Sabtu, 16 Mei 2026

Tribunners

Kritik Sosial dan Panggilan Spiritual: Membaca Buk Geriul Karya Rusmin Sopian

Buk Geriul adalah potret kehidupan masyarakat yang ditulis dengan kejujuran, kedekatan emosional, dan kepedulian sosial.

Tayang:
Editor: suhendri
(Bangkapos/Arya Bima Mahendra)
Rapi, S.Pd. – Plt Kepala SD Negeri 4 Lepar, Penggiat Literasi Basel 

Oleh:  Rapi, S.Pd. – Plt Kepala SD Negeri 4 Lepar, Penggiat Literasi Basel

PENGGIAT literasi sekaligus penulis senior di Bangka Selatan, Rusmin Sopian, kembali menerbitkan karya buku terbarunya. Buku ini diberi judul Buk Geriul. Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang pernah diterbitkan di media-media lokal hingga nasional.

Judul Buk Geriul sendiri diambil dari salah satu cerpen dalam buku ini. Istilah tersebut menggambarkan seseorang yang tidak selaras antara ucapan dan tindakannya. Namun ketika membaca keseluruhan isi buku, pembaca akan menyadari bahwa makna “Buk Geriul” sesungguhnya meluas ke berbagai sisi kehidupan manusia. Ada kepura-puraan, ada pengkhianatan, ada harapan, dan ada manusia-manusia biasa yang berusaha mencari nilai-nilai kehidupan.

Buk Geriul menghadirkan pengalaman membaca yang dekat dengan kehidupan bermasyarakat. Cerita-cerita di dalamnya tidak bergerak di ruang yang jauh atau mewah, melainkan tumbuh dari denyut kehidupan sehari-hari. Kampung, keluarga, percakapan warga, keresahan sosial, hingga spiritualitas.

Sebagai karya sastra, buku yang diterbitkan oleh Galuh Patria ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan masyarakat kampung, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan hati nuraninya sendiri. Pembaca diajak memahami bahwa kerusakan moral sering kali bermula dari hilangnya kejujuran terhadap diri sendiri

Cerpen-cerpen dalam buku ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat kecil memiliki persoalan yang kompleks. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan manusia-manusia yang menyimpan harapan, luka, kemarahan, dan impian. Penulis berhasil menghadirkan mereka secara manusiawi.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan nuansa religius yang cukup kuat. Hal ini terlihat dari beberapa judul cerpen yang mengankat tema spiritualitas seperti,  Mendadak ke Masjid, Lelaki Pencari Surga, Ambruknya Langgar Kampung Kami, serta Ada yang Menangis Sepanjang Malam di Ujung Ramdhan.

Rusmin Sopian tidak menghadirkan agama sebagai khotbah panjang, melainkan melalui kegelisahan manusia, perilaku sosial, dan pergulatan batin tokoh-tokohnya. Dalam cerpen “Lelaki Pencari Surga” misalnya, kisah dalam cepren ini  menghadirkan renungan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Judulnya sendiri sudah menghadirkan pertanyaan besar. Apakah manusia benar-benar mencari surga karena cinta kepada Allah, atau hanya karena takut terhadap hukuman? Cerita ini memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual manusia sering kali penuh keraguan, luka, dan pencarian makna hidup.

Saya melihat cerpen ini mengandung pesan bahwa agama bukan hanya ritual, namun juga perjalanan batin untuk menjadi manusia yang lebih baik. Surga dalam cerita tersebut terasa bukan sekadar tempat, tetapi lambang harapan dan ketenangan jiwa yang dicari manusia sepanjang hidupnya.

Sebagai guru, saya melihat cerpen-cerpen tersebut memiliki nilai refleksi yang sangat kuat. Rusmin Sopian berhasil menyampaikan pesan agama dengan pendekatan sastra yang lembut dan manusiawi. Pembaca tidak merasa sedang diceramahi, tetapi diajak merenungkan dirinya sendiri.

Cerita-cerita religius dalam buku ini juga menunjukkan bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk tokoh yang suci dan sempurna. Justru agama hadir melalui manusia-manusia biasa yang sedang berjuang melawan kelemahan dirinya. Kesombongan, kepura-puraan, ketakutan, dan kehilangan arah hidup.

Di sinilah kekuatan sastra bekerja. Ia tidak memaksa pembaca menerima nasihat, tetapi membiarkan pembaca menemukan maknanya sendiri melalui pengalaman tokoh-tokohnya. Karena itu, kumpulan cerpen Buk Geriul terasa relevan dibaca oleh masyarakat hari ini, terutama generasi muda yang hidup di tengah perubahan sosial dan krisis keteladanan.

Dalam dunia pendidikan, buku seperti ini penting untuk diapresiasi karena sastra dapat menjadi media pembentukan karakter. Cerpen mampu mengajarkan empati, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dengan cara yang lebih menyentuh daripada ceramah. Pembaca tidak merasa digurui, tetapi diajak memahami bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi moral.

Saya percaya buku kumpulan cerpen Buk Geriul layak dibaca oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda. Di tengah zaman yang makin dipenuhi kegaduhan kata-kata, buku ini hadir membawa suara sederhana tentang pentingnya menjadi manusia yang jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

Buk Geriul bukan hanya kumpulan cerita pendek. Ia adalah potret kehidupan masyarakat yang ditulis dengan kejujuran, kedekatan emosional, dan kepedulian sosial. Buku ini mengingatkan kita bahwa sastra yang baik bukanlah sastra yang jauh dari manusia, melainkan sastra yang mampu membuat manusia bercermin kepada dirinya sendiri.

Selamat membaca Buk Geriul. Dan semoga kita tidak termasuk golongan yang disapa "Buk Geriul" di hadapan-Nya kelak. Wallahu a'lam. (*)

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved