Selasa, 12 Mei 2026

Pemburu Madu Hutan Tradisional Bangka

 Madu Pelawan Khas Bangka jadi Primadona Dilirik Pasar Nasional hingga Internasional

Madu langka dengan cita rasa pahit yang khas ini tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga dikenal luas hingga berbagai daerah

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Erlangga | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Erlangga
MADU PELAWAN - Widi Prayogo, pemilik Juragan Madu Bangka, menunjukkan salah satu produk madu hutan premium yang dipasarkan hingga Internasional,tokonya di Jl. Masjid Jamik, Kecamatan Rangkui kota Pangkalpinang,Bangka Senin (11/5/2026) 

BANGKAPOS.COM,BANGKA — Di antara beragam jenis madu yang dihasilkan dari hutan Bangka Belitung, madu pelawan menjadi primadona.

Madu langka dengan cita rasa pahit yang khas ini tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga dikenal luas hingga berbagai daerah di Indonesia Hingga madu Trigona dinilai memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional.

Juragan Madu Bangka menjelaskan madu pelawan dipasarkan sebagai produk premium khas Bangka. Pemilik usaha tersebut, Widi Prayogo, mengatakan madu pelawan merupakan identitas daerah yang memiliki keunikan tersendiri.

“Madu pelawan ini sangat terkenal. Kalau orang bicara madu pelawan, orang langsung ingat Bangka,” kata Widi kepada Bangkapos.com Senin(11/5/2026).

Menurutnya, madu pelawan dihasilkan dari nektar bunga pohon pelawan, tanaman endemik yang banyak tumbuh di Pulau Bangka. Madu ini diproduksi oleh lebah liar yang bersarang di hutan.

Ciri khas utama madu pelawan terletak pada rasanya. Saat pertama kali dikonsumsi, madu ini memberikan sensasi pahit yang cukup kuat.

Namun setelah diminum air putih, rasa pahit itu akan hilang dan berubah menjadi sensasi manis yang lembut di tenggorokan.

“Rasanya pahit di awal, tapi setelah minum air putih pahitnya hilang dan terasa manis. Itu yang membuat madu pelawan berbeda dengan madu lainnya,” ujar Widi.

Selain rasanya yang unik, madu pelawan juga tergolong sangat langka. Pohon pelawan hanya berbunga sekitar dua kali dalam setahun, dengan masa mekar yang relatif singkat.

“Bunganya hanya bertahan sekitar dua minggu. Kalau cuaca tidak mendukung, bunga bisa gugur sebelum sempat diambil nektarnya oleh lebah,” katanya.

Karena faktor tersebut, produksi madu pelawan tidak selalu tersedia dalam jumlah besar. Bahkan dalam beberapa musim, hasil panen bisa sangat terbatas.

“Setahun belum tentu panennya melimpah. Semua tergantung kondisi cuaca dan keberhasilan lebah mengambil nektar,” jelasnya.

Kelangkaan itu membuat harga madu pelawan lebih tinggi dibandingkan madu biasa. Di Juragan Madu Bangka, produk madu liar dijual mulai Rp84.000 untuk kemasan terkecil, sementara madu pelawan umumnya dibanderol lebih tinggi karena stoknya terbatas dan kualitasnya sangat eksklusif.

“Madu pelawan termasuk produk premium karena jumlahnya sedikit dan permintaannya cukup tinggi rata rata di harga Rp600 ke atas,” kata Widi.

Permintaan madu pelawan datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Balikpapan, Sulawesi, hingga sejumlah kota lain di Indonesia. Banyak pelanggan yang melakukan pembelian secara rutin.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved