Tribunners
Menyambut Pergantian Tahun Tanpa Pemborosan
Peniadaan perayaan menyambut tahun baru oleh beberapa daerah merupakan wujud simpati dan empati yang konkret.
Dalam menyambut pergantian tahun, setidaknya ada dua hal yang dapat kita lakukan. Pertama, kita menyambut tahun baru dengan ucapan dan kedua dengan perbuatan.
Dari ucapan kita bisa mengawali tahun dengan alhamdulillah. Kalimat ini merupakan wujud syukur atas karunia Allah yang telah menganugerahkan umur panjang kepada kita semua yang sampai saat ini masih bisa menghirup udara kehidupan. Berbagai nikmat yang tak bisa dihitung satu per satu sampai saat ini harus terus disyukuri dengan keyakinan dalam hati, diucapkan dalam lisan, dan diwujudkan dalam tindakan.
Kedua, mari lihat tahun lalu dengan astagfirullah. Kalimat ini merupakan wujud evaluasi dan introspeksi diri pada segala sesuatu yang telah kita lakukan di masa lalu. Perjalanan masa lalu pasti mengalami fluktuasi. Terkadang kita pernah berada pada posisi puncak yang tinggi, namun pada satu masa kita pasti pernah berada pada posisi terpuruk. Masa fluktuatif ini menjadi pengalaman berharga bagi kita untuk mempertahankan kondisi positif dan menjadi modal bagi masa depan. Sementara di sisi lain, kita buang hal negatif dan berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi di masa yang akan datang.
Selanjutnya ketiga, mari hadapi tahun depan lagi dengan bismillah. Kalimat ini mengandung makna mendalam yakni mengawali segala sesuatu dengan niat yang benar karena Allah Swt. Kalimat bismillah mengandung optimisme tinggi untuk meraih harapan yang sudah ditargetkan dalam kehidupan. Lurusnya niat dan optimisme tinggi, menjadi bekal untuk terus menjalankan dua misi besar diciptakannya kita di dunia yakni untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi.
Ketiga kalimat tersebut menjadi paket awal dalam mengawali tahun ini agar perjalanan masa lalu, masa kini, dan masa depan dapat meraih berkah dan kualitas yang lebih baik. Kualitas kehidupan bukan hanya diukur dari capaian-capaian kuantitas seperti materi saja, namun lebih dari itu capaian kualitas berupa ketenangan, kenyamanan, dan keberkahan hidup juga harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan.
Selanjutnya dari perbuatan ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menyambut tahun baru. KH Said Aqil Sirajd mengatakan 4 hal adalah pertama, bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sepanjang tahun ini. Kedua, muhasabah (introspeksi diri), hal ini penting dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kita beramal baik dan melanggar aturan Allah. Kita wajib mengoreksi diri sendiri, selanjutnya nurani kitalah yang akan menghakimi diri kita sendiri.
Ketiga, muatabah (membersihkan diri). Hal ini perlu dilakukan karena selama satu tahun ini berbagai peristiwa telah kita alami, baik itu peristiwa bahagia, menyedihkan, kehidupan atau kematian. Dan keempat. murokobah (supervisi) yaitu menumbuhkan rasa optimistis meski cobaan atau masalah banyak mendera. Sebab dari sekian banyak musibah atau cobaan yang menimpa tak sebanding dengan berkah yang diberikan Allah. Kita harus yakin bahwa tahun baru akan membuat perubahan baru pada diri kita, terutama masalah ibadah.
Akhirnya, penulis menilai apa yang dilakukan oleh beberapa daerah di atas terkait perayaan menyambut tahun baru sudah tepat. Peniadaan perayaan menyambut tahun baru oleh beberapa daerah merupakan wujud simpati dan empati yang konkret. Daerah-daerah tersebut memberikan bukti nyata tidak hanya seperti tong kosong nyaring bunyinya. Mereka tidak hanya berkoar-koar di media.
Semoga kita semua dapat memaknai pergantian tahun ini dengan positif dan tetap mengedepankan rasa solidaritas kepada sesama kita. Selamat Tahun Baru 2026. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dok-Syamsul-Bahri.jpg)