Sabtu, 30 Mei 2026

Menyapa Nusantara

⁠Menanam Hijau, Memanen Laut 

Pemerintah Kota Surabaya mulai mengembangkan sistem silvofishery atau wanamina sebagai solusi menghadapi abrasi, krisis iklim ...

Tayang:
ANTARA
⁠Menanam Hijau, Memanen Laut 

BANGKAPOS.COM, SURABAYA -- Angin pesisir di Kota Surabaya, Jawa Timur tak lagi hanya membawa aroma asin laut dan lumpur tambak.

Di kawasan Wonorejo hingga Gunung Anyar, angin itu juga membawa harapan baru tentang cara kota pesisir bertahan di tengah ancaman abrasi, krisis iklim, dan penyusutan ruang hidup nelayan tambak.

Harapan itu tumbuh dari akar-akar mangrove yang kini tidak lagi dipandang sebagai penghalang produktivitas, melainkan bagian dari sistem ekonomi pesisir itu sendiri.

Di tengah tekanan pembangunan kota, pesisir Surabaya menghadapi persoalan yang jamak dialami banyak kota pantai di Indonesia. Abrasi terus menggerus garis pantai, kualitas air memburuk, suhu kota meningkat, dan ekosistem pesisir perlahan kehilangan daya dukungnya. Pada saat yang sama, masyarakat tambak dituntut tetap produktif demi mempertahankan penghidupan.

Dalam situasi itulah metode silvofishery atau wanamina menemukan relevansinya. Konsep yang menggabungkan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove itu kini mulai dikembangkan lebih serius oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

Gagasan dasarnya sederhana, tetapi dampaknya besar. Tambak tidak lagi dipisahkan dari hutan mangrove. Pohon mangrove justru ditanam dan dirawat di area budidaya agar membentuk ekosistem alami yang mendukung pertumbuhan ikan, udang, kepiting, sekaligus menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Yang menarik, pendekatan ini lahir bukan dari romantisme konservasi semata. Surabaya mencoba membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi warga.

Akar kehidupan

Selama bertahun-tahun, banyak kawasan mangrove di Indonesia ditebang demi perluasan tambak konvensional. Mangrove dianggap mengurangi ruang produksi dan mempersempit area budidaya. Akibatnya, banyak pesisir kehilangan benteng alaminya terhadap abrasi dan intrusi air laut.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan mangrove memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih kompleks. Akar mangrove mampu menahan sedimen, menyerap karbon, menjadi tempat pemijahan ikan, sekaligus menjaga kestabilan kualitas air. Ekosistem itu menciptakan rantai kehidupan yang justru mendukung produktivitas perikanan.

Surabaya mulai membaca ulang hubungan tersebut. Pengalaman panen bandeng di kawasan mangrove Wonorejo pada 2021 menjadi salah satu contoh awal. Dari tambak berbasis silvofishery seluas sekitar satu hektare, kawasan itu mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Angka itu menunjukkan bahwa integrasi mangrove tidak otomatis menurunkan hasil budidaya.

Di banyak negara, pendekatan serupa sudah lebih dulu berkembang. Vietnam menjadikan silvofishery sebagai strategi adaptasi perubahan iklim di Delta Mekong. Thailand mengembangkan tambak udang berbasis mangrove untuk menjaga keberlanjutan ekspor hasil laut.

Bahkan dalam sejumlah studi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, sistem ini dinilai mampu mengurangi kerusakan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat pantai.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan model serupa. Luas hutan mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,4 juta hektare atau terbesar di dunia. Namun, sebagian besar masih menghadapi ancaman degradasi akibat alih fungsi lahan dan pencemaran.

Karena itu, langkah Surabaya menarik bukan semata karena skala programnya, melainkan karena keberanian mengubah cara pandang terhadap pesisir kota. Mangrove tidak lagi ditempatkan sebagai ruang sisa pembangunan, melainkan fondasi ekonomi hijau perkotaan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved