Program MBG Ramadan
Bayi 10 Bulan Terima Kacang dalam Paket MBG, Warga Minta Evaluasi Menu Ramadan
Sejumlah orang tua di Bangka Selatan dan Pangkalpinang menilai paket Makan Bergizi Gratis lebih mirip makanan ringan dan ...
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, menuai sorotan dari sejumlah warga. Beberapa orang tua penerima manfaat menilai menu makanan yang dibagikan belum sepenuhnya disesuaikan dengan usia penerima, terutama bagi balita.
Salah satu warga Kelurahan Toboali, Kecamatan Toboali, Udi, mengaku kebingungan ketika melihat isi paket MBG yang diterima anaknya. Bayinya yang baru berusia 10 bulan tercatat sebagai penerima program tersebut.
Ia mengatakan dalam beberapa hari terakhir paket makanan yang diterima didominasi oleh kacang-kacangan seperti kacang polong, kacang telur, hingga kacang koro.
Menurutnya, jenis makanan tersebut belum tentu cocok bagi bayi yang bahkan belum genap berusia satu tahun.
“Menu kering program MBG selama bulan Ramadan saya nilai kurang efektif,” ujar Udi kepada Bangkapos.com, Minggu (8/3).
Meski demikian, ia mengakui tidak semua paket berisi makanan serupa. Dalam beberapa kesempatan, paket juga berisi susu UHT, roti, puding, telur, hingga buah-buahan yang dinilai lebih sesuai untuk anak-anak.
Udi berharap penyelenggara program dapat mengevaluasi jenis makanan yang diberikan kepada balita agar lebih menyesuaikan dengan kebutuhan usia penerima manfaat.
“Semoga SPPG bisa melakukan evaluasi terhadap balita penerima manfaat. Agar menunya bisa disesuaikan dengan kondisi dan usia penerima manfaatnya,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Irna, warga Kecamatan Pulau Besar.
Ia menilai program MBG memiliki tujuan baik untuk membantu pemenuhan gizi masyarakat, tetapi komposisi menu yang diberikan masih perlu diperbaiki.
“Saya rasa program MBG selama bulan Ramadan khususnya menu kering bisa dievaluasi. Karena saya rasa tidak sesuai,” ujarnya.
Belum Standar
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan Agus Pranawa mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, secara umum menu yang disiapkan telah mengacu pada rekomendasi ahli gizi. Namun, dari hasil pemantauan di lapangan masih ditemukan beberapa menu yang belum memenuhi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) maupun Angka Kecukupan Minimal (AKM) per porsi.
Ia juga menyoroti kasus pemberian kacang-kacangan kepada balita di bawah usia 10 bulan. Meski mengandung protein, makanan tersebut dinilai tidak tepat diberikan kepada bayi yang belum memiliki gigi.
“Memang ada juga anak-anak di bawah 10 bulan diberikan kacang. Padahal gigi belum ada. Secara gizi memang benar dan ada proteinnya, tetapi salah pemberian,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260310-Bangka-Pos-Hari-Ini-Selasa-10032026.jpg)