Sabtu, 18 April 2026

Kisah Hercules, Pernah Bertugas Sebagai Tenaga Bantuan Operasi di Timor Timur

Eks Kepala BIN Ungkap Sosok Hercules yang Pernah Bertugas Sebagai Tenaga Bantuan Operasi di Timor Timur

Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
Youtube
Roazrio Marshal alias Hercules - Eks Kepala BIN Ungkap Sosok Hercules yang Pernah Bertugas Sebagai Tenaga Bantuan Operasi di Timor Timur 

BANGKAPOS.COM - Kisah Hercules, Pernah Bertugas Sebagai Tenaga Bantuan Operasi di Timor Timur

Nama Roazrio Marshal alias Hercules belakangan ini menjadi sorotan.

Hal ini lantaran perseteruannya dengan Gatot Nurmantyo dan Sutiyoso.

Sosok Hercules dikenal sebagai seorang preman kelas kakap. Namun hal itu hanya sebagian kecil kisah hidupnya.

Sebab ada kisah sang preman yang tak banyak diketahui publik seperti diungkap eks Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2001-2004, AM Hendropriyono.

AM Hendropriyono mengatakan jika Hercules dan para prajurit TNI ketika itu terlibat dalam perang Timor Timur merupkan korban konspirasi global.

Baca juga: Terungkap, Ternyata Inilah Sosok yang Ditakuti Hercules, Bukan Jenderal Gatot Nurmantyo dan Sutiyoso

Mereka terpaksa terlibat dalam perang di Timor Timur karena diotaki oleh Amerika Serikat. 

Saat itu, Front Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor Timur (Fretilin) dianggap Amerika sebagai penganut komunis.

"Dia (Hercules) dan para prajurit kita, adalah korban dari konspirasi global. Yang nyuruh kita ke Timor Timur dulu siapa? Amerika. Dia (Amerika) mau balas kekalahannya di Vietnam."

"Jadi tahun 1974 dia (Amerika) kalah, 1975 kami (TNI) ini masuk termasuk saya, bulan Februari masuk operasi Seroja, dia (Amerika) yang suruh, dikasih mobil, juga utility banyak sekali. Kita enggak punya mobil (saat itu)," ujar Hendropriyono seperti dikutip dari YouTube Prof Rhenald Kasali yang tayang pada Minggu (4/5/2025). 

Mobil-mobil untuk keperluan militer, kata Hendropriyono diangkut dari Vietnam setelah Amerika kalah perang.

Ia meyakini bahwa atasan-atasannya kala itu juga diperintah oleh Amerika Serikat untuk menyerbu Timor Timur. 

"Saya yakin bos-bos saya dulu karena saya kan masih kapten dulu kan, pasti juga disuruh sampai begitu hebat dan dulu sebelum kita nyerbu itu banyak yel-yel dan slogan 'Viva Amerika', 'Viva United States'," ujarnya. 

Indonesia yang didukung oleh Amerika kemudian menyerbu Timor Timur, yang kala itu sudah ditinggalkan Portugal.

"Jadi, kita mendukung Amerika untuk menyerbu sana selagi Portugal waktu itu dikuasai perwira-perwira revolusioner yang kiri. Jadi memang waktunya sangat tepat sehingga tidak terlalu sulit untuk menguasai."

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved