Tribunners
Hari Buku Nasional 2026: Merayakan Kembali Cinta kepada Buku
Melalui perayaan Hari Buku Nasional diharapkan dapat tercipta budaya literasi yang lebih kuat.
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
"Assalamualaikum Pak. Ade kamus dari Kantor Bahasa Babel. Kelak ku anter." Demikian bunyi pesan WhatsApp darin Pamong Budaya Bangka Selatan, Dwikki Ogi Dhaswara, yang masuk ke handphone penulis, Minggu (17/5/2026) pagi.
Buku kamus dari Kantor Badan Bahasa yang disampaikan Dwikki Ogi Dhaswara seolah menjadi kado istimewa untuk penulis pada perayaan Hari Buku Nasional tahun 2026.
Hari Buku Nasional adalah salah satu hari penting di Indonesia yang dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 17 Mei. Pemilihan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional merujuk pada momen bersejarah yakni berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.
Melalui perayaan Hari Buku Nasional diharapkan dapat tercipta budaya literasi yang lebih kuat sehingga dapat membawa dampak positif dalam pembangunan intelektual, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Tokoh yang menginisiasi peringatan Hari Buku Nasional adalah Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar, yang saat itu mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan. Inisiatif ini muncul karena kesadaran akan rendahnya minat membaca di masyarakat Indonesia.
Buku adalah wahana di mana pemikiran dituangkan, di mana gagasan diabadikan, serta di mana rasa ditumpahkan. Buku adalah storage pemikiran dan gagasan bagi penulis sekaligus wahana di mana pembaca bisa mengaksesnya.
Buku bukan hanya menyimpan informasi, tetapi juga menjadi penghubung antargenerasi, menyampaikan ide, nilai, dan pengetahuan dari satu zaman ke zaman lainnya. Inilah yang menjadikan buku sebagai warisan berharga yang selalu layak untuk dirayakan dengan gembira dan dilestarikan.
Ini yang menjadi paradigma berpikir penggerak literasi di Bangka Selatan untuk buku sebagai warisan berharga yang selalu layak untuk dirayakan dengan gembira. Tak heran bila saat merayakan hari jadi Kabupaten Bangka Selatan selalu ada kegiatan peluncuran buku karya penulis Bangka Selatan dan sudah menjadi tradisi dalam 5 tahun terakhir.
Bangka Selatan boleh berbangga. Puluhan buku dilahirkan dari Sebagin hingga Pulau Pongok dari beragam profesi, mulai dari pelajar SMP, birokrat, tenaga pendidik, hingga penggiat literasi. Karya mereka berbagai genre, ada fiksi, cerita rakyat, ada pula nonfiksi. Memberikan ornamen baru untuk dunia perbukuan Indonesia.
Di tengah teknologi yang terus membawa pergeseran dalam cara kita mengakses informasi, buku fisik yang dahulu menjadi pilihan utama, kini bersaing dengan format digital yang lebih fleksibel. Pada era digital yang serba cepat, kebiasaan membaca mengalami perubahan besar.
E-book, artikel daring, dan media sosial kini menjadi alternatif utama, menawarkan kenyamanan dalam genggaman. Dengan begitu banyak kemudahan akses yang ditawarkan teknologi, buku fisik seolah menghadapi tantangan eksistensinya. Di tengah tren digitalisasi yang terus berkembang, buku fisik tetap memiliki tempatnya, tetap memiliki pembacanya, tetap memiliki penggemarnya tersendiri.
Harus kita akui ke depan tantangan bukan hanya soal mempertahankan tradisi membaca, tetapi bagaimana bisa menggabungkan dunia digital dan fisik secara harmonis agar literasi tetap berkembang, berkemajuan untuk kemajuan bangsa ini menantang kehidupan.
Pada momentum Hari Buku Nasional yang jatuh hari ini, Minggu 17 Mei 2026, ada baiknya dan sungguh sangat baik bagi kita untuk melakukan kontemplasi diri, melakukan otokritik terhadap diri sendiri. Seberapa banyakkah kita telah mengakrabi buku? Kemudian menganggapnya sebagai teman bincang yang menyuntikkan ide-ide segar? Yang membuka wawasan seluas horizon dunia?
Atau, jangan-jangan, buku kita masih terserak lusuh di dalam lemari. Sudah tidak pernah lagi mendapat waktu kunjungan dari kita. Kita malah menjauhinya. Lebih dekat dengan jari-jari.
Selamat Hari Buku Nasional 2026. Ayo nembaca buku.
"Tunjukkan pada saya keluarga pembaca, dan saya akan menunjukkan kepada Anda orang-orang yang menggerakkan dunia,” (Napoléon Bonaparte). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251113_Rusmin-Sopian.jpg)