Tribunners
Peringatan Hari Kartini: Refleksi, Harapan, Upaya, dan Tantangan Perempuan Indonesia
Hari Kartini merupakan momentum untuk mengenang, merefleksikan, dan merencanakan masa depan.
Oleh: Yusrajar Fikma - PNS Pemda Belitung Timur
“Tahukah engkau apa semboyanku? “Aku Mau!” Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”
KUTIPAN di atas adalah satu dari banyak kumpulan surat yang ditulis oleh seorang anak Bupati Jepara dalam bukunya Door Duistermis tox Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Jika mengingat “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tentulah kita familier dengan orang yang berada di balik kata-kata itu. Ya, ia adalah Raden Ajeng Kartini. Seorang perempuan bangsawan yang berkenan “menginjak tanah” dan memiliki pola pikir yang beberapa langkah sudah lebih maju ketimbang perempuan lain pada zamannya.
Kartini adalah simbol utama emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan pelopor pendidikan bagi perempuan Indonesia lewat Sekolah Kartini yang ia dirikan pada tahun 1903. Oleh karena itu, setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Peringatan ini tidak hanya sekadar seremoni tahunan dengan kebaya dan lomba-lomba bertema tradisional, namun juga momentum reflektif untuk meninjau sejauh mana perjuangan Kartini telah membuahkan hasil, serta bagaimana arah langkah perempuan Indonesia di masa depan.
Kartini hidup dalam era ketika perempuan dipandang terbatas pada ranah domestik. Akses pendidikan bagi perempuan sangat minim, dan ruang untuk berpendapat hampir tidak ada. Namun, melalui pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam surat-surat, Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju kemerdekaan berpikir dan kemandirian perempuan. Semangat inilah yang terus hidup hingga kini, menjadi fondasi bagi kemajuan perempuan Indonesia.
Perempuan Indonesia Hari Ini: Kemajuan yang Patut Diapresiasi
Jika dibandingkan dengan masa Kartini, perempuan Indonesia saat ini telah mengalami kemajuan signifikan. Akses pendidikan terbuka luas, bahkan jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi terus meningkat. Angka partisipasi kasar perguruan tinggi tahun 2025 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa persentase perempuan berkuliah di perguruan tinggi lebih besar daripada laki-laki dengan perbandingan 35,98 dan 29,88. Persentase perempuan yang menamatkan pendidikan tinggi (diploma ke atas) lebih tinggi, terutama di area perkotaan di mana persentasenya mencapai 14,08 persen dibanding laki-laki 12,69 persen. Perempuan saat ini juga telah hadir di berbagai sektor strategis, mulai dari politik, ekonomi, teknologi, hingga kepemimpinan publik.
Di dunia kerja, perempuan tidak lagi hanya ditempatkan pada posisi administratif atau pendukung, namun juga sebagai pemimpin, inovator, dan pengambil keputusan. Banyak perempuan Indonesia yang menjadi pengusaha sukses, akademisi terkemuka, hingga pejabat publik yang berpengaruh. Banyak contoh bisa kita lihat, seperti Ibu Sri Mulyani dan Ibu Retno Marsudi. Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk berkembang makin terbuka.
Namun, kemajuan ini tidak berarti perjuangan telah selesai, justru makin luasnya ruang gerak perempuan menghadirkan tantangan baru yang lebih kompleks dan membutuhkan pendekatan yang lebih strategis.
Harapan untuk Perempuan Indonesia ke Depan
Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kesetaraan adalah proses yang berkelanjutan. Harapan ke depan bagi perempuan Indonesia tidak hanya tentang kesetaraan formal, tetapi juga kesetaraan substantif—di mana perempuan benar-benar memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.
Salah satu harapan utama adalah terciptanya lingkungan yang benar-benar inklusif dan bebas dari diskriminasi. Ini mencakup kesempatan kerja yang adil, upah yang setara, serta perlindungan terhadap hak-hak perempuan di tempat kerja. Selain itu, perempuan diharapkan makin berperan aktif dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga, komunitas, maupun negara.
Di bidang pendidikan, diharapkan tidak ada lagi kesenjangan akses, terutama di daerah terpencil. Setiap anak perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi diri. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi perempuan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian untuk bersuara dan berkontribusi.
Harapan lainnya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesetaraan gender. Perjuangan perempuan bukan hanya tanggung jawab perempuan itu sendiri, namun juga seluruh elemen masyarakat, termasuk laki-laki. Kolaborasi antara keduanya menjadi kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Upaya yang Perlu Dilakukan
Untuk mewujudkan harapan tersebut, diperlukan berbagai upaya yang terencana dan berkelanjutan. Pertama, penguatan pendidikan berbasis kesetaraan gender harus terus dilakukan sejak dini. Kurikulum pendidikan perlu menanamkan nilai-nilai kesetaraan, penghormatan, dan keadilan sehingga generasi muda tumbuh dengan perspektif yang lebih terbuka.
Kedua, kebijakan pemerintah harus makin responsif terhadap kebutuhan perempuan. Ini mencakup perlindungan hukum terhadap kekerasan berbasis gender, dukungan bagi perempuan pekerja, serta kebijakan yang mempermudah perempuan dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi perempuan perlu diperkuat. Banyak perempuan, terutama di daerah pedesaan, masih menghadapi keterbatasan akses terhadap modal, pelatihan, dan pasar. Program pemberdayaan yang tepat sasaran dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri secara ekonomi, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260417_Yusrajar-Fikma.jpg)