Sabtu, 2 Mei 2026

Tribunners

Masa Depan Pariwisata di Era Hidayat Arsani

Kepulauan Bangka Belitung punya modal besar. Pantai menawan, budaya kaya, masyarakat ramah, dan posisi strategis di jalur internasional

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Jonathan Bastanta
Jonathan Bastanta - Analis Pariwisata Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Sejak 2023, Kepulauan Bangka Belitung sudah memiliki roadmap atau peta jalan ekonomi kreatif. Namun, dokumen ini belum bertransformasi menjadi regulasi formal karena menunggu selesainya peta jalan nasional agar selaras dengan kebijakan pusat. Kekosongan ini membuat subsektor kreatif yang seharusnya mampu menopang pariwisata belum berkembang optimal. 

Meski demikian, peluang terbentang lebar. Dari kuliner khas seperti es jeruk kunci, kriya purun ramah lingkungan, hingga produk digital generasi muda, potensi lokal terus tumbuh. Dengan dukungan berupa inkubasi usaha, perlindungan kekayaan intelektual, validasi digital, serta perluasan akses pasar, ekonomi kreatif bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi bisa tampil sebagai mesin kedua pariwisata, sekaligus wajah baru daya saing daerah di tingkat nasional maupun global.

Optimisme juga datang dari berbagai momentum eksternal yang makin menegaskan posisi Kepulauan Bangka Belitung di peta pariwisata. Kedatangan kapal pesiar Paul Gauguin di Pantai Parai, misalnya, memberi sinyal kuat bahwa segmen bahari premium punya pasar yang bisa digarap lebih serius. Sementara itu, rangkaian event seperti Explore Babel, Jelajah Jalur Rempah, Belitung Beach Festival, hingga Festival Maritim Belitung terbukti mampu menarik perhatian wisatawan nusantara dan memperkuat citra destinasi. 

Partisipasi di ajang internasional juga terus diperluas. Setelah sebelumnya lewat Bali & Beyond Travel Fair berhasil menghadirkan wisatawan mancanegara, tahun ini provinsi kembali hadir di Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) serta Trade Expo Indonesia (TEI) dengan harapan dapat memperluas akses pasar, sekaligus memperkuat jejaring internasional.

Salah satu kunci optimisme terletak pada bagaimana Kepulauan Bangka Belitung mengelola data. Selama ini, statistik pariwisata lebih banyak berhenti pada angka kunjungan dan lama tinggal. Padahal, dengan memanfaatkan teknologi terbaru seperti Mobile Positioning Data, survei digital, hingga exit survey, pemerintah daerah bisa mendapatkan gambaran yang jauh lebih rinci: siapa wisatawan yang datang, berapa lama mereka tinggal, berapa besar pengeluaran mereka, hingga destinasi apa saja yang benar-benar memberi pengalaman berkesan.

Informasi semacam ini bukan hanya catatan angka, melainkan fondasi untuk menyusun program yang lebih tepat sasaran. Kajian berbasis data akan membantu menargetkan segmen pasar dengan produk wisata yang relevan, misalnya apakah perlu lebih mendorong paket wisata bahari premium, wisata desa berbasis budaya, atau justru perjalanan singkat untuk pasar domestik.

Di sinilah peran perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi penting. Dengan keterlibatan akademisi, analisis data dapat dilakukan secara lebih mendalam, termasuk proyeksi tren jangka panjang. Sinergi ini tidak hanya memperkuat akurasi kebijakan, tetapi juga memberi ruang bagi inovasi berbasis riset di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Jika dikelola serius, Bangka Belitung bisa menjadi contoh provinsi kepulauan yang menjadikan data sebagai landasan utama dalam merancang kebijakan pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Kepulauan Bangka Belitung punya modal besar. Pantai menawan, budaya kaya, masyarakat ramah, dan posisi strategis di jalur internasional. Data terbaru menunjukkan lonjakan perjalanan wisatawan, kebijakan baru pemerintah provinsi menghadirkan arah pembangunan yang lebih fokus, desa wisata mulai berbenah, konektivitas udara dibenahi, ekonomi kreatif digerakkan, dan momentum event nasional maupun internasional terus menguatkan posisi di peta pariwisata Indonesia tanpa melupakan elemen daya saing berkelanjutan dengan pelibatan komunitas, kapasitasi SDM dan penciptaan narasi destinasi berbasis kearifan lokal.

Tantangan memang masih ada, dari regulasi hingga infrastruktur. Namun, langkah-langkah yang kini sedang dijalankan menandai pergeseran penting, dari sekadar mengejar angka kunjungan menjadi upaya memastikan dampak nyata bagi masyarakat lokal.

Transformasi pariwisata bukan semata soal mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi tentang bagaimana menjadikan pariwisata medium pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan sinergi lintas sektor dan konsistensi kebijakan, optimisme yang kini tumbuh dapat diwujudkan. Jika terjaga, Kepulauan Bangka Belitung bukan hanya bangkit, melainkan juga bertumbuh menjadi motor utama pembangunan daerah di masa depan. Semoga! (*)

 

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved