Jumat, 17 April 2026

Bangka Pos Hari Ini

Bahan Awet dan Tahan Lama, Program Gentengisasi Pertahankan Ciri Khas Lokal

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah

Editor: Hendra
Bangka Pos/Capture
Bangka Pos Cetak Kamis 12/2/2026 

Program gentengisasi diharapkan dapat menghidupkan kembali penggunaan genteng lokal, menjaga ciri khas budaya, sekaligus menghadirkan hunian yang lebih sejuk dan nyaman di tengah modernisasi. (t2/riu)

Representasi Budaya Bangka

DI tengah wacana nasional program gentengisasi yang kembali mengemuka sebagai solusi hunian layak rakyat di era Presiden Prabowo Subianto, Bangka Belitung menyimpan sejarah panjang penggunaan genteng tanah liat yang melampaui fungsi teknis.

Bagi masyarakat lokal, genteng bukan sekadar penutup atap, tetapi simbol kearifan lokal, nilai budaya, dan filosofi hidup yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

Budayawan Kepulauan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebut arsitektur tradisional Bangka lahir dari adaptasi panjang terhadap lingkungan tropis yang lembap dan curah hujan tinggi.

“Arsitektur vernakular Bangka adalah hasil pemikiran adaptif terhadap tantangan alam. Dari atap, kita mengenal istilah bubung, yang bermakna menyambung satu atap dengan atap lain hingga membentuk kampung,” ujar Elvian kepada Bangka Pos, Senin (9/2).

Di bawah bubung itu, kehidupan sosial terjalin. Atap bukan sekadar pelindung panas dan hujan, tetapi simbol keterhubungan antarrumah, antarkeluarga, bahkan antara manusia dan Sang Pencipta. Dalam konstruksi tradisional, elemen seperti alang dan tiang arsy merepresentasikan relasi vertikal spiritual dalam struktur bangunan masyarakat Bangka.

Sebelum tanah liat dijadikan genteng terakota, masyarakat Bangka menggunakan daun, ilalang, ijuk, hingga kulit kayu sebagai penutup rumah. Seiring berkembangnya teknik, tanah liat yang melimpah di pulau ini diolah menjadi genteng tahan panas sekaligus hujan tropis.

“Tanah liat tersedia melimpah di Bangka. Genteng terakota cocok untuk iklim tropis basah, meredam panas sekaligus tahan hujan tinggi,” jelas Elvian.

Genteng itu kemudian berkembang menjadi bentuk khas yang dikenal sebagai genteng laki-bini. Bentuknya berbeda, namun dipasang berpasangan, saling mengunci dan menutup celah. Sistem interlocking ini bukan hanya teknik konstruksi, tetapi sarat makna budaya.

“Genteng laki-bini adalah simbol kesetaraan gender. Bentuknya berbeda, tetapi saling melengkapi dan menutupi. Seperti peran suami dan istri dalam rumah tangga,” kata Elvian. Ia menambahkan, “Ketika laki dan bini menyatu, atap menjadi kuat. Itu metafora rumah tangga orang Bangka.”

Filosofi itu terasa nyata ketika memandang atap rumah-rumah lama di Bangka, seperti bangunan beratap merah tua yang masih bertahan di tengah kepungan arsitektur modern. Genteng-genteng itu mungkin tak lagi mengilap, tetapi susunannya tetap rapi, menjadi saksi bisu peralihan zaman dari rumah panggung kayu hingga bangunan kolonial peninggalan Gemeente.  (t2)

Sumber: bangkapos
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved