Senin, 11 Mei 2026

Tribunners

Meratapi Nasib Pariwisata di Bangka Belitung

Masa depan pariwisata daerah ini tidak terletak pada kompromi yang mustahil, melainkan pada komitmen tegas untuk melindungi fundamen ekologis

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Imam Yudi Saputra
Imam Yudi Saputra, M.Par. - Dosen LB IAIN SAS Bangka Belitung, Penggiat Pariwisata Hijau dan Biru 

 

Oleh: Imam Yudi Saputra, M.Par. - Dosen LB IAIN SAS Bangka Belitung, Penggiat Pariwisata Hijau dan Biru

MEMPERINGATI Hari Pariwisata Dunia pada tahun ini, penulis ingin menyoroti pada aksi masyarakat nelayan Bangka Belitung mengenai tolak tambang laut pada aksi demonstrasi 21 Juli 2025 di kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, dilakukan dua bulan yang lalu. Eskalasi masyarakat nelayan dalam aksi demonstrasi yang terjadi kemarin tentu tak sekadar tentang perjuangan kelompok nelayan terhadap ruang tangkap hasil laut mereka yang diganggu oleh eksploitasi aktivitas tambang timah di laut. Namun, lebih dari itu kita harus melihat secara kritis dengan melihat dari sudut pandang yg lebih jauh, yaitu mengenai keberlanjutan sektor pariwisata. 

Aktivitas tambang laut tentu berpotensi besar merusak ekosistem bahari, memorak-porandakan ruang laut, kearifan lokal, dan tentunya sedikit banyak telah menghancurkan mata pencaharian nelayan. Jadi sedih dan miris sekali bangga-bangga kita selama ini menggaungkan baik di pemerintahan, di kampus, di berbagai forum-forum skala lokal, regional dan internasional soal daya tarik keindahan Babel dengan ragam kekayaan keindahan alamnya yang begitu memesona; mulai dari pantai dengan pasir putih halus bersihnya, batu-batu granit cantik besar menjulang, serta keragaman sumber daya hayati, biodiversitas atau aneka biota lautnya yang sangat mengagumkan bagi banyak wisatawan dalam dan luar negeri beberapa tahun terakhir. 

Ironisnya, berbeda dengan yang digaungkan oleh pemerintah daerah sering kali terjebak dalam populisme semu antara keinginan pertumbuhan ekonomi secara instan sehingga lebih mengedepankan pertambangan ketimbang berikhtiar serius membenahi sektor pariwisata Babel yang terbukti sebelum pandemi Covid-19 relatif membantu menopang lanskap perekonomian daerah selama ini pascaekonomi lada putih dan karet yang kian menipis dan hilang (Rendy Hamzah, 2024). 

Semestinya, para pemangku kepentingan kita di Babel harus berpikir visioner jauh ke depan agar secara serius memperjuangkan nasib pariwisata lokal sebagai bagian dari proyek strategis dan berkelanjutan yang begitu menjanjikan Babel sebagai tujuan berpelancong para wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Konflik tambang laut ini menjadi alarm penting bagi masa depan pariwisata Bangka Belitung. Kerusakan lingkungan akibat pertambangan akan menimbulkan masalah yang sulit diperbaiki: konflik warga meningkat dan kian tersisih, air laut tercemar, terumbu karang rusak, ikan dan biota laut hilang, serta pemandangan alam yang menjadi daya tarik utama wisatawan akan hancur. Berangkat dari pengalaman pulau-pulau lain seperti Nauru dan Banaba Island membuktikan bahwa pariwisata begitu sulit pulih setelah lingkungan rusak parah akibat pertambangan. 

Lantas mengapa demikian? 

Aksi yang dilakukan oleh kawan-kawan kelompok nelayan secara tidak langsung menjelaskan bahwa ini semua merupakan perlawanan ganda dari kaum yang dianggap lemah untuk melindungi beragam lapis sosial-ekonomi mereka. Alasannya, pertama, itu juga bagian dari ikhtiar mereka untuk menjaga mata pencaharian sekaligus sumber protein yang puluhan tahun menghidupi anak cucu mereka. 

Kedua, ini juga bagian dari mencegah kutukan sumber daya jika laut dirusak, maka petaka bisa menimpa mereka kapan saja. Ketiga, ini juga irisan kepentingan antara semangat kultural warga lokal untuk ikut berkontribusi menjaga sumber daya potensial wisata bahari sebagai aset penting dan bernilai bagi mendukung Bangka Belitung sebagai salah satu tujuan destinasi wisata berbasis kepulauan di Indonesia. 

Kita bisa saja membayangkan entah beberapa tahun ke depan, Babel bisa dengan bangga masuk sebagai daerah super prioritas sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia yang sudah lebih dahulu menggarap serius proyek strategis ini. 

Menjadikan laut sebagai modal pariwisata

Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan diuntungkan dengan letak geografisnya yaitu berupa bentang kawasan pesisir yang panjang sehingga membentuk kawasan pantai yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata dengan berbagai macam atraksi, mulai dari berenang di pantai, kamping, menikmati pemandangan hingga atraksi menyelam dengan daya tarik utama adalah keanekaragaman jenis ikan dan terumbu karang dibawah laut, yang dapat memberikan nilai mata pencaharian baru bagi para penduduk pesisir. 

Hal itu juga ditegaskan dalam peraturan daerah tentang pendapatan daerah Babel. Yang mana sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang disebutkan sebagai sektor pendapatan ekonomi utama di Bangka Belitung. Bayangkan jika seluruh laut di Bangka Belitung harus ditambang, bukan hanya merusak tangkap ikan nelayan, tetapi sama juga membunuh sektor pariwisata.

Belajar dari pengalaman destinasi pariwisata yang hilang. Dalam hal ini kesadaran para penambang dan pemerintah daerah dalam memberikan izin pertambangan tampaknya terlalu ugal-ugalan, mereka tidak berkaca dari beberapa destinasi yang dahulu dijadikan sebagai objek wisata yang kini telah hilang. Seperti di Pangkalpinang Pantai Tapak Hantu, Pantai Tanjung Bunga, Pantai Sampur, di Bangka Pantai Matras, pantai di perairan Teluk Kelabat Dalam, Pulau Nanas, hingga pantai di Bangka Barat dan Bangka Selatan yang juga terdampak. 

Melihat pengalaman yang sudah pernah terjadi menjadi cerminan bahwa tambang dan pariwisata tidak dapat berjalan secara beriringan. Bayangkan jika seluruh laut ditambang, siapa yang akan mengisi pasokan ikan di restoran, siapa yang menginap di hotel, siapa yang akan mengunjungi pantai dan siapa yang akan berliburan ke Bangka Belitung? Pertanyaan ini seharusnya menegaskan bahwa apabila kegiatan ekstraktif tambang laut terjadi, maka bukan hanya nelayan namun, sektor pariwisata adalah salah satu yang berdampak buruk paling besar.

Benarkah pariwisata dan pertambangan bisa berdampingan?

Jika ditelisik secara kritis pariwisata dan pertambangan secara fundamental berdiri di atas dua fondasi yang berbeda. Pertanyaannya: apakah pariwisata dan pertambangan bisa berdampingan? Tentu, pariwisata dan pertambangan beroperasi pada paradigma ontologis yang bertentangan, yang satu membangun nilai melalui kelestarian dan keberlanjutan lingkungan, sementara yang lain menciptakan profit melalui ekonomi yang sangat merusak dan eksploitatif. 

Klaim bahwa keduanya bisa ‘berdampingan’ patut untuk selalu dikritisi karena bisa jadi bagian dari ilusi berbahaya yang mengaburkan kenyataan bahwa setiap ribuan ton mineral yang ditambang dari laut Bangka Belitung merupakan nilai pariwisata yang pelan-pelan dirusak sehingga banyak sumber-sumber daya ekologis yang hilang dan tak lagi sehat dan stabil seperti semula. 

Sekali lagi, pariwisata hadir merupakan identik dengan keindahan, pelestarian, melindungi, dan perjalanan yang menyenangkan. Sementara, tambang identik dengan eksploitasi, perusakan dan merubah lanskap alam. 

Dari aksi gerakan nelayan Bangka Belitung pada bulan Juli kemarin, bukan hanya tentang mempertahankan ruang hidup nelayan, namun juga sebagai perlawanan untuk menyelamatkan sektor pariwisata. Dalam momentum Hari Pariwisata Dunia yang diperingati pada 27 September, harus menjadi refleksi bagi semua pihak bahwa keberlanjutan pariwisata di Bangka Belitung tidak terlepas dari peran keberlanjutan ekologi di laut di Bangka Belitung. 

Masa depan pariwisata daerah ini tidak terletak pada kompromi yang mustahil, melainkan pada komitmen tegas untuk melindungi fundamen ekologis yang menjadi basis economic resilience generasi mendatang. Bahkan bisa saja pariwisata menjadi modal dalam melawan sektor pertambangan di laut Bangka Belitung. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved