Menyapa Nusantara
Menanam Hijau, Memanen Laut
Pemerintah Kota Surabaya mulai mengembangkan sistem silvofishery atau wanamina sebagai solusi menghadapi abrasi, krisis iklim ...
Jejak perubahan
Meski menjanjikan, silvofishery bukan konsep yang bisa langsung diterima semua pihak. Tantangan terbesarnya justru terletak pada perubahan kebiasaan masyarakat pesisir.
Petambak selama ini terbiasa dengan pola budidaya konvensional yang mengutamakan luasan kolam produksi. Menanam mangrove di area tambak sering dianggap mengurangi ruang usaha. Belum lagi kekhawatiran soal biaya adaptasi, perawatan, hingga ketidakpastian hasil panen.
Karena itu, langkah BRIDA Surabaya menyiapkan kawasan percontohan menjadi penting. Dalam konteks masyarakat pesisir, keberhasilan yang terlihat langsung sering kali lebih meyakinkan dibanding teori atau sosialisasi panjang.
Pendekatan itu juga menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak cukup berhenti pada riset laboratorium. Ia harus hadir dalam bentuk praktik yang dapat disentuh masyarakat sehari-hari.
Kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperlihatkan arah tersebut. Kebun Raya Mangrove Surabaya mulai dikembangkan sebagai laboratorium hidup yang menghubungkan teknologi, riset, dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Sensor Internet of Things untuk memantau kualitas lingkungan, pengembangan padi salin, hingga gagasan kapal listrik ramah lingkungan menunjukkan bahwa masa depan pesisir tidak bisa lagi dipisahkan dari inovasi.
Namun, tantangan berikutnya jauh lebih besar. Silvofishery membutuhkan konsistensi kebijakan lintas sektor. Persoalan pesisir tidak hanya terkait perikanan, tetapi juga tata ruang, industri, limbah, hingga perubahan iklim.
Tanpa pengendalian pencemaran sungai dan laut, misalnya, ekosistem mangrove tetap akan tertekan. Tanpa perlindungan tata ruang, kawasan pesisir berisiko kembali tergerus proyek-proyek pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Di sinilah Surabaya menghadapi ujian penting sebagai kota metropolitan. Apakah pembangunan pesisir akan terus berorientasi pada eksploitasi jangka pendek, atau mulai bergerak menuju model ekonomi yang lebih tahan krisis.
Akar ketahanan
Silvofishery sesungguhnya bukan hanya soal tambak dan mangrove. Ia adalah pelajaran tentang cara kota memandang alam.
Selama ini, banyak kota tumbuh dengan memisahkan manusia dari ekosistemnya. Sungai diperlakukan sebagai saluran limbah, pesisir dianggap ruang cadangan reklamasi, dan hutan mangrove dipandang lahan kosong yang siap dikonversi. Akibatnya, kota kehilangan pelindung alaminya sendiri.
Surabaya mencoba mengambil jalur berbeda. Upaya memperluas tutupan mangrove sambil tetap menjaga produktivitas ekonomi memberi pesan bahwa pembangunan tidak selalu harus memilih antara lingkungan atau kesejahteraan warga.
Tentu, program ini belum sempurna. Skala implementasi masih terbatas dan membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Edukasi masyarakat, dukungan pembiayaan hijau, hingga insentif bagi petambak ramah lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260529-Menanam-Hijau-Memanen-Laut.jpg)