Selasa, 14 April 2026

Bangka Pos Hari Ini

Bahan Awet dan Tahan Lama, Program Gentengisasi Pertahankan Ciri Khas Lokal

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah

Editor: Hendra
Bangka Pos/Capture
Bangka Pos Cetak Kamis 12/2/2026 

Pengamat sejarah Bangka sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat, M. Ferhad Irvan, menjelaskan penggunaan genteng di Mentok dan sekitarnya telah berlangsung sejak abad ke-18.

Genteng awalnya identik dengan bangunan permanen yang stabil, umumnya berdinding bata. Produksi awal diperkirakan sejak masa Kesultanan Palembang.

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah Tumenggung Dita Manggala.

Ciri khasnya tipis menyerupai bambu bertangkup, dikenal sebagai genteng bambu. Jejak bangunan beratap genteng masih terlihat di Kota Panji Belinyu, Tempilang, hingga Pangkal Rambat. Bangunan tua umumnya menggunakan dinding beton atau bata dan atap genteng.

Saat Mentok menjadi pusat pemerintahan kolonial Inggris, bangunan awal masih dominan kayu. Produksi genteng diduga berkembang di Ranggam dan Belo Laut.

Masuk era kolonial Belanda, penggunaan bata dan genteng semakin meluas, terlihat pada Kantor Syahbandar Mentok dan rumah dinas camat Mentok. Bahkan warga kaya memiliki pabrik bata sendiri.

“Di Kampung Ulu, hampir seluruh rumah lama beratap genteng. Namun penggunaan genteng lokal mulai meredup sejak 1990-an karena masyarakat lebih memilih seng atau asbes, harganya lebih murah dan pemasangannya praktis,” kata Ferhad. Tantangan penghidupan industri genteng lokal antara lain keterampilan perajin yang menipis, biaya produksi tinggi, dan ketersediaan kayu bakar yang terbatas.

Tersisih di Pasar Modern

Di toko material modern, istilah genteng pepeh atau genteng laki-bini nyaris tak terdengar lagi. Rini, penjaga toko di Air Itam, Pangkalpinang, mengatakan mereka kini hanya menjual genteng orange, berbahan tanah liat lokal dengan stok terbatas, harga sekitar Rp6.000 per keping.

“Genteng memang lebih mahal, sekarang orang lebih banyak pilih spandek,” kata Rini.

Spandek dijual sekitar Rp40.000 per meter, lebih ringan, cepat dipasang, dan efisien untuk pembangunan rumah modern.

Kondisi serupa ditemui di toko bangunan kawasan Semabung Lama. Yani, penjaga toko, menyebut permintaan genteng tanah liat menurun drastis.

“Yang mencari genteng sudah jarang, paling untuk bangunan lama atau orang tertentu yang memang lebih suka genteng,” katanya.

Hampir seluruh rumah baru di Pangkalpinang menggunakan spandek karena pemasangannya cepat dan lebih hemat biaya.

Meski tren modern menggeser penggunaan genteng, Kampung Ulu tetap mempertahankan tradisi rumah panggung dengan atap genteng.

Sumber: bangkapos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved