Tribunners
Menyambut Pergantian Tahun Tanpa Pemborosan
Peniadaan perayaan menyambut tahun baru oleh beberapa daerah merupakan wujud simpati dan empati yang konkret.
Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
KEKUASAAN waktu memang tidak bisa dikalahkan sehingga tidak terasa dalam hitungan hari kita akan memasuki tahun baru masehi, kita akan beralih dari tahun 2025 menuju tahun 2026. Rasanya baru kemarin kita melewati pergantian tahun, namun sekarang kita sudah berada di gerbang tahun yang baru lagi.
Jika kita melihat di masa-masa yang lalu banyak kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar orang, bahkan pemerintah daerah dalam menghadapi pergantian tahun. Ada yang mengadakan pesta kecil-kecilan sampai ke pesta besar-besaran, ada yang sengaja tidak tidur semalam suntuk hanya demi menghadapi pergantian tahun, ada yang memang sudah mempersiapkan diri satu minggu sebelumnya untuk menghadapi pergantian tahun, bahkan sampai ada yang rela mengeluarkan anggaran yang bermiliaran.
Tentunya kegiatan-kegiatan dalam menyambut pergantian tahun seperti yang disebutkan di atas harus diintrospeksi kembali, karena kegiatan-kegiatan tersebut jelas-jelas merupakan suatu yang sia-sia dan menghabiskan anggaran. Euporia menyambut pergantian tahun memang tidak salah dan tidak ada yang melarang, namun menghabiskan anggaran yang terkesan hanya untuk foya-foya itu jelas sesuatu perbuatan yang mubazir. Alangka lebih baiknya kegiatan seremonial seperti itu dialihkan anggarannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Apalagi di akhir tahun ini bangsa Indonesia sedang dilanda musibah. Tiga provinsi di Pulau Sumatra sedang berduka dan sampai sekarang masih berusaha untuk bangkit dari musibah tersebut. Dengan demikian, tidak etis jika nantinya di beberapa daerah masih saja memaksakan untuk merayakan penyambutan tahun baru dengan pesta besar-besaran. Sudah saatnya daerah-daerah lain berempati terhadap daerah yang tertimpa musibah tersebut, salah satu caranya ialah dengan meniadakan pesta penyambutan tahun baru secara spektakuler.
Oleh karena itu, sangat pantas diberikan apresiasi kepada beberapa daerah yang dengan tegas meniadakan acara menyambut datangnya tahun baru yang besar-besaran. Dari kumparan.com diketahui ada beberapa daerah yang tidak melaksanakan pesta tahun baru secara besar-besaran. Di antara daerah tersebut adalah Jakarta yang biasanya mengadakan pesta besar-besaran menyambut pergantian tahun, menggantinya dengan zikir bersama.
Pemerintah Provinsi Jakarta menetapkan Bundaran HI sebagai titik utama perayaan Tahun Baru 2026, dengan agenda utama berupa doa bersama lintas agama sebagai bentuk empati terhadap musibah yang terjadi di berbagai wilayah. Jumlah lokasi perayaan yang dikurangi dari 14 menjadi 8 dan Monas tidak dijadikan titik kerumunan menandakan perubahan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Selain doa bersama, akan ada pertunjukan video mapping berbasis drone sebagai pengganti pesta kembang api besar.
Daerah yang kedua adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar yang memutuskan tidak menggelar konser musik dan pesta kembang api pada malam pergantian tahun 2025-2026, sebagai bentuk empati terhadap kondisi nasional yang sedang dilanda bencana. Sebagai gantinya, Denpasar akan menggelar pementasan seni budaya di kawasan Catur Muka dan selatan Lapangan Puputan Badung dengan tema “Melepas Matahari”. Kegiatan ini menampilkan pementasan seni dari berbagai sanggar dan menjadi bentuk perayaan yang lebih berfokus pada budaya lokal.
Selanjutnya Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yang mengimbau kepala daerah di wilayahnya untuk tidak menggelar pesta rakyat besar saat perayaan Tahun Baru 2026 dan lebih memilih kegiatan yang berempati terhadap musibah yang menimpa saudara di Sumatra dan Aceh. Pemprov Jatim hanya akan mengadakan selawat di Islamic Center Surabaya pada malam 30 Desember sebagai bentuk doa dan dukungan bagi para korban bencana. Imbauan ini ditujukan agar kepala daerah setempat merayakan tahun baru secara sederhana dan bermakna, bukan pesta besar dengan kembang api.
Kemudian di Pemprov Sumatera Selatan juga melarang warganya untuk merayakan tahun baru secara berlebih-lebihan. Dikutip dari detik.com, Gubernur Sumatera Selatan meminta perayaan tahun baru di wilayahnya dilakukan secara sederhana. Bukan itu saja, dia juga meminta pergantian tahun untuk tidak melarang pesta dan konvoi.
Permintaan itu disampaikannya melalui surat edaran kepada seluruh bupati/wali kota di Sumsel terkait malam perayaan Tahun Baru 2026 di wilayahnya. Dalam surat edaran itu, gubernur meminta 17 kepala daerah di Sumsel untuk empati terhadap bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pergantian tahun adalah sebuah momentum yang memiliki makna dan hikmah mendalam, dan jika bisa dimaksimalkan akan membuahkan kesuksesan dan keberkahan dalam hidup. Bergantinya tahun harus dijadikan sebagai waktu untuk melakukan muhasabah, evaluasi, introspeksi terhadap perjalanan hidup selama ini agar ke depan lebih baik lagi. Jangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pengalaman.
Dengan merenungkan masa lalu, kita bisa meninggalkan hal-hal yang negatif dan mengambil sisi-sisi positif sebagai bekal menghadapi masa depan. Kita harus optimistis bisa melakukan perubahan lebih baik di masa yang akan datang dengan terus melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik.
Pergantian tahun juga terkait dengan waktu kita hidup di dunia ini. Dalam hal pergantian waktu Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya menyebutkan: "Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka)." (HR Al-
Hakim).
Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini melewati tiga tahapan masa, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu adalah pengalaman, masa kini adalah kenyataan, dan masa depan adalah harapan. Semua itu memiliki dimensi berbeda dalam menyikapinya, namun memiliki keterkaitan yang erat dan menjadi rantai perjalanan hidup yang tak terpisahkan. Untuk itu, kita perlu menyikapi pergantian tahun dengan sesuatu yang bermafaat sehingga nantinya perjalanan hidup kita benar-benar bermakna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dok-Syamsul-Bahri.jpg)