Tribunners

Rumah Doa, Rumah Tuhan

Perusakan atas rumah doa, sekali lagi, diakui atau tidak, memang jelas mencederai etika ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang lama mengakar di Indonesia

ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Babel dan Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol, Padang 

Dari dendam akan lahir pertikaian, friksi dan konflik yang kadang tidak berujung. Nalar dendam hanya akan menciptakan distorsi, disorientasi dan disrupsi terhadap kebajikan sekaligus harmoni dengan rupa-rupa keluhurannya. 

Dendam, sama sekali tidak akan menguntungkan siapa saja yang bertikai dan konflik. Sebaliknya, dendam lebih sering dan banyak menuntun orang menjadi tuna-kebenaran dan tuna-kebajikan. Termasuk menyangkut kebenaran ajaran agama dan panggilan etik ketuhanan. Maka dari itu, otokritik mesti ditempatkan sebagai medium introspeksi kolektif.

Dari semangat otokritik, kita akan cepat mengenali akar persoalan atau friksi sosial, apalagi yang dikaitkan dengan ‘otoritas agama’ tertentu. Melalui otokritik yang jernih dan obyektif jua, perspektif untuk menyelami problematika sosial keimanan di tengah umat akan lebih substansial. Tidak terjebak pada respon-respon atau sikap parsial yang justru dapat mengentalkan kemelut. 

Dari dan untuk otokritik rasional dan proporsional, yang akan lahir adalah ketulusan mendahulukan empati, bukan semata meresponi dan mengkritisi. Apalagi menyangkut sosial keimanan, meminjam filosofi Imam Ali bin Abi Thalib, bahwa siapa pun yang berbeda secara imani, sejatinya mereka tetap sesaudara dalam konteks kemanusiaan.

Jika paradigma humanisme-religius yang dikedepankan, problematika atau friksi dan konflik yang muncul, tidak akan terlalu sulit diedukasi. Sebab antar iman dalam pelbagai agama, seyogianya bisa “dikolaborasi” dan “diintegrasi,” khususnya menyangkut spirit dan komitmen masa depan kemanusiaan universal. Maka tidak etis jika selalu dihadap-hadapkan, lebih-lebih kalau tiba-tiba dibenturkan seenak kehendak pribadi maupun komunitas (berkepentingan).

Doa dan Tuhan

Setiap manusia, terutama mereka yang menganut iman perspektif pelbagai agama, akan sangat lekat dengan doa. Dalam pandangan Ali Syariati, misalnya, doa bukan semata rintihan atasnama kelemahan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan hamba di hadapan Tuhan.

Doa bukan juga ‘penghibur diri’ umat beriman. Masih kata Ali Syariati, doa adalah pusaka yang langsung ‘diwariskan’ Allah SWT kepada tiap-tiap hambaNya. Tak berlebihan, wabilkhusus dalam paradigma Islam, ketika Allah menegaskan agar masing-masing hamba senantiasa memanjatkan doa, memohon, meminta, merayu, dan ‘menyentuh’ Allah SWT terkait kehendak dan hasrat dasari manusia, niscaya Allah akan mengabulkan. “Ud’uni astajib lakum.” 

Doa dan Tuhan merupakan “eksistensi” dan “realitas” yang tidak bisa dipisahkan. Sebagai pusaka ‘warisan’ Allah, doa itu sakral. Doa dari keberadaan dan maknanya memang luhur. Doa adalah perisai tiap diri yang beriman. Siapa saja memanjatkan doa dengan khusyu, berarti sedang menjalin kehangatan, kerinduan, dan kemesraan langsung dengan Tuhan.

Rumah doa dalam tradisi Kristen Protestan, merupakan tempat dimana umat berkumpul dan memadukan getaran batin bersama memuji sekaligus memanjatkan doa kepadaNya. Dalam tradisi Islam, rumah doa serupa musolla, langgar (kelasnya dibawa masjid), tempat umat Islam menunaikan ibadah salat lima waktu maupun ritual-ritual lain sesuai konstruksi imani dan ketakwaaan. 

Merusak rumah doa seperti yang terjadi di Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu kemarin, bagian dari perilaku brutal. Rasanya dapat dikategorikan merusak rumah Tuhan. Mencabik-cabik rumah Tuhan.

Perbuatan yang bukan saja tidak dapat dibenarkan, melainkan sangat keluar dari konstruksi imani dan ketakwaan. Apalagi rumah doa itu sedang dipakai mengajarkan agama Kristen terhadap siswa-siswi yang berpijak pada regulasi maupun konstitusi.

Ini sangat memilukan. Bukan hanya paradoks dan ambigu secara imani, tetapi sudah lepas kendali. Menjatuhkan martabat pendidikan dan mengabaikan harmoni kebangsaan. 

Apa yang disinyalir Andreas Harsono, pengamat pendidikan, bahwa “Pendidikan Indonesia morat-marit enggak karuan. Jangan cuma meladeni yang mayoritas,”(BBC News Indonesia, 29/07/25), benar adanya. Realistis. Tidak mengada-ada. Cukup berdasar.

Ini cambuk agar kita segera sadar dan bangkit. Maka perusakan rumah doa ini patut dievaluasi dan dijadikan inspirasi demi untuk saling menghargai, menghormati, menasehati, melengkapi, dan saling menguatkan berbasis harmoni.

Terlebih akar tradisi Padang, Sumatera Barat, masih kental. Filosofi alue jo patuik dan raso jo pareso, yakni berpegang teguh pada alur dan kepatutan serta memeriksa (pe)rasa(an) sekaligus menggunakan hati dan akal kala bertindak merupakan salah satu kearifan lokalnya. (*/E1)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved