Resonansi

Akal Imitasi

Akal imitasi telah mengubah banyak aspek hidup manusia. Inovasi akal imitasi terus berkembang.

Penulis: Ade Mayasanto | Editor: fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Di mesin pencari, akal imitasi juga membuat hasil pencarian. Terkadang, hasil pencarian bukan hanya berupa tautan dan alamat laman. Hasil pencarian juga berupa rangkuman dalam bentuk kalimat singkat dan padat. Bing Microsoft dan Google sudah menerapkan pola itu.

Sarannya, terkadang bisa jadi tidak selalu tepat. Sebabnya, saran itu didasarkan pada pola kebiasaan pengguna ponsel dan komputer.

Bayangkan kemudian bila akal imitasi sudah bisa mengakumulasi pola premis mayor, premis minor dan kemudian menghasilkan penalaran logis dari dua premis menjadi sebuah kesimpulan. 

Berbekal semantik, dan pola yang tersimpan di gudang data, hal itu bisa jadi bukan hal mustahil. Toh, akal imitasi sudah bisa merekomendasikan, walau terkadang belum sesuai saat ini.

Dan paradoks soal melimpahnya informasi, bisa jadi tak lagi menjadi hal yang ganjil. Dahulu semakin banyak kita tahu, lewat informasi yang cepat dan luas, semakin kita cepat lupa tentang apa yang kita tahu.

Tapi, berbeda dengan akal imitasi. Semakin cepat, semakin luas dan dalam, informasi terhimpun, semakin canggih kesimpulan dan rekomendasi tersaji.

"AI bisa membuat keputusan atas pola dan semantik yang mereka miliki," urai Dahlan.

Tiba-tiba saya gemetar. Timbul ketakutan, teringat pernyataan Fisikawan Stephen Hawking semasa hidup. Pernyataan itu diucapkan saat Hawking memberi sambutan pada acara Global Mobile Internet Conference (GMIC) Indonesi 2017 silam.

“Kecerdasan buatan akan berkembang dengan sendirinya,” ucap Hawking dalam video yang diputar GMIC di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang Selatan, Selasa, 26 September 2017.

Menurutnya, penelitian mengenai kecerdasan tumbuh sangat cepat dan diharapkan berfokus pada keuntungan yang dapat diraih bila menggunakan teknologi tersebut. 

Namun, ada dampak buruk yang bisa saja dihasilkan. Misalnya saja, penggunaan senjata otomatis, pesawat nirawak hingga mobil swakemudi.

CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk juga mengkhawatirkan pengembangan kecerdasan buatan yang makin masif. Sebabnya, pengembangan kecerdasan buatan tanpa pembatasan dapat memicu perang dunia ketiga.

Delapan tahun sejak kekhawatiran Hawking, cepat atau lambat, akal imitasi telah mengubah banyak aspek hidup manusia. Inovasi akal imitasi terus berkembang.

Polemik soal risiko dan tantangan mulai diantisipasi sejak awal. Dan kesiapan manusia berikut kebijakan pemerintah akan menjadi penentunya.

Harapannya, pemerintah dan pembuat kebijakan mesti memastikan teknologi kecerdasan buatan tidak membahayakan. Terutama, ketika akal imitasi beririsan dengan dinamika kekuatan. 

Bagaimanapun yang kuat, tentu memiliki kelebihan. Apalagi, saat bertemu dalam proses industrialisasi, bahasa yang ada hanya efesiensi dan efektivitas. Barulah irisan lain datang. Seperti pribahasa yang dikenang sejak sekolah dasar. "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya." 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved