Tribunnews
MBG-nya Guru
Sesungguhnya seorang guru juga memerlukan MBG dalam bentuk lain agar ia bisa dibilang sukses dalam mengajar dan mendidik siswa
Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
PROGRAM andalan pemerintah untuk memperbaiki gizi anak negeri, program Makan Bergizi Gratis (MBG), makin hari terus dilakukan perbaikan, baik dalam pelaksanaannya maupun sasarannya. Terakhir, pemerintah sudah menetapkan bahwa sasaran penerima MBG akan disortir. Sasaran terbaru akan ditujukan hanya untuk anak-anak tertentu saja. Namun tujuan awalnya tetap sama, yaitu memberikan gizi kepada anak-anak Indonesia yang benar-benar membutuhkan. Terlepas dari banyaknya permasalahan terkait MBG, pemerintah masih tetap akan melaksanakan program prioritasnya tersebut.
Seperti yang kita ketahui bahwa MBG selama ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa saja. Di sebagian wilayah Indonesia sudah ada guru yang juga menerima MBG. MBG yang selama ini diterima guru berbentuk makanan yang ditujukan untuk tubuh (jasmani).
Tetapi sesungguhnya seorang guru juga memerlukan MBG dalam bentuk lain agar ia bisa dibilang sukses dalam mengajar dan mendidik siswa. Lalu apa MBG yang lain itu? MBG tersebut adalah sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guu, yaitu matang, berani, dan gezag.
1. Matang
Menurut Muslih Udin dalam tulisannya bahwa seorang guru setidaknya harus memiliki kematangan moral, kematangan emosional, dan kematangan spiritual. Kematangan moral adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menjadikan nilai-nilai luhur sebagai pedoman dalam bertindak.
Dalam konteks profesi guru, kematangan moral tercermin dari integritas, keadilan, dan konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai etika. Guru yang matang secara moral akan menghormati setiap siswa tanpa memandang latar belakang mereka, tidak menyalahgunakan kekuasaan, dan selalu menjunjung tinggi kejujuran. Ia tidak hanya mengajar tentang nilai, tetapi hidup dalam nilai-nilai itu sendiri.
Selanjutnya, kematangan emosional menjadi kunci dalam menjaga kestabilan hubungan antara guru dan siswa. Kelas bukanlah ruang yang steril dari emosi. Di sana terjadi konflik, kesalahpahaman, bahkan ketegangan.
Guru yang matang secara emosional tidak mudah terpancing amarah, tidak membalas perilaku buruk dengan sikap yang menyakitkan, dan tetap bersikap bijak dalam tekanan. Ia mampu membaca suasana hati siswa, mengapresiasi perbedaan, dan menciptakan ruang aman bagi setiap peserta didik untuk tumbuh. Ketika emosi dikelola dengan baik, maka pembelajaran akan terasa lebih manusiawi dan menyentuh hati siswa.
Kemudian kematangan spiritual, di sisi lain, memberi kedalaman dalam praktik mengajar. Guru yang memiliki kesadaran spiritual tidak sekadar bekerja untuk menggugurkan kewajiban, tetapi menyadari bahwa setiap interaksi dengan siswa adalah bagian dari proses membentuk manusia. Ia mengajar dengan hati, menanamkan harapan, dan menghadirkan makna dalam setiap materi pelajaran. Kematangan spiritual ini melahirkan guru-guru yang ikhlas, penuh kasih, dan tidak mudah patah semangat. Ia memahami bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, namun juga proses memanusiakan manusia.
Ketika ketiga aspek kematangan itu menyatu dalam diri seorang guru, maka pengaruhnya akan sangat terasa dalam proses pendidikan. Guru menjadi lebih inspiratif, kelas menjadi lebih hidup, dan siswa merasa lebih dihargai. Pembelajaran tidak lagi hanya tentang buku dan angka, tetapi juga tentang kepribadian dan nilai hidup.
Guru yang matang akan membangun iklim belajar yang penuh kehangatan, rasa hormat, dan kedisiplinan yang membebaskan, bukan menekan. Siswa yang berada dalam lingkungan seperti ini tumbuh dengan rasa percaya diri, tangguh menghadapi tantangan, dan memiliki pandangan hidup yang sehat.
2. Berani
Dalam kamus besar bahasa Indonesia berani diartikan mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, tidak takut atau gentar dalam mempertahankan kebenaran.
Menurut penulis, berani bagi seorang guru bisa juga mengadopsi langsung pengertian di atas. Artinya, seorang guru jangan mudah menyerah atau putus asa terhadap rintangan yang dihadapi, karena sebagai seorang pendidik, guru tentunya tidak selalu menghadapi situasi yang menyenangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250912_Syamsul-Bahri.jpg)