Tribunners
Tantangan Imparsialitas di Usia 26
imparsialitas seyogianya menjadi sebuah benteng dan pedoman moral agar tak ada beban, rasa bersalah, dan penyesalan dalam sebuah penyampaian berita
Oleh: Andre Winata - Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial
HARUS diakui bahwa Bangka Pos merupakan pionir media cetak modern di Provinsi Bangka Belitung. Menjadi sebuah media cetak terbesar di Bangka Belitung yang saban hari mengabarkan berita, iklan, dan pengumuman untuk kita semua tentu bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk itu, penghargaan dan pujian patut diberikan kepada Bangka Pos seraya merayakan milad ke-26 media cetak tercinta kita ini.
Salah satu tantangan terbesar yang mungkin dihadapi semua media berita adalah bagaimana bersikap objektif, adil, dan tidak memihak di tengah-tengah pusaran berbagai kepentingan dalam kehidupan sosial-politik-agama-budaya saat ini. Tak bisa dimungkiri, media bisa menjadi 'sasaran empuk' untuk dijadikan alat merebut pengaruh dan simpati masyarakat; apalagi di zaman modern yang serba digital. Akses berita yang hampir tanpa hambatan ke masyarakat menjadikan media sebagai primadona, apalagi di saat seperti pemilihan kepala daerah (yang kita tahu masih berlangsung satu putaran ulang lagi).
Raheel Farouq, seorang penulis Pakistan terkenal yang beraliran humanis menulis 'menjadi imparsial berarti mengimani bahwa kita parsial'. Tahapan pertama untuk dapat bersikap adil dalam masyarakat adalah menerima kemajemukan dan perbedaan itu sebagai entitas dan roh dari masyarakat itu sendiri. Maka setiap bagian, fraksi, dan elemen dalam masyarakat tersebut tentu memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama tanpa memandang mayoritas dan minoritas. Dengan berpijak pada prinsip inilah, kita bisa secara tegas memberikan hak penyampaian informasi, hak jawab, dan hak klarifikasi yang setara antara berbagai pihak, bahkan pihak-pihak yang berseteru, bersaing, dan berkompetisi.
'Kebenaran itu laksana cermin yang dijatuhkan Tuhan ke muka bumi dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingannya dan merasa dirinya yang paling benar' (Maulana Jalaluddin Rumi, filsuf dan penyair Persia). Mendapatkan informasi dari berbagai sudut pandang merupakan suatu keniscayaan demi sebuah berita yang faktual, tajam, dan tepercaya. Nilai sebuah informasi bukan terletak pada baik-buruknya, melainkan kesesuaiannya dengan fakta/kebenaran yang terjadi. Dengan bersikap imparsial kita memberikan ruang sebebas-bebasnya agar hal ini dapat terjadi seraya menolak intervensi, pengaruh, dan tekanan berbagai pihak yang mencoba memperalat. Bahkan, seorang terdakwa pun wajib didengar pendapatnya atas dasar praduga tak bersalah.
Bahwa media pada akhirnya tetaplah sebuah bisnis yang berusaha meraih keuntungan, tentu tak bisa kita mungkiri. Namun, prinsip-prinsip dasar dalam praktik dan teknis pelaksanaan bisnis yang benar tentu tak boleh dilupakan, meski godaan dan ujian silih berganti. Apakah masih relevan untuk kondisi saat ini di mana himpitan ekonomi begitu keras? Tentu saja! Bahkan imparsialitas seyogianya menjadi sebuah benteng dan pedoman moral agar tak ada beban, rasa bersalah, dan penyesalan dalam sebuah penyampaian berita kepada masyarakat.
Lalu apa tujuan akhirnya? Dari imparsialitas insyaallah akan muncul kualitas dan integritas. Dengan mengesampingkan persepsi dan prediksi personal, dan selalu mengedepankan semua sudut pandang yang relevan, hoaks dan fitnah tentu dapat ditangkal. Kualitas penyampaian berita tak akan diragukan. Bahwa sebuah berita tentu tak akan pernah memuaskan semua pihak, tak bisa pula kita sangkal.
Namun, misi jangka panjang pemberian informasi bukanlah memuaskan pikiran pembaca, melainkan membuka cakrawala kebenaran. Dengan meneguhkan posisi dan berpijak pada imparsialitas, masyarakat niscaya akan mendukung dan percaya pada integritas sebuah media. Berkaca dari kasus beberapa media yang di-cancel masyarakat karena dianggap menjadi 'corong' pihak tertentu, tentu imparsialitas menjadi isu santer yang perlu diperhatikan semua media.
Tak lupa sebagai pembaca setia, saya ucapkan selamat milad ke-26 untuk Bangka Pos. Semoga semakin maju, dewasa dan tepercaya. Bravo Bangka Pos! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250526_Andre-Winata.jpg)