Tribunners
"Mirek" Diri Pemimpin
Seorang pemimpin, terutama pemimpin publik yang dipilih publik dalam kontestasi demokrasi tentu perlu memiliki branding atau merek diri
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
"Kepemimpinan adalah tentang membuat orang lain lebih baik sebagai hasil dari kehadiranmu dan memastikan dampak itu bertahan selama kamu tidak ada." (Sheryl Sandberg)
SEORANG pemimpin, terutama pemimpin publik yang dipilih publik dalam kontestasi demokrasi tentu perlu memiliki branding atau merek diri. Dalam bahasa Toboali disebut mirek. Mirek diri ini sangat penting untuk mengingatkan publik atas dirinya.
Siapa pun yang hidup di negeri ini mengakui bahwa Bapak Pembangunan adalah HM Soeharto, presiden kedua kita. Demikian pula dengan Soekarno-Hatta yang dikenal publik sebagai tokoh proklamator bangsa dan itu melekat dalam benak publik dari Sabang hingga Merauke.
Mirek diri seorang pemimpin atau citra diri, identitas diri seorang pemimpin yang melekat dalam kepala publik karena prestasi dan kerja kerasnya untuk publik. Dan itu memberikan dampak positif bagi warga masyarakat.
Pada sisi lain, mirek diri seorang pemimpin tidak bisa dibangun secara tiba-tiba dan instan. Perlu waktu, perlu proses. Kepercayaan publik perlu dibangun. Dan tentunya tidak perlu di-setting. Lahir secara alamiah dan mengakar dalam jiwa raga publik. Mengalir dalam tubuh publik. Terlegalitas dalam kepala publik.
Adalah sebuah kefatalan bila mirek diri seorang pemimpin di-branding sebagai Bapak Petani yang mencintai pertanian. Sementara sang pemimpin yang di-branding itu tidak pernah bersentuhan dengan sawah, kebun, dan kawasan pertanian serta tidak memihak serta berpihak kepada kepentingan kaum petani.
Demikian pula ketika seorang pemimpin di-branding sebagai Bapak Olahraga yang mencintai olahraga. Sementara sang pemimpin yang diberikan citra diri tidak pernah tahu dengan kebermajuan olahraga di daerahnya dan tidak pernah memihak untuk kesejahteraan para atlet.
Mirek diri seorang pemimpin melekat dalam kepala publik sesuai dengan kerja dan implikasi positif yang diberikannya kepada publik. Publik akan menobatkan mirek diri dan memberikan branding kepada seorang pemimpin sesuai dengan kerja dan prestasi yang ditorehkannya kepada masyarakat.
Publik tentu paham apa yang telah dikerjakan seorang pemimpin untuk kepentingan khalayak. Publik akan memberikan branding kepada pemimpin sesuai dengan kerja dan prestasi pemimpin itu sendiri. Bukan sebaliknya mem-branding diri, apalagi dengan cara rekayasa lewat publikasi.
Sehebat apa pun mirek diri yang hendak dicitrakan seorang pemimpin kepada publik dan khalayak tidak akan pernah sukses bila tanpa dibarengi prestasi kerja sang pemimpin itu sendiri dan dirasakan masyarakat.
Seistimewa apa pun branding yang hendak dibuat dan ditawarkan kepada publik dan khalayak tidak akan pernah berhasil bila tanpa dibarengi implikasi positif dari seorang pemimpin. Sememesona apa pun narasi yang dibuat dan diksi yang hebat tidak akan pernah melekat dalam kepala publik ketika prestasi kerja pemimpin tidak memberikan implikasi positif bagi khalayak.
Nukleusnya biarkan semua berjalan alamiah dan apa adanya. Biarlah publik yang menilai kerja seorang pemimpin. Biarlah publik yang memberikan citra diri untuk pemimpin yang telah bekerja keras untuk kesejahteraan warganya.
Penulis percaya ketajaman mata hati publik akan memberikan branding dan mirek diri untuk seorang pemimpin tanpa perlu adanya rekayasa. Dan tentunya setara dengan kerja dan prestasi yang ditorehkan oleh seorang pemimpin untuk kepentingan khalayak, untuk kesejahteraan publik secara nyata. Bukan dalam balutan gaung narasi yang kuat dalam pidato dan dimuat media massa.
Biarkan proses pembentukan persepsi publik untuk pemimpin berjalan apa adanya sesuai dengan kemampuan kerja dan prestasi yang ditorehkan pemimpin untuk kepentingan khalayak.
Yo, kita masang mirek diri…
"Pemimpin tidak menciptakan pengikut, mereka menciptakan lebih banyak pemimpin." -
(Tom Peters) (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240613_Rusmin-Sopian-Penulis-yang-Tinggal-di-Toboali.jpg)