Berita Pangkalpinang
Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang
Bangkakota, kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat pembuatan kapal tradisional itu kini nyaris sunyi terkikis oleh zaman
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
BANGKAPOS.COM, BANGKA— Di pesisir barat Pulau Bangka, tepatnya di Bangkakota, Kabupaten Bangka Selatan, suara ketukan kayu dan aroma serbuk papan pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.
Kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat pembuatan kapal tradisional itu kini nyaris sunyi. Bengkel-bengkel kapal perlahan menghilang, para pengrajin menua tanpa penerus, sementara jejak kejayaan maritim Bangkakota mulai terkikis zaman.
Yang lenyap dari Bangkakota hari ini sesungguhnya bukan sekadar profesi pengrajin kapal. Yang perlahan menghilang adalah jejak panjang peradaban maritim Bangka Belitung.
Sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, menegaskan bahwa Bangkakota bukan sekadar kampung pesisir biasa. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat peradaban kuno di Pulau Bangka yang memiliki peran penting dalam jalur perdagangan Nusantara sejak abad ke-17.
“Bangkakota didirikan setelah jatuhnya Malaka ke tangan Belanda tahun 1641. Kawasan ini menjadi kota pertahanan sekaligus pelabuhan penting di pesisir barat Bangka,” ujar Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, posisi Bangkakota yang berada di muara sungai menjadikannya titik strategis penghubung perdagangan regional. Berbagai hasil bumi dan hasil hutan dari pedalaman Bangka diangkut melalui jalur sungai menggunakan perahu kecil menuju Bangkakota sebelum dibawa menggunakan kapal kayu berukuran besar ke pelabuhan utama seperti Palembang dan Batavia.
Komoditas yang diperdagangkan kala itu sangat beragam, mulai dari lada atau sahang, rotan, damar, madu, gaharu, hingga hasil tambang timah dan besi. Aktivitas perdagangan tersebut melahirkan tradisi maritim yang kuat, termasuk teknologi pembuatan kapal kayu yang berkembang di kawasan itu.
Dalam catatan sejarah, Bangkakota bukan hanya dikenal sebagai pelabuhan dagang, tetapi juga pusat teknologi perkapalan tradisional. Kapal-kapal besar bertiang layar diproduksi untuk kebutuhan perdagangan antarpulau, sementara perahu-perahu kecil dibuat untuk transportasi sungai di dalam Pulau Bangka.
Elvian menjelaskan, kemampuan masyarakat Bangkakota dalam membuat kapal tidak lahir begitu saja. Teknologi itu terbentuk dari pertemuan budaya maritim sejumlah kerajaan besar yang pernah berpengaruh di kawasan tersebut, seperti Johor, Minangkabau, Banten, Palembang Darussalam, hingga Makassar.
“Keahlian pembuatan kapal diperoleh dari pertemuan antar kerajaan maritim yang pernah berkuasa di Bangkakota,” katanya.
Catatan VOC dalam Dagh-Register tertanggal 13 Februari 1682 bahkan menyebut Pangeran Arya, putra Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Palembang, mendirikan benteng pertahanan di Bangkakota dengan dukungan pasukan Makassar. Dari kawasan ini pula diproduksi kapal perang jenis penjajab dan schooner Bangka untuk kepentingan pertahanan dan perdagangan.
Bagi masyarakat pesisir Bangka kala itu, kapal bukan sekadar alat transportasi. Kapal adalah simbol kekuatan ekonomi, identitas budaya, sekaligus penanda kejayaan maritim Pulau Bangka di jalur perdagangan dunia.
Namun kejayaan tersebut kini tinggal cerita. Bengkel-bengkel pembuatan kapal kayu yang dahulu hidup perlahan tutup. Generasi muda tak lagi tertarik meneruskan profesi pengrajin kapal tradisional.
Elvian menilai ada sejumlah faktor yang menyebabkan lenyapnya tradisi pembuatan kapal di Bangkakota. Salah satunya adalah semakin sulit memperoleh kayu berkualitas sebagai bahan baku utama.
Harga kayu yang terus meningkat membuat biaya produksi kapal tradisional menjadi mahal. Di sisi lain, kapal berbahan fiber dinilai lebih praktis, cepat diproduksi, dan memiliki biaya perawatan lebih rendah.
| Siapkan Anggaran Rp33 Miliar, Pemprov Bangka Belitung Pastikan akan Membayar Gaji ke-13 ASN dan PPPK |
|
|---|
| Madu Pelawan Khas Bangka jadi Primadona Dilirik Pasar Nasional hingga Internasional |
|
|---|
| Robi Syianturi Kembali Pecahkan Rekor Nasional di Ajang Copenhagen Marathon 2026 |
|
|---|
| Anggota Komisi IV DPRD Babel Buat Perda Perlindungan Perempuan Gandeng Komnas Perempuan |
|
|---|
| Disiplin dalam Berlatih, Atlet FTPC Cetak Atlet Berprestasi dan Bermental Kuat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Sejarawan-Bangka-Belitung-Dato-Akhmad-Elvian.jpg)