Minggu, 3 Mei 2026

Tribunners

Restorasi Karakter Murid Merajut Sinergi Pedagogis di Hardiknas 2026

Pendidikan karakter harus mampu menerjemahkan disiplin bukan sebagai bentuk intimidasi, tetapi juga sebagai bentuk kasih sayang

Tayang:
Editor: suhendri
IST/Dok. Andy Muhtadin
Andy Muhtadin - Ketua Biro Pembinaan Kerohanian PGRI Kabupaten Belitung Timur 

Oleh: Andy Muhtadin - Ketua Biro Pembinaan Kerohanian PGRI Kabupaten Belitung Timur

MEI bukan sekadar deretan angka di kalender bagi bangsa Indonesia. Di dalamnya bersemayam roh Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan, yang meletakkan dasar bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses transfer informasi (transfer of knowledge), namun juga proses pembentukan manusia yang seutuhnya (transfer of values).

Di Kabupaten Belitung Timur sendiri, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 ini menemukan momentum uniknya. Bukan lagi sekadar seremonial baris-berbaris, tetapi juga sebuah refleksi mendalam mengenai "karakter" itu. Sebuah entitas yang sering didiskusikan namun makin menantang untuk diwujudkan di tengah disrupsi zaman yang kian dinamis ini.

Karakter sebagai fondasi utama sebuah peradaban 

Secara etimologis, kata karakter sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni charassein, yang memiliki arti mengukir. Mengukir karakter berarti sebuah proses yang tidak instan begitu saja atau sim salabim jadi. Ia membutuhkan ketelatenan, waktu, dan instrumen yang tepat. Dalam literatur pendidikan modern, karakter sering juga dikategorikan sebagai non-cognitive skills yang justru sebagai penentu keberhasilan seseorang di masa depannya melebihi kecerdasan intelektual murni yang ada pada dirinya sendiri.

Thomas Lickona, dikenal secara global sebagai Bapak Pendidikan Karakter modern, lewat bukunya yang legendaris berjudul Educating for Character (1991). Pionir pendidikan karakter ini menekankan pentingnya ada tiga komponen integratif. Pertama, pengetahuan moral. Kedua, perasaan moral (moral feeling). Ketiga,  tindakan moral (moral action). 

Persoalan sosiologis yang kita hadapi hari ini adalah terjadinya kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan itu sendiri. Banyak anak didik kita secara kognitif memahami bahwa perundungan (bullying) atau ketidakjujuran itu salah, namun mereka tetap melakukannya karena "perasaan moral" dan "tindakan moral" mereka ini tidak terasah melalui habituasi atau pembiasaan yang konsisten di lingkungan sekolah maupun rumah mereka.

Visi pemda dan komitmen Bupati Belitung Timur 

Dalam peta jalan pendidikan di tingkat lokal, kita patut memberikan apresiasi tinggi terhadap visi Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Bupati Belitung Timur secara konsisten menempatkan pembangunan sumber daya manusia berbasis karakter sebagai pilar utama pembangunan daerah. Kebijakan bupati tidak hanya berhenti pada jargon politik, namun juga termanifestasi dalam dukungan nyata terhadap ekosistem pendidikan yang sehat.

Melalui berbagai program afirmatif, pemerintah daerah terus mendorong agar sekolah-sekolah di Belitung Timur menjadi laboratorium kehidupan yang sesungguhnya. Fokus Bupati Bumi Laskar Pelangi pada penanaman nilai-nilai integritas sejak dini memberikan sinyal kuat bagi para pendidik bahwa mereka memiliki mitra strategis di tingkat pembuat kebijakan. Kehadiran pemerintah daerah dalam mengawal isu karakter ini menjadi jaminan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan teknis administrasi, tetapi juga urusan masa depan peradaban daerah.

PGRI garda terdepan penumbuhan karakter 

Gayung bersambut melalui Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belitung Timur menyambut visi besar tersebut dengan langkah-langkah metodis. PGRI memahami bahwa kurikulum sehebat apa pun tidak akan bermakna jika tidak dihidupkan oleh guru yang memiliki kedalaman karakter. PGRI memandang bahwa penumbuhan karakter tidak bisa hanya diajarkan melalui silabus yang kaku di dalam kelas selama beberapa jam pelajaran seminggu, melainkan perlu diteladankan/dicontohkan.

PGRI Belitung Timur secara aktif menginisiasi gerakan penumbuhan, penanaman, dan pembiasaan karakter yang holistik. Para guru didorong untuk tidak sekadar menjadi pengajar, namun jugamenjadi narator nilai-nilai kebaikan.

PGRI menegaskan bahwa sekolah adalah garis pertahanan terakhir dalam menjaga moralitas bangsa. Dengan komitmen yang solid, organisasi profesi ini memastikan bahwa setiap ruang kelas di Belitung Timur menjadi tempat di mana nilai disiplin, kejujuran, dan empati dipraktikkan secara kolektif, bukan sekadar dihafalkan untuk keperluan ujian semata.

Dilema disiplin dan kepemimpinan kita belajar dari tokoh bangsa 

Kehadiran narasumber seperti Brigjen (Pol) Murry Mirranda akan memberikan perspektif kepemimpinan yang sangat relevan. Sebagai putra daerah yang sukses meniti karier di kepolisian dengan rekam jejak kedisiplinan yang tinggi, beliau menjadi bukti empiris bahwa disiplin adalah fondasi kepemimpinan. Namun, di era sekarang, muncul kegamangan di kalangan pendidik untuk menerapkan disiplin yang tegas akibat bayang-bayang kriminalisasi dan benturan persepsi hak asasi.

Di sinilah sinergi antara aparat, pemerintah, dan sekolah menjadi krusial. Pendidikan karakter harus mampu menerjemahkan disiplin bukan sebagai bentuk intimidasi, tetapi juga sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab profesional. Disiplin adalah cara kita menghargai martabat diri sendiri dan orang lain. Kepemimpinan yang kokoh lahir dari rahim disiplin yang konsisten dan inilah yang ingin diwariskan kepada murid-murid di seluruh penjuru Belitung Timur.

Inovasi dan prestasi refleksi dari sekolah unggulan

Belajar dari pengalaman sekolah berprestasi nasional seperti SD Muhammadiyah Condongcatur dan SMAN 1 Manggar, kita melihat bahwa karakter adalah motor penggerak prestasi. Sekolah-sekolah ini membuktikan bahwa capaian akademik tinggi hanyalah "produk sampingan" dari budaya kerja keras, kemandirian dan kejujuran yang sudah mendarah daging.

SMAN 1 Manggar, misalnya, menunjukkan bahwa budaya kompetisi yang sehat hanya bisa tumbuh di atas fondasi integritas. Tanpa karakter, kompetisi akan berubah menjadi kecurangan. Tanpa ketangguhan (resilience), kegagalan akan berubah menjadi keputusasaan. Kesuksesan sekolah-sekolah ini mengirimkan pesan penting bagi seluruh pendidik di Belitung Timur: fokuslah pada proses pembentukan jiwa, maka prestasi akan mengikuti dengan sendirinya.

Tantangan era digital kecerdasan buatan dan krisis etika 

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved