Kamis, 16 April 2026

Tribunners

Mencerna Sikap Iran

Iran, diakui atau tidak, merupakan salah satu bangsa kuat dan berkarakter.

Editor: suhendri
Istimewa
Masmuni Mahatma - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung    

Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung   

IRAN, diakui atau tidak, merupakan salah satu bangsa kuat dan berkarakter. Bangsa yang menjunjung tinggi harkat, martabat, dan prinsip-prinsip kedaulatan kemerdekaan yang dikonstruksi dengan keringat juangnya sendiri. Bangsa Arya yang tidak mudah mengabaikan lika-liku historik eksistensialitasnya. Bangsa yang terbuka menyatakan bahwa untuk bisa berkompetisi menata visi global, mesti teguh menempatkan, memaknai, dan membawakan diri dalam percaturan dunia yang belakangan cenderung kian dikooptasi dan dieksploitasi “diplomasi kerakusan” modern. 

Walau terlihat sederhana, Iran tetap sebuah bangsa yang perlahan dan lembut mengajarkan kita bagaimana sepatutnya meletakkan mata, telinga, tangan, kaki, dan nalar-nalar kenegaraan demi muruah berkedaulatan. Bangsa yang tidak mudah terseret ambisi-ambisi global kapitalistik-destruktif. Bangsa yang tegar, tidak mudah mengeluh, tidak gampang menyerah, terutama terhadap tekanan-tekanan militeristik-Zionistik. Bangsa yang cermat dan sangat mawas diri atas jebakan-jebakan kerakusan global Trump, pengendali politik kuasa Amerika sekarang ini.

Iran adalah Iran. Negara kaya pengalaman nan menyejarah. Negara yang mempunyai jejak-jejak memukau dalam konteks kedaulatan sosio-geopolitik internasional. Negara yang bertumbuh dari evolusi diri secara rasional sosiologis-militeris menuju revolusi Islam-ideologis. Negara para mullah, ulama-ulama yang kental dengan nilai-nilai tradisi keilmuan serta memiliki visi keumatan progresif-transformatif. Tak berlebihan bilamana Iran tetap bertahan sebagai republik Islam terkemuka yang berdaulat dan berdikari. Republik Islam yang tiada henti menyalurkan pesan bahwa menyiapkan mujahid mesti tetap paradigmatik-edukatif-univeraslistik.

Soal Syi’ah

Mencerna sikap Iran, bisa dari dua persepktif. Secara madzhabi, Iran lebih tampak mengelola Islam Syi’iyah. Aliran keislaman di mana konstruksi paradigmatiknya dinapasi semangat, spirit, orientasi, dan ideologi Muktazilian. Identik cenderung menjadikan potensi dan kekuatan nalar-rasionalitas sebagai pijakan luhur beragama. Namun demikian, bukan berarti mengagungkan akal (pikiran) dan meninggalkan struktur imani. Antara iman dan akal, dalam konstruksi sebagian filsuf Iran, diletakkan pada posisi dan porsi yang sama-sama bisa aktif, bertumbuh, dan berkembang, bukan pasif dan dibiarkan beku apalagi dibekukan. 

Iman seyogianya mencahayai akal (pikiran). Sebaliknya, akal (pikiran) tak berlebihan jika aktif memberikan stimulan dan energi positif demi pertumbuhan sekaligus penguatan iman. Apakah akal atau iman yang lebih dahulu datang dalam diri manusia? Pemikir-pemikir Islam juga mempunyai pandangan yang tidak sama melalui penataan argumentasi masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa iman lebih dahulu diberikan Tuhan kepada manusia. Ada pula yang menegaskan akal dianugerahkan pertama kali. Akal dan iman, tidak bisa dipisahkan dari aspek substansi. Sama-sama ada demi proses kepenghambaan dan kekhalifahan. 

