Pembatasan Kembang Api Tahun 2026
Pedagang Pasrah Merugi, Pembatasan Kembang Api Sambut Tahun Baru 2026
Barang yang paling banyak diminati saat ini didominasi kembang api berukuran kecil dengan harga murah.
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tiga pria mengangkat kardus berukuran sedang. Setidaknya ada 20 kardus yang diangkat dan disusun ke dalam toko di Jalan Bahagia, Kelurahan Pasar Padi, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 15.30 WIB.
Mereka disaksikan Ayen, istri pemilik toko yang teliti menghitung jumlah dus sekaligus memeriksa kondisi isinya. Kardus itu berisi kembang api yang menjadi produk utama yang dijual di toko Ayen. Setidaknya toko itu sudah 20 tahun menjual kembang api.
Peter (60), suami Ayen, mengaku kondisi perdagangan kembang api saat ini jauh berbeda dibanding sebelumnya. Karena itu, jelang pergantian tahun 2025 ke 2026, dia tidak menyimpan stok besar.
“Sekarang ini nggak stok-stok lagi. Nggak berani. Paling cuma tiga dus, lima dus kecil. Itu pun kira-kira saja,” ujar Peter kepada Bangkapos Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, keputusan untuk menekan jumlah stok diambil demi menghindari risiko kerugian. Pasalnya, barang yang paling banyak diminati saat ini didominasi kembang api berukuran kecil dengan harga murah, sehingga perputaran uang menjadi sangat terbatas.
“Barang yang laku sekarang kecil-kecil semua. Jadi buat apa stok banyak? Dagang sekarang ini susah,” katanya.
Peter menjelaskan, kembang api yang baru datang tersebut sebagian besar memang berukuran kecil dan sengaja dipesan mendekati pergantian tahun agar tidak terlalu lama disimpan.
“Ini juga kembang api kecil-kecil. Baru datang hari ini buat persiapan Tahun Baru,” ujarnya.
Pembatasan
Peter memprediksi penjualannya pada tahun ini akan menurun sekitar 50 persen dibanding tahun lalu. Selain dikarenakan faktor yang sudah terjadi, seperti fluktuasi harga dan lain sebagainya, kali ini pedagang juga dihadapkan pada pembatasan penggunaan kembang api menyambut tahun 2026.
Hal itu diamini Ayen yang menyebut dia bersama sang suami sempat dipanggil ke Polda Babel untuk menerima imbauan terkait penjualan kembang api menjelang malam Tahun Baru.
“Kami dipanggil untuk diberi penjelasan dan imbauan kepada para penjual kembang api. Intinya, instansi pemerintah serta tempat-tempat perkumpulan masyarakat seperti alun-alun dan lokasi keramaian tidak dianjurkan,” ujar Ayen yang setia menemani suaminya berjualan.
“Kalau tahun-tahun kemarin tidak ada pembatasan seperti ini. Mainnya bebas. Tapi tahun ini karena banyak bencana, kami juga turut sedih. Makanya dianjurkan tidak dimainkan secara ramai-ramai,” tambah Peter.
Ditambahkan Peter, perdagangan kembang api saat ini justru semakin berisiko karena fluktuasi harga yang sulit diprediksi. Jika pada masa lalu harga kembang api cenderung naik seiring mendekati malam pergantian tahun, kini kondisinya berbanding terbalik.
“Kalau dulu barang itu bisa naik terus. Sekarang malah bisa turun. Kadang kita sudah stok, tahu-tahu harga turun. Modal kita masih tinggi,” ungkapnya.
Menurut Peter, pola perdagangan seperti ini terasa semakin tidak masuk akal bagi pedagang kecil. “Dagang sekarang aneh. Zaman dulu naik terus. Sekarang barang banyak yang turun,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251229_Bangka-Pos-Hari-Ini.jpg)