Tribunners
Kartini Masa Kini Antara Simbol Seremonial dan Gerakan Substantif
Apakah semangat Kartini hari ini masih hidup sebagai gerakan nyata, atau justru terjebak dalam simbolisme seremonial yang berulang setiap tahun?
Penulis : Muhammad Isnaini
(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kartini.
Nama R.A. Kartini kembali bergema di ruang-ruang kelas, kantor pemerintahan, hingga media sosial.
Anak-anak mengenakan kebaya, lomba-lomba digelar, dan ucapan selamat membanjiri ruang digital.
Namun di balik semarak tersebut, muncul satu pertanyaan reflektif yang terus relevan, apakah semangat Kartini hari ini masih hidup sebagai gerakan nyata, atau justru terjebak dalam simbolisme seremonial yang berulang setiap tahun?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika Indonesia tengah menatap visi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam narasi pembangunan tersebut, perempuan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan aktor strategis yang menentukan arah kemajuan bangsa.
Oleh karena itu, Kartini masa kini harus dimaknai secara lebih mendalam—bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi sebagai energi perubahan yang konkret dan berkelanjutan.
Jika menengok kembali gagasan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, kita menemukan bahwa perjuangannya berakar pada pendidikan, kesadaran kritis, dan keberanian melawan ketidakadilan struktural.
Kartini tidak sedang merayakan simbol, tetapi membangun fondasi perubahan.
Ia memahami bahwa kebebasan perempuan tidak akan lahir dari seremoni, melainkan dari transformasi sistem sosial yang membatasi.
Sayangnya, dalam praktik kekinian, peringatan Kartini sering kali mengalami reduksi makna.
Ia lebih banyak dirayakan dalam bentuk simbolik: kebaya, lomba domestik, dan narasi heroik yang romantis.
Tanpa disadari, praktik ini justru berpotensi mengerdilkan semangat Kartini itu sendiri.
| Pelecehan Seksual di Ruang Privat dan Batas Jangkauan Hukum |
|
|---|
| Panic Buying: Bentuk Waspada atau Ancaman Malaadministrasi? |
|
|---|
| Bangga Kencana dan Ekoteologi Menuju Wajah Baru Bangka Belitung |
|
|---|
| Paradoks Pokémon: Mengubah Euforia Virtual Menjadi Aksi Konservasi Nyata |
|
|---|
| Hari Kartini: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260421-Muhammad-Isnaini-UIN-Raden-Fatah.jpg)