Opini

Membumikan Dakwah Humanis di Era Cyber Media

Dunia modern yang penuh dengan interaksi cepat, perspektif yang beragam, dan sayangnya, konflik yang mudah terjadi, adalah realitas yang rumit bagi

|
Editor: Hendra
Dok pribadi
Dr. Iqrom Faldiansyah, MA Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS BABEL 

Membumikan Dakwah Humanis di Era Cyber Media

Penulis: Dr. Iqrom Faldiansyah, MA 
Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS BABEL

Dunia telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Cara mencari pengetahuan, teman, dan bahkan jawaban tentang agama dan hidup mengalami perubahan yang signifikan.

Jika dulu dakwah Islam hanya dapat didengarkan dalam ceramah di masjid atau forum pengajian, sekarang dakwah dapat ditemukan dalam konten di YouTube, video TikTok, podcast, bahkan cuitan di X (Twitter).

Ini bukan hanya perubahan di media; namun perubahan dalam cara manusia melihat agama. Karena itulah, dakwah harus berubah menjadi dakwah yang humanis, membumi, dan menyentuh hati.

Urgensi Dakwah Humanis
Dunia modern yang penuh dengan interaksi cepat, perspektif yang beragam, dan sayangnya, konflik yang mudah terjadi, adalah realitas yang rumit bagi orang-orang.

Di sinilah dakwah harus hadir dengan cara yang humanis dakwah yang ramah, bukan mengecam. Dakwah yang mendorong, bukan yang memaksa. Pendidikan yang memiliki kapasitas untuk memanusiakan individu, bukan sekadar memberikan doktrin.  

Baidawi dan Rozak (2023) menyatakan bahwa pendekatan humanisme dalam dakwah digital adalah cara untuk menanggapi kerasnya ruang publik digital, yang sering dipenuhi dengan konflik identitas dan ujaran kebencian. Menurut Baidawi dan Rozak (2023, hlm. 107), "Penyebarluasan dakwah humanis di media digital adalah strategi yang diperlukan untuk membangun kesadaran keagamaan yang damai di masyarakat digital."  

Jika dakwah di era digital terus disampaikan dengan cara lama, otoritatif, normatif, dan satu arah, pesan Islam mungkin menjauh dari hati.

Cyber Media Dakwah: Ruang Baru, Tantangan Baru
Saat ini, media sosial bergabung dengan ruang spiritual. Ia lebih dari sekadar tempat hiburan dan berita tentang artis. Banyak orang menemukan pencerahan, bahkan titik balik, dalam konten pendek yang tulus dan menyentuh.

Media sosial "bukan hanya sebagai alat penyampai pesan, tapi telah menjadi ruang sosial tempat umat membentuk identitas keagamaannya" (Musa, 2020, hlm. 92), menurut Musa.Pendakwah tidak hanya dapat memberikan nasihat di ruang ini.

Ia harus menjadi kawan digital yang adil, berbudi luhur, dan mampu memahami kesulitan orang-orang yang tinggal di dunia maya.

Milenial dan Gen Z sangat menghargai keautentikan dan cara yang ringan untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, penyampaian dakwah harus mampu memadukan konten yang kaya nilai dengan bentuk penyajian yang visual, komunikatif, dan inklusif.

Dakwah Humanis: Jawaban atas Polarisasi Sosial
Munculnya radikalisme digital retorika agama yang digunakan untuk menyebarkan kebencian dan perpecahan adalah salah satu tantangan terbesar era internet.

Strategi seperti ini sering menyebabkan konflik horizontal di dunia nyata dan maya. Di sinilah pendekatan dakwah humanis sebagai penyeimbang sangat penting.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved