Tribunners
Rumah Doa, Rumah Tuhan
Perusakan atas rumah doa, sekali lagi, diakui atau tidak, memang jelas mencederai etika ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang lama mengakar di Indonesia
Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Babel dan Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol, Padang
PERUSAKAN rumah doa di Padang, Sumatera Barat (27/07/25), ternyata dikabarkan ikut melukai anak berusia 9 dan 11 tahun yang sedang mengikuti pendidikan agama Kristen.
Memakai rumah doa untuk melangsungkan pendidikan belajar agama Kristen, konon lantaran di salah satu sekolah negeri tempat mereka menimba ilmu tidak disediakan mata pelajaran agama Kristen.
Padahal secara normatif, regulasi pemerintah telah menegaskan bila suatu sekolah mempunyai siswa beragama minoritas kurang dari 15 orang, pendidikan agamanya bisa dilaksanakan di luar melalui kemitraan dengan lembaga keagamaan yang masih satu wilayah.
Realitas ini tentu menjadi suguhan yang kurang elok dan tidak konstruktif dalam rangka pembumian toleransi dan moderasi beragama. Terlepas dari motif, spirit dan orientasi beberapa pelaku perusakan atas rumah doa, sekali lagi, diakui atau tidak, memang jelas mencederai etika ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang lama mengakar di Indonesia.
Bahkan (mungkin) bisa dikategorikan tidak memiliki kepekaan moral religiusitas dan humanitas. Sebab telah mendentumkan “rudal psikologis” yang otomatis menghantam mental anak-anak masa usia belajar. Dan pasti, anak-anak yang masih pelajar ini merasakan pukulan berat secara batin dan cukup traumatik.
Perusakan tetap perusakan. Apalagi di era digital, jejak rekam makin tidak mudah dihapus. Secepat kilat menyebar di link-link, akun-akun, website, media on line atau cetak, lokal maupun nasional, bahkan group-group di kalangan penikmat teknologi telekomunikasi dan sejenis.
Anak-anak yang mengalami langsung perilaku perusakan ini akan lama untuk bisa memulihkan keterpukulan nurani, mental, dan psikologisnya. Perlu dimaklumi dan terus didampingi, diedukasi, dan dibangkitkan semangat, obsesi, dan iktikad belajar mereka.
Simpati dan empati kolektif dari kita mesti senantiasa dialirkan melalui pelbagai cara dan mediasi. Sekira malah membuat anak-anak yang jadi korban perusakan berada pada titik frustasi mencermati dan melihat realitas disharmoni ini, konsekuensinya akan lain kelak.
Dahulukan Empati
Bahwa perusakan rumah doa ini realitas yang cukup memilukan, sama-sama kita sadari. Sebagai manusia logis dan beriman, tentu akan mengecam perilaku segelintir perusak itu.
Akan tetapi, selaku bagian dari bangsa besar dan ber-Bhineka Tunggal Ika, yang patut dilakukan ialah senantiasa dahulukan empati dari pada pernyataan atau sikap-sikap kontradiktif dan jauh dari semangat etik.
Sehingga tidak melebarkan persoalan dan memperuncing sentimentalitas diatasnamakan agama. Karena agama apa pun, sepanjang benar-benar menginternalisasi aspek, nilai, substansi, esensi, dan universalitas moralitas ilahiah, sama sekali tidak pernah mengajarkan hal-hal yang nir-manusiawiyah dan kesemestaan.
Agama selalu membawa keluhuran misi, nilai, komitmen, dan kebajikan dari dan untuk keseimbangan semesta.
Pernyataan yang dilontarkan Singgih Januratmoko, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, “Kita harus ingat kekerasan atasnama agama bisa berbalas dan saling dendam berkepanjangan,” (detiknews, 29/07/25), sembari mengingatkan tragedi Poso dan Ambon serta Sambas, patut dikoreksi.
Agama tidak pernah mengajari umat untuk membawa dendam berkepanjangan. Bahkan dendam, terutama dalam perspektif agama Islam, misalnya, merupakan salah satu “penyakit” yang tidak bisa dibiarkan terus menguasai diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220904_Masmuni-Mahatma-Wakil-Rektor-IAIN-SAS.jpg)