Selasa, 7 April 2026

Bangka Pos Hari Ini

Bahan Awet dan Tahan Lama, Program Gentengisasi Pertahankan Ciri Khas Lokal

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah

Editor: Hendra
Bangka Pos/Capture
Bangka Pos Cetak Kamis 12/2/2026 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suasana asri menyelimuti Kampung Ulu, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Rabu (11/2) pagi.

Aliran sungai yang tenang, kicauan burung, dan hembusan angin sepoi-sepoi berpadu dengan sinar matahari cerah, menghadirkan ketenangan khas perkampungan tua.

Kampung Melayu ini tampak lengang. Beberapa warga sibuk di dalam rumah, sementara sebagian sudah berangkat bekerja.

Keistimewaan Kampung Ulu terletak pada rumah panggungnya yang berdinding papan dan beratap genteng, arsitektur tradisional yang tetap dijaga selama ratusan tahun.

Atap genteng membuat interior rumah lebih sejuk, ditunjang banyak jendela di dinding rumah. Sejak dulu, percetakan genteng di wilayah itu menjadi alasan masyarakat menggunakan material ini untuk hunian mereka.

RUMAH KAYU--Kampung Ulu dikenal sebagai Kampung Melayu yang memiliki ciri khas rumah berdinding papan dan beratap genteng di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, foto diambil, Rabu (11/2/2026).
RUMAH KAYU--Kampung Ulu dikenal sebagai Kampung Melayu yang memiliki ciri khas rumah berdinding papan dan beratap genteng di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, foto diambil, Rabu (11/2/2026). (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Ahmad Repilianto, Ketua RW 07 Kampung Ulu yang akrab disapa Okto, ditemui saat menyapu halaman rumahnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar rumah tua di kampung ini telah berusia lebih dari 100 tahun dan masih menggunakan genteng pepeh, tipis dan ringan.

“Sejak awal dibangun, rumah-rumah di sini pakai genteng karena lebih adem. Sekarang sebagian sudah diganti karena rusak,” ujarnya, Rabu (11/2).

Dulu hampir seluruh rumah beratap genteng, tetapi sebagian warga kini beralih menggunakan asbes atau seng karena harga genteng relatif tinggi dan genteng lama mulai rapuh.

Meski begitu, masih ada rumah yang mempertahankan atap genteng, termasuk rumah almarhum Parhan Ali, mantan Bupati Bangka Barat.

“Sekitar 40 persen warga masih menggunakan genteng,” tambah Okto.

Genteng tersebut diproduksi lokal, dahulu dicetak di pabrik Desa Air Belo yang kini sudah tidak beroperasi lagi.

Okto menyambut positif wacana program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai dapat mempertahankan ciri khas rumah tradisional sekaligus membuat hunian lebih sejuk dan nyaman.

“Dari segi kenyamanan, genteng tetap pilihan terbaik,” katanya.

Sejak Abad ke-18

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved