Berita Pangkalpinang
Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang
Bangkakota, kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat pembuatan kapal tradisional itu kini nyaris sunyi terkikis oleh zaman
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
“Tidak terjadinya regenerasi pengetahuan teknologi perkapalan secara formal edukatif juga menjadi penyebab utama,” ujarnya.
Pengetahuan membuat kapal selama ini diwariskan secara turun-temurun tanpa pendidikan formal. Para pengrajin lama mengandalkan pengalaman, intuisi, dan ingatan dalam menentukan ukuran, keseimbangan, hingga konstruksi kapal tanpa gambar teknik modern.
Ketika generasi tua mulai hilang, ilmu tersebut ikut terancam punah.
Bagi Bangka Belitung, hilangnya pengrajin kapal tradisional bukan hanya persoalan ekonomi masyarakat pesisir. Lebih jauh, kondisi itu dinilai sebagai kehilangan besar terhadap sistem pengetahuan budaya maritim yang selama ratusan tahun membentuk identitas daerah.
Menurut Elvian, Bangka Belitung sejak lama dikenal sebagai “The Favourite Commercial Coast” atau kawasan perdagangan favorit di sisi barat Nusantara. Wilayah ini menjadi penghubung penting jalur rempah dunia dan perdagangan antarpulau.
Karena itu, lenyapnya teknologi perkapalan tradisional berarti hilangnya salah satu penanda penting sejarah maritim Bangka Belitung.
“Yang paling besar hilang adalah warisan budaya tak benda berupa sistem pengetahuan teknologi perkapalan tradisional,” katanya.
Kondisi tersebut juga berdampak pada perubahan sosial masyarakat pesisir. Jika dahulu banyak warga menggantungkan hidup dari industri pembuatan kapal, kini profesi itu nyaris tidak lagi ditemukan. Sebagian beralih menjadi nelayan biasa, pekerja tambang, atau meninggalkan sektor maritim sepenuhnya.
Meski berada di ujung kepunahan, Elvian menilai masih ada peluang untuk menyelamatkan pengetahuan perkapalan tradisional Bangkakota. Namun langkah itu harus dilakukan secara serius dan terstruktur.
Ia mendorong adanya upaya progresif dan preservatif melalui pendidikan formal, salah satunya dengan membuka sekolah kejuruan berbasis teknologi perkapalan tradisional.
Selain itu, dokumentasi terhadap teknik pembuatan kapal, istilah-istilah lokal, hingga filosofi maritim masyarakat pesisir juga dinilai penting dilakukan sebelum para pengrajin tua benar-benar hilang.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)
| Siapkan Anggaran Rp33 Miliar, Pemprov Bangka Belitung Pastikan akan Membayar Gaji ke-13 ASN dan PPPK |
|
|---|
| Madu Pelawan Khas Bangka jadi Primadona Dilirik Pasar Nasional hingga Internasional |
|
|---|
| Robi Syianturi Kembali Pecahkan Rekor Nasional di Ajang Copenhagen Marathon 2026 |
|
|---|
| Anggota Komisi IV DPRD Babel Buat Perda Perlindungan Perempuan Gandeng Komnas Perempuan |
|
|---|
| Disiplin dalam Berlatih, Atlet FTPC Cetak Atlet Berprestasi dan Bermental Kuat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Sejarawan-Bangka-Belitung-Dato-Akhmad-Elvian.jpg)