Rabu, 6 Mei 2026

Tribunnews

MBG-nya Guru

Sesungguhnya seorang guru juga memerlukan MBG dalam bentuk lain agar ia bisa dibilang sukses dalam mengajar dan mendidik siswa

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Syamsul Bahri
Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali 

Terkadang ada hambatan ataupun kesulitan ketika guru melakukan proses belajar mengajar. Hambatan atau kesulitan itu bisa datang dari dalam diri guru sendiri, misalnya timbul rasa malas ketika hendak mengajar atau mungkin dari lingkungan sekitar. Di sinilah sifat berani mengambil keputusan sangat dibutuhkan oleh seorang guru.

Berani di sini juga bisa diartikan bahwa seorang guru harus berani mengambil suatu keputusan dalam menginovasi semua yang ada pada dirinya. Misalnya, ketika seorang guru merasa belum berhasil mengajarkan ilmu kepada siswanya, maka ia harus berani mereformasi semua yang berhubungan dengan pengajaran, baik itu sistem pembelajaran, media pembelajaran ataupun metode pembelajarannya.

Berani di sini bukan hanya untuk personal guru saja, tetapi guru juga harus mampu menimbulkan rasa berani siswanya. Guru harus mampu menciptakan keberanian siswa, tentu dalam hal yang positif.

Menurut Derry Nodyanto, guru berani itu adalah yang memiliki behaviour, responsibility, dan innovation atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia guru berani itu memiliki perilaku, tanggung jawab, dan inovasi. Lebih lanjut ia menjabarkan bahwa guru sebagai pendidik harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang berkarakter dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, keluarga, maupun dalam masyarakat. Akan menjadi sia-sia apabila guru melarang pendidikan karakter kepada anak didik, namun perilaku berkarakter belum menjadi bagian dari hidup seorang guru. 

Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab. Tentu tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang guru harus dimaknai secara holistik, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan, agama, dan juga negaranya. Lebih khusus lagi tanggung jawab kepada anak didik sebagai konsumen yang menerima jasa-jasa dari seorang guru. Oleh karena itu merupakan kesalahan besar jika tanggung jawab seorang guru hanya sekadar “asal memenuhi tugas”. 

Kemudian adanya tuntutan zaman membuat guru saat ini harus bertransformasi menjadi insan pembelajar yang proaktif. Dan hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan inovasi. Inovasi yang dimaksud di sini bukan berarti guru harus menciptakan/menghasilkan produk baru dalam pembelajaran, akan tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan konten yang sedang dipelajari oleh anak didik sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya.

3. Gezag (kewibawaan)

Di dalam Tim Prima Pera, gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “berkata”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu. 

Seorang guru harus mempunyai sifat gezag atau kewibawaan, baik di lingkungan tempat dia mengajar ataupun di lingkungan masyarakat. Kewibawaan guru hanya dimiliki oleh mereka yang dewasa. Yang dimaksud dengan kedewasaan di sini adalah kedewasaan pikiran. Kedewasaan pikiran hanya akan tercapai oleh individu yang telah melakukan proses atau dialektika dengan realitas sosial yang pernah dilaluinya. Kewibawaan seorang guru akan membuat ia disegani oleh siswanya. Dengan kewibawaan itu, seorang guru akan mampu mengatasi berbagai permasalahan siswanya. 

Menurut Munadi S. Ali, ada tiga sendi kewibawaan, yaitu pertama kepercayaan diri, maksudnya guru harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa siswa dapat mengembangkan dirinya sehingga dalam proses pembelajaran guru berfungsi sebagai pembangkit potensi siswa.

Kedua, kasih sayang yang mengandung makna, yaitu penyerahan diri kepada yang disayangi/siswa dan melakukan proses pembebasan terhadap yang disayangi dalam batasan-batasan yang tidak merugikan siswa dan kesediaan untuk berkorban dalam bentuk konkretnya berupa pengabdian dalam kerja.  

Ketiga, kemampuan (kompetensi) guru dapat dikembangkan melalui beberapa cara, antara lain pengkajian terhadap ilmu pengetahuan kependidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja, senantiasa mengikuti alur perkembangan ilmu pengetahuan, agar guru mengajar sambil belajar hal-hal yang baru sehingga guru tidak hanya seperti burung beo yang pengetahuannya tidak pernah bertambah.

Semoga dengan memiliki MBG yang disebutkan di atas, seorang guru benar menjadi mumpuni, baik dari segi jasmani dan rohaninya. (*)

 

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved