Tribunners

Mahasiswa dan Beasiswa

Patut disyukuri bahwa akses pendidikan bagi generasi bangsa ini kian terbuka, bertumbuh dan maju.

Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Dokumentasi
Masmuni Mahatma, Ketua Tanfidziyah PWNU Babel dan Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol, Padang 

Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Kep. Babel dan Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol Padang  

PATUT disyukuri bahwa akses pendidikan bagi generasi bangsa ini kian terbuka, bertumbuh dan maju. Tak sedikit diantara mereka, terutama mahasiswa yang tergolong berada pada situasi sosial ekonomi memprihatinkan justru mampu menunjukkan kapasitas dan kualitas dirinya dalam mengenyam pendidikan di berbagai level. Di samping menyangkut semangat, spirit, obsesi, cita-cita, dan ijtihad kependidikan mereka yang besar, hal ini ternyata juga dilatari sentuhan-sentuhan edukatif program beasiswa dari perorangan, swasta, dan pemerintah dengan segala kelebihan, keterbatasan, kelemahan dan hal-hal prospektif yang cukup produktif. 

Mahasiswa tampaknya mulai menemukan momentum paradigmatik-edukatifnya melalui sentuhan beasiswa lintas sektoral ini. Era keterbukaan pendidikan, mesti dimaksimalkan dan dikembangkan semaslahat mungkin oleh mahasiswa atasnama kelas sosial apa pun. Menyia-siakan potensi dan kesempatan berbasis berkah sosial pendidikan ini bukan saja “kurang faire” melainkan juga telah mentunakan diri dalam konteks kepekaan kebajikan berkehidupan. Ini tidak dapat, keliru, dan bisa saja tergolong “kafir nikmat” atas ruang dan jalan yang telah disuguhkan Allah SWT melalui tangan-tangan atau kebijakan-kebijakan pihak-pihak yang diamanahi kekuasaan. 

Cukup jelas dalam ajaran agama bahwa hal-hal yang baik mesti diambil, dimaknai, disikapi, diolah, dipompa, dimaksimalkan dan ditransformasikan demi kemaslahatan kolektif kehambaan. Seruan Allah SWT agar setiap hamba tanpa kecuali diminta senantiasa ta’awanu ala al-birri wa al-taqwa wala ta’awanu ala al-ismi wal ‘udwan, saling kreatif dan inovatif dalam kebajikan dan ketakwaan, merupakan realitas yang tidak bisa diabaikan (QS. al-Maidah : 2). Kebajikan dan ketakwaan, merupakan dua hal ideologis dan substansialistik yang benar-benar selalu dilekatkan oleh Allah SWT dalam banyak ayat. Tentu bukan sekadar ayat biasa, akan tetapi mempunyai nilai-nilai dan arah spiritualitas yang luhur. 

Fenomena Mahasiswa

Lepas dari semangat luhur di atas, fenomena di kalangan mahasiswa memaknai, menyikapi, dan menempatkan sentuhan beasiswa ini patut juga dicermati. Bukan untuk hal yang negatif, melainkan agar saling mengisi, menginspirasi, dan melengkapi. Sehingga sentuhan beasiswa kependidikan tidak menjadi sesuatu yang paradoks atau bahkan ambigu. Bahkan harus diantisipasi dan dicegah sedini mungkin agar tidak menjadi problematika baru dalam dunia pendidikan, baik di lingkungan lembaga swasta, negeri, pondok pesantren, yayasan, majelis, atau sejenis yang berada dalam naungan bangsa ini. Sebab ini amanah kebajikan yang harus dikawal, dilestarikan, dan dibumikan atasnama kesadaran kehambaan dan kemaslahat publik.

Setidaknya ada tiga kategori fenomena mahasiswa terkait dengan program beasiswa ini. Pertama, ada mahasiswa yang menyambut dan menempatkan sentuhan beasiswa sebagai hal biasa, bahkan tergolong telat dipikirkan dan diwujudkan. Mereka lalu tak ambil peduli ada atau tidak ada beasiswa. Niat dan semangat mereka berpendidikan bukan tergantung akan beasiswa. Dalam perspektif mahasiswa kategori ini, mencari ilmu, berpendidikan, dan meraih gelar sarjana merupakan “ibadah” yang wajib dilaksanakan tanpa terhalang sesuatu parsialistik berkehidupan. Terlebih yang dipakai hadis Nabi Muhammad Saw, bahwa ilmu wajib diselami hingga ke liang lahat. 

Kedua, mahasiswa yang mulai melirik dan menganggap sentuhan ini layaknya menu kenikmatan yang dihidangkan untuk dicicipi, dinikmati, dan diambil sebaik-mungkin. Mereka bersuka cita dan perlahan melakukan inisiatif, ikhtiar, dan berjihad untuk mengambil bagian secara prosedural serta mengaluri yang legal. Tahapan administratif, akademik, dan kompetitif dijalani penuh semangat. Sekira diantara mereka ada yang belum beruntung di fase awal, bangkit dan melaju penuh obyektif lagi pada fase berikutnya. Sebagian mahasiswa kategori ini menganggap bahwa proses dan tahapan yang diikuti sejatinya bagian dari “uji kualitas” potensi dan jihad akademik tak ternilai di hadapan Tuhan. Tak ada kamus frustasi, apalagi mendistorientasi apa yang disuguhkan secara gratis ini.

Ketiga, mahasiswa yang ambil posisi pasif atau antipati tidak dan aktif atau simpati juga tidak. Kategori ini rata-rata ada pada mereka yang memiliki “tradisi” idealis dengan latar kultur dan kondisi sosial ekonomi yang terbilang mapan. Mereka tak mau bersentuhan, apalagi ikut menikmati. Mereka beranggapan sentuhan beasiswa ini memang dicipta dan diperuntukkan untuk mahasiswa-mahasiswa dengan keberadaan sosial yang telah ditentukan. Bukan semata soal perekonomian yang rendah, melainkan prestasi yang ditentukan dan dilihat tidak saling kontradiksi dalam lingkup landasan filosofis, akademis, dan strategis demi pencapaian visi makro beasiswa itu sendiri. Mereka telah sedari awal obyektif bahwa jalur ini bukan untuk dirinya. 

Pengelolaan Beasiswa

Namun demikian, pengelolaan beasiswa tidak pernah mudah. Apalagi kalau bersandar terhadap kriteria-kriteria atau standar maupun patokan sebagai dasar fundamentalistiknya. Belum lagi bilamana dikaitkan dengan atensi, afirmasi, dan aspirasi dari pelbagai lintasan melalui argumentasi sekaligus data-data obyektifnya. Wajar kalau ada yang beranggapan bahwa pengelolaan beasiswa sepintas memang terlihat ringan atau mudah, tetapi di lapangan seringkali kerumitan bukan main. Sehingga kontribusi pemikiran positif-konstruktif, support moral, dan keberimbangan data-data obyektif dari pelbagai pihak benar-benar sangat berarti demi pengelolaan yang efektif, efisien, tepat guna, dan tepat sasaran.

Beasiswa pendidikan belakangan cukup banyak, mulai dari beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), beasiswa dari Bank Indonesia (BI), beasiswa Baznas, beasiswa Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa PT Timah Tbk, beasiswa Bank Jabar-Banten (Jawa Barat), Bank Nagari (Sumbar), Bank Sumsel Babel, dan bank-bank daerah di berbagai propinsi. Ada pula Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dibawah naungan langsung Kementerian Keuangan, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) di Kemendikbudristek, dan lain-lain. Di luar itu masih ada beasiswa dari Perusahaan besar seperti PT. Djarum Super, PT. Gudang Garam, Yayasan Orbit Hasri Ainun Habibie, dan beasiswa Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Pemerintah Daerah.

Pengelolaan beasiswa mesti ditata secara kolektif berbasis paradigma dan komitmen akademik maupun sosial yang lebih integralistik serta empatik. Bahwa “top leader” secara manajemen tetap berada di masing-masing lembaga pendidikan itu hal niscaya. Akan tetapi pola komunikasi, interaksi, kolaborasi, dan integrasi, terutama mengenai data-data, prasyarat, dan kelengkapan administratif maupun hal-hal substantif perlu senantiasa diharmonikan berbasis kesadaran penuh ketulusan antara pengelola dengan lembaga pemberi beasiswa atau tenaga sukarela perwakilan masyarakat. Sehingga kesalahan data atau kekeliruan informasi tidak ikut merusak konstruksi pengelolaan yang telah dirumuskan oleh pengelola resmi. Spirit ini juga dapat mencegah melebar-liarnya kecurigaan dan tendensi negatif yang tak jarang mendisorientasi tujuan luhur beasiswa.

Pengelolaan berbasis “kehendak kolektif” ini sepertinya akan menjadi nilai tambah untuk keterarahan dan ketepatan pemberian beasiswa kepada mahasiswa dengan pelbagai latarnya. Paling tidak menguatkan optimisme target luhur beasiswa demi ikut memberikan jaminan kelangsungan kependidikan, melejitkan kapasitas, menajamkan kreatifitas, inovasi, pengembangan ideologi diri dan karir mahasiswa menghadapi sekaligus menjalani kompetisi hidup di era global. Dari sini alur dan jalur obyektifitas, produktifitas, efektifitas dan akuntabilitas pengelolaan beasiswa akan semakin rasional, proporsional, optimal, serta berdampak universal. Bahkan, melalui semangat dan pola pengelolaan visible ini, mahasiswa bisa menikmati beasiswa lebih aspiratif, edukatif, dan prospektif. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved