Senin, 4 Mei 2026

Tribunners

WFH Pasca Pandemi Covid-19: Mampukah Menjadi Standar Evaluasi Kinerja Global?

Apakah WFH bisa dijadikan standar dalam mengevaluasi kinerja secara global?

Tayang:
Dok istimewa
Floryan, Mahasiswa Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung 

Oleh Floryan - Mahasiswa Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung

PANDEMI Covid-19 telah mengubah cara dunia bekerja secara drastis. Work From Home (WFH) yang awalnya hanya solusi darurat, kini menjadi bagian dari sistem kerja modern. 

Bahkan setelah pandemi mereda, banyak perusahaan tetap mempertahankan pola kerja ini. Pertanyaannya, apakah WFH bisa dijadikan standar dalam mengevaluasi kinerja secara global?

Secara konsep, WFH mendorong perubahan besar dalam cara menilai kinerja. Sistem kerja konvensional selama ini bertumpu pada kehadiran fisik jam masuk, absensi, dan pengawasan langsung. Namun dalam WFH, ukuran tersebut menjadi kurang relevan.

Perusahaan mulai beralih pada penilaian berbasis output, yaitu hasil kerja yang dicapai, bukan sekadar waktu yang dihabiskan. Di sinilah WFH menunjukkan keunggulannya. Fleksibilitas yang diberikan memungkinkan pekerja mengatur ritme kerja secara lebih efektif.

Tanpa tekanan perjalanan dan distraksi kantor, banyak karyawan justru mampu bekerja lebih fokus. Sejumlah perusahaan besar seperti Googledan Microsoft telah membuktikan bahwa sistem hybrid tetap mampu menjaga produktivitas karyawan.

Bahkan, studi pada Trip.com menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja dari rumah memiliki performa yang setara dengan pekerja kantor, disertai tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Namun, menjadikan WFH sebagai standar global bukan tanpa masalah. 

Tidak semua pekerjaan memiliki output yang mudah diukur. Dalam pekerjaan yang bersifat kreatif atau kolaboratif, interaksi langsung seringkali menjadi kunci utama. Proses diskusi, brainstorming hingga dinamika tim sulit tergantikan oleh pertemuan virtual.

Selain itu, WFH juga berpotensi menciptakan bias baru. Karyawan yang lebih aktif secara online bisa terlihat lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja secara diam tetapi efektif. Ini menunjukkan bahwa sistem evaluasi dalam WFH masih rentan terhadap subjektivitas.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan infrastruktur. Tidak semua pekerja memiliki akses internet yang stabil atau lingkungan kerja yang kondusif di rumah. Di negara berkembang, kondisi ini menjadi tantangan serius.

Jika WFH dipaksakan sebagai standar global, maka akan muncul ketimpangan dalam penilaian kinerja.Di sisi organisasi, tidak semua perusahaan siap beralih ke sistem berbasis hasil. Banyak yang masih bergantung pada budaya kerja lama yang menekankan kontrol.

Padahal, WFH menuntut kepercayaan dan manajemen berbasis tujuan. Tanpa perubahan ini, evaluasi kinerja justru bisa menjadi tidak jelas.Dengan berbagai kelebihan dan tantangan tersebut, WFH belum sepenuhnya layak dijadikan standar evaluasi kinerja global.

Namun, ia telah membuka jalan menuju sistem kerja yang lebih fleksibel dan berbasis hasil. Kedepan, model hybrid menjadi pilihan paling realistis. Sistem ini menggabungkan fleksibilitas WFH dengan interaksi langsung di kantor. 

Evaluasi kinerja pun dapat dilakukan secara lebih seimbang, tidak hanya melihat hasil, tetapi juga proses kerja.Pandemi telah membuktikan bahwa bekerja tidak harus selalu di kantor.

Namun, menjadikan WFH sebagai standar global masih membutuhkan waktu. Untuk saat ini, WFH lebih tepat dilihat sebagai arah perubahan, bukan sebagai standar tunggal dalam menilai kinerja. (*/E7)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved