah rasanya berbuka puasa tanpa mendengar suara Siung terlebih dahulu," tutur Dato’ Akhmad Elvian.

Bunyi Siung yang menggema hingga pelosok kampung lebih efektif dibandingkan melihat posisi matahari. Bahkan, dalam perkembangannya, suara ini tidak hanya dibunyikan oleh PT Timah, tetapi juga oleh brandweer swasta dan beberapa masjid.

Di Pangkalpinang, jejak Siung juga bisa ditemukan dalam penamaan tempat. Salah satu contohnya adalah "Simpang Suling" atau "Simpang Siung," yang dulunya menjadi halte tempat masyarakat menunggu angkutan umum seperti trem dan mobil penumpang.

Dalam konteks sejarah, bunyi Siung mencerminkan bagaimana pertambangan timah telah membentuk peradaban Bangka. Lebih dari sekadar penanda waktu, Siung menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Namun, di tengah kemajuan teknologi digital, eksistensi Siung mulai menghadapi tantangan. Tradisi ini dikhawatirkan perlahan memudar, tergantikan oleh alarm modern dan notifikasi digital.

"Mudah-mudahan bunyi Siung tetap bertahan dan setia menemani orang Bangka dalam berpuasa. Jangan sampai Siung maghrib nanti menjadi yang terakhir bagi kita," harap Dato’ Akhmad Elvian.

Sejarah terus bergerak, dari Ramadhan ke Syawal, dari generasi ke generasi. Namun, selama suara Siung masih bergema, ia akan selalu menjadi pengingat bahwa Bangka dan timah memiliki kisah panjang yang tak terpisahkan.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved