Tribunners
Dari Bursa ke Dompet Daerah: Saat Politik Guncang Ekonomi
Pasar modal baik IHSG maupun JII hanya bisa tumbuh sehat bila masyarakat percaya bahwa tata kelola negara amanah.
Oleh: Efri Andini - Dosen Universitas Bangka Belitung
BELAKANGAN ini, publik ramai memperbincangkan wacana tambahan tunjangan bagi pejabat legislatif. Isu ini menuai perhatian luas karena muncul di tengah harga kebutuhan pokok yang meningkat dan masih tingginya tingkat pengangguran.
Namun, di balik hiruk pikuk perdebatan politik, ada lapisan isu lain yang jarang mendapat sorotan: bagaimana kebijakan fiskal dan politik yang menimbulkan kontroversi dapat beresonansi ke pasar modal—dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan per kapita masyarakat, termasuk di daerah.
IHSG, JII, dan sentimen publik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering disebut barometer kesehatan ekonomi nasional. Gejolak politik kerap memicu pergerakan signifikan.
Pada Maret 2025, IHSG sempat turun lebih dari 5 persen dalam sehari hingga memicu trading halt. Fenomena ini menunjukkan bahwa stabilitas politik menjadi faktor penting bagi keberlangsungan investasi.
Di sisi lain, terdapat Jakarta Islamic Index (JII), yang memuat saham-saham berbasis prinsip syariah. Indeks ini menyaring emiten yang tidak berkaitan dengan riba, judi, maupun sektor non-halal.
Kajian menunjukkan, pergerakan JII memiliki kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang, meski tetap memiliki volatilitas jangka pendek. Bedanya, investor syariah umumnya lebih berorientasi pada nilai (value driven), yakni memperhatikan aspek etika di samping keuntungan finansial.
Jika dikaitkan dengan kerangka maqā id al-syarī‘ah, maka prinsip if al-māl (menjaga harta) harus berjalan seiring dengan if al-nafs (menjaga jiwa) dan if al-ʿaql (menjaga akal sehat kebijakan). Artinya, tata kelola keuangan publik yang proporsional akan memperkuat kepercayaan masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas pasar.
Dari bursa ke per kapita
Sebagian orang mungkin bertanya: “Apa kaitan fluktuasi IHSG dengan pendapatan masyarakat di Bangka atau Wonosobo?”
Jawabannya cukup jelas. Berbagai penelitian ekonomi menunjukkan bahwa investasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan tersebut kemudian tercermin dalam produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita.
Contoh sederhana: DKI Jakarta memiliki PDRB per kapita sekitar Rp344 juta (2024). Jika pertumbuhan ekonomi melemah 0,5–1 poin, dampaknya setara dengan penurunan Rp1,7 juta–Rp3,4 juta per orang per tahun.
Bangka Belitung dengan PDRB per kapita Rp70 juta: penurunan 0,5–1 poin berarti Rp350 ribu–Rp700 ribu per orang. Bagi pelaku usaha mikro, jumlah itu bisa berarti tambahan modal atau biaya sekolah anak.
Dengan demikian, stabilitas pasar modal bukan hanya urusan investor di kawasan bisnis Jakarta, tetapi juga berdampak nyata hingga ke nelayan Belitung atau pedagang kopi di Manggar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250907_perdagangan-saham.jpg)