Selasa, 19 Mei 2026

Pembatasan Kembang Api Tahun 2026

Kejayaan Penjualan Kembang Api di Babel Sebelum Tahun 2015

Kala itu ketika menjelang malam Tahun Baru masyarakat rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Tayang:
Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Erlangga
Aktifitas jual-beli di toko Kembang Api A-Yen, Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (26/12/2025). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peter (60), pemilik Toko Kembang Api A-Yen, sudah berdagang selama kurang lebih 20 tahun.

Saat ditemui Bangkapos.com di toko yang berlokasi di Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimiaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Peter mengenang masa-masa kejayaan penjualan kembang api yang terjadi sebelum tahun 2015.

Menurutnya, kala itu ketika menjelang malam Tahun Baru masyarakat rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membeli kembang api berbagai ukuran.

“Dulu orang sudah nabung dari jauh-jauh hari. Sekarang hampir tidak ada yang begitu. Datang lihat-lihat, tanya harga, habis itu pergi,” ujar Peter, Jumat (26/12/2025).

Menurut Peter, penurunan penjualan kemudian diperparah oleh berbagai peristiwa besar yang memukul ekonomi lokal, mulai dari merosotnya sektor pertambangan timah, pandemi Covid-19, hingga minimnya aktivitas ekonomi berskala besar di Bangka Belitung.

“Sejak Covid, ekonomi belum pulih benar. Tambang juga bermasalah. Orang luar jarang datang. Semua terasa sepi,” ucapnya.

Peter (60), pedagang sekaligus pemilik toko Kembang Api A-Yen, saat ditemui Bangkapos.com di tokonya di Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (26/12/2025).
Peter (60), pedagang sekaligus pemilik toko Kembang Api A-Yen, saat ditemui Bangkapos.com di tokonya di Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (26/12/2025). (Bangkapos.com/Erlangga)

Sebagai pedagang musiman, Peter mengaku kini harus lebih selektif dalam membuka lapak. Jika dinilai tidak menguntungkan, ia memilih tidak berjualan demi menghindari kerugian yang lebih besar.

“Kalau sepi terus, buka juga percuma. Biaya makan, sewa tempat, jaga lapak tetap keluar. Kadang lebih baik tutup,” jelasnya.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia memilih meninggalkan Bangka sementara waktu untuk berkumpul bersama keluarga di Jakarta.

“Anak-anak dan cucu semua di Jakarta. Kalau memang tidak ada harapan jualan, saya ke sana dulu,” katanya.

Meski demikian, Peter menilai kembang api masih memiliki nilai budaya dan simbolik, terutama dalam perayaan tertentu seperti Imlek.

“Kalau Imlek biasanya masih ada yang beli, walaupun tidak banyak. Kembang api itu dianggap simbol buang sial, cari hoki,” tuturnya.

“Di kepercayaan kami, petasan itu dipercaya bisa mengusir roh jahat, makanya hampir semua orang menyalakan kembang api saat Imlek,” tambahnya.

Namun, kebiasaan tersebut pun kini mulai berkurang. Selain faktor ekonomi, perubahan zaman, kekhawatiran soal keselamatan, serta pergeseran kepercayaan turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

“Saat ini memang mulai berkurang. Banyak keluarga juga berpindah kepercayaan, walaupun masih ada yang memegang tradisi lama,” ucap Peter. 

Bangka Pos Edisi Cetak, Senin (29/12/2025).
Bangka Pos Edisi Cetak, Senin (29/12/2025). (Bangkapos.com)

Baca juga: Pedagang Pasrah Merugi, Pembatasan Kembang Api Sambut Tahun Baru 2026

Sumber: bangkapos
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved