Pembatasan Kembang Api Tahun 2026
Kejayaan Penjualan Kembang Api di Babel Sebelum Tahun 2015
Kala itu ketika menjelang malam Tahun Baru masyarakat rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peter (60), pemilik Toko Kembang Api A-Yen, sudah berdagang selama kurang lebih 20 tahun.
Saat ditemui Bangkapos.com di toko yang berlokasi di Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimiaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Peter mengenang masa-masa kejayaan penjualan kembang api yang terjadi sebelum tahun 2015.
Menurutnya, kala itu ketika menjelang malam Tahun Baru masyarakat rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membeli kembang api berbagai ukuran.
“Dulu orang sudah nabung dari jauh-jauh hari. Sekarang hampir tidak ada yang begitu. Datang lihat-lihat, tanya harga, habis itu pergi,” ujar Peter, Jumat (26/12/2025).
Menurut Peter, penurunan penjualan kemudian diperparah oleh berbagai peristiwa besar yang memukul ekonomi lokal, mulai dari merosotnya sektor pertambangan timah, pandemi Covid-19, hingga minimnya aktivitas ekonomi berskala besar di Bangka Belitung.
“Sejak Covid, ekonomi belum pulih benar. Tambang juga bermasalah. Orang luar jarang datang. Semua terasa sepi,” ucapnya.
Sebagai pedagang musiman, Peter mengaku kini harus lebih selektif dalam membuka lapak. Jika dinilai tidak menguntungkan, ia memilih tidak berjualan demi menghindari kerugian yang lebih besar.
“Kalau sepi terus, buka juga percuma. Biaya makan, sewa tempat, jaga lapak tetap keluar. Kadang lebih baik tutup,” jelasnya.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia memilih meninggalkan Bangka sementara waktu untuk berkumpul bersama keluarga di Jakarta.
“Anak-anak dan cucu semua di Jakarta. Kalau memang tidak ada harapan jualan, saya ke sana dulu,” katanya.
Meski demikian, Peter menilai kembang api masih memiliki nilai budaya dan simbolik, terutama dalam perayaan tertentu seperti Imlek.
“Kalau Imlek biasanya masih ada yang beli, walaupun tidak banyak. Kembang api itu dianggap simbol buang sial, cari hoki,” tuturnya.
“Di kepercayaan kami, petasan itu dipercaya bisa mengusir roh jahat, makanya hampir semua orang menyalakan kembang api saat Imlek,” tambahnya.
Namun, kebiasaan tersebut pun kini mulai berkurang. Selain faktor ekonomi, perubahan zaman, kekhawatiran soal keselamatan, serta pergeseran kepercayaan turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
“Saat ini memang mulai berkurang. Banyak keluarga juga berpindah kepercayaan, walaupun masih ada yang memegang tradisi lama,” ucap Peter.
Baca juga: Pedagang Pasrah Merugi, Pembatasan Kembang Api Sambut Tahun Baru 2026
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251229_Toko-Kembang-Api-Ayen.jpg)