Sepanjang kedua media luhur ini dikawinkan dan dikawal seoptimal mungkin, tidak akan mencederai dan menjatuhkan manusia ke dalam kenistaan. Ia akan membawa aroma positif-produktif berkehambaan. Ia akan menjadi magnet yang bisa memapah, mendidik, dan mengantarkan tiap-tiap diri bertumbuh sehat, segar, dan tercerahkan dalam konteks ketakwaan. Ia bukan hanya menginspirasi, tetapi melapisi diri siaga berintegrasi dengan Ilahi. Berbekal iman dan akal (pikiran) yang berdaya-nalar jernih, nilai-nilai kebajikan kesemestaan akan mewarnai pola, mentalitas, dan perilaku sosial kehambaan. 

Soal Syi’ah, tak perlu disisihkan atau dicurigai. Apalagi dipandang sebelah mata tanpa simpati dan empati. Ia merupakan salah satu aliran keislaman yang mengalirkan banyak hikmah dan spirit jihadis. Syi’ah sebagai madzhab, punya hal sama dengan madzhab lain. Terlebih ajaran Rasulullah Saw jelas, khudzil hikmah wa laa yadhurruka min ayyi syaiin kharajat, “ambillah hikmah itu dan jangan kau pedulikan dari mana hikmah itu datang.” Bahkan, kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, laa-dina li man la Aqla lahu, “tidak ada agama yang bersahaja dan mencerahkan bagi mereka yang tidak mengoptimalisasi akal di dalamnya.”

Terkait perang

Dicerna dari aspek perang, sebagai keturunan bangsa Persia, Iran sama dengan Islam. Tidak alergi dengan perang. Islam, sebagai agama, secara historis, tidak bisa dilepaskan juga dari dinamika perang dengan pelbagai keistimewaan, kelebihan, kelemahan, kekalahan, dan kemenangan yang diraih. Ada banyak peperangan yang langsung dialami dan dikomandani Rasulullah Muhammad Saw di masa-masa awal Islam hadir sebagai agama di muka bumi. Di antaranya adalah Perang Siffin, Perang Tabuk, Perang Uhud, Perang Badar, Perang Khandak, Perang Khaibar, Fathul Makkah, Perang Thaib, Perang Bani Qainuqa’, dan lain-lain.

Islam sama sekali tidak berambisi dan sporadis memerangi kelompok atau komunitas manapun. Sebagai agama, Islam hadir untuk mengayomi, merangkul, mendidik, mengarahkan, mencerahkan, dan menjamin kelangsungan hidup tiap-tiap diri menuju akhirat kelak. Jalan Islam adalah jalan hikmah dan islah. Jalan yang mendahulukan komunikasi, interaksi, dan harmonisasi. Jalan aspirasi, dalam rangka menuju kesepahaman berbasis imani dan akal sehat kehambaan sejati. Jalan Tuhan yang menghangatkan dan menyelamatkan. Jalan cinta dan kemaslahatan. 

Perang Iran dan Amerika-Israel, tidak boleh secara parsial diseret sebagai perang agama. Sebagai negara bermadzhab Syi’ah, Rahbar, Pemimpin Tinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei maupun Mojtaba Khamenei, tentu menimbang dan meletakkan friksi serta konflik ini penuh kesadaran, baik dari aspek aqliyah maupun naqliyah.

Dalam konteks nalar rasionalitas, Iran punya hak dan kewajiban yang sama dengan bangsa lain menjaga kedaulatan dan kemerdekaan diri. Menjaga kekayaan sumber daya alam dan kreasi-kreasi rakyat terbaiknya. Apalagi membela hak-hak kedaulatan yang selama bertahun-tahun dikebiri, dikooptasi, dieksploitasi, dan dikapitalisasi oleh Amerika-Israel.

Dalam perspektif nalar imani (naqliyah), walau melalui perang, Iran hendak menunaikan salah satu tugas kehambaan di muka bumi. Ikhtiar mengingatkan dan mengajak siapa saja yang memiliki kesepahaman meretas egoisitas-brutalitas Israel dan Amerika atas Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Termasuk perilaku pencaplokan, kesewenangan kapitalistik, dan pengerdilan militeristik di beberapa kawasan. Realitas ini cukup mengkhawatirkan dan memilukan. Realitas yang bukan hanya mencederai muruah kemanusiaan, tetapi penindasan berkedok kerakusan persekutuan global yang berpotensi melenyapkan kedaulatan negara berbasis Islam berkekayaan. (*)

 

 

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